Gara-gara ini Petani di Lereng Merapi Gemar Membaca Buku

0
535
MERAPI : Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) terletak di Dusun Gemer Desa Ngargomulyo Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang (8/11)--(Foto--bsn)
MERAPI : Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) terletak di Dusun Gemer Desa Ngargomulyo Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang (8/11)--(Foto--bsn)

BNews—DUKUN—Sebuah rumah baca di lereng Merapi ini banyak menjadi inspiratif rumah baca lain di wilayah Kabupaten Magelang. Berdiri sejak tahun 2008 dan mulai dibuka untuk umum bulan Februari 2009 rumah baca di kampung teratas ini masih berdiri hingga sekarang.

 

Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) terletak di Dusun Gemer Desa Ngargomulyo Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang memang sudah banyak diketahui keberadaannya. Apalagi sempat terdampak letusan gunung Merapi tahun 2010 kemarin karena lokasinya memang menjadi kapung paling ujung di Kecamatan Dukun berbatasan langsung dengan hutan rakyat merapi.

Hal ini merupakan ide dan inisiatif sejumlah pemuda dusun tersebut. Y Sukisno (43) merupakan salah satunya dimana setiap harinya berkerja menjadi seorang petani di lereng Merapi.

Sukisno menceritakan bahwa RBKM merupakan sebuah tempat serupa perpustakaan dengan menyediakan berbagai buku bacaan bagi warga dan anak-anak sekitar.”Meskipun mayoritas warga di daerahnya merupakan petani, namun minat baca mereka termasuk tinggi, Khususnya kalangan anak-anak,” katanya.

“Awalnya, saya bersama kawan kawan lain prihatin dengan sulitnya akses warga dan anak untuk mendapatkan buku bacaan saat itu, Akhirnya, kami membentuk tim untuk pembuatan rumah baca ini,” ujar saat ditemui dirumahnya (8/11).

Lokasi RBKM berada di depan kediaman Sukisno. Dibangun sedemikian rupa seperti teras rumah dan terbuka sehingga para pembaca tidak sungkan untuk datang kesini.

“ Selain karena agak luas dan bisa dipergunakan untuk bermain anak, halaman rumah saya juga kebetulan kosong tidak dipergunakan untuk apa-apa. Lalu dipilihlah lokasi rumah baca disini,” tuturnya.

Uniknya lagi rumah baca ini tidak ditunggu layaknya perpustakaan atau taman baca lainnya. Disini diutamakan adalah kejujuran sekaligus melatih masyarakat pada umumnya dan khususnya anak-anak untuk berperilaku jujur.

“Ya pembaca datang melihat-lihat buku, terkadang dibaca disini dan banyak yang di bawa pulang dengan mencatatnya sendiri di buku yang kami sediakan buku apa yang dipinjam tanggal berapa dan dikembalikan tanggal berapa,nah hal inilah salah satu metode kami untuk melatih dan mengedepankan kejujuran,” terangnya.

Dengan mottorumah baca ini “Membaca Adalah Ibu Pengetahuan”. “Diharapkan dengan membca bisa membuka candela wawasan masyarakat dan anak-anak sekitar sini, namun tidak sedikit pembaca datang dari luar desa di Kecamatan Dukun,” imbuh Sukisno.

Berawal dari gotong royong mulai dari pengadaan buku dan perawatan RBKM ini mulai berkembang.”Awalnya, buku yang tersedia di rumah baca hanya sedikit, karena milik pribadi saja namun lambat laut banyak donator buku berdatangan memberikan buku buku mereka tanpa kami minta,” katanya.

“Saat ini, jumlah buku bisa mencapai lebih dari seribu. Jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari buku pelajaran, komik, novel, dan banyak lainnya,” terang Sukisno.

Pengelolaan RBKM ini memang tidak selalu mulus dalampengelolaanya. Sempat terdampak musibah merapi meletus 2010 sehingga beberapa buku rusak dan banyak buku yang dipinjam tidak kembali.”Saat merapi meletus tahun 2010 ada beberapa buku memang rusak namun tidak menjadi kendalabegitu berarti, bahkan hingga sekarang sebanyak 500 buku yang dipinjam tidak kembali mungkin karena lupa atau memang sudah disukai,” jelas Sukisno sambil tertawa ikhlas.

“Hingga saat ini masih tersisa sekitar 1000an buku, namun minat baca masyarakat khususnya anak-anak memang mulai menurun mungkin karena perkembangan zaman digitalisasi saat ini yang mungkin informasi dalam buku sudah mudah diakses melalui internet di telepon pintar mereka,”paparnya.

“Saya harap RBKM ini tetap ada dan berjalan seadanya dengan tujuan tetap mempertahankan bahkan mampu menumbuhkan minat baca anak karena sambil membaca buku kita tidak melupakan interaksi social mereka saat membaca buku sehingga tidak terfokus atau terkesan individulisme karena sibuk dengan telpon pintarnya,”pungkasnya. (bsn)

 

BACA JUGA : BERITA TERKAIT MERAPI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here