Humas Protokoler Pemda Magelang Studi Komparasi ke Bali

0
65
STUDYI : Rombongan Humas dan Protokoler Kabupaten Magelang bersama awak media saat belajat di Desa Adat Panglipuran Kabupaten Bangli Provinsi Bali (3-8)--(Foto--Istimewa)
STUDYI : Rombongan Humas dan Protokoler Kabupaten Magelang bersama awak media saat belajat di Desa Adat Panglipuran Kabupaten Bangli Provinsi Bali (3-8)--(Foto--Istimewa)

BNews—MUNGKID— Humas Protokoler Kabupaten Magelang mengadakan studi komparasi  di Bali selama empat hari yang lalu (31 Juli – 3 Agustus 2018). Rombongan ini mengunjungi beberapa tempat antara lain Humas Pemda Kabupaten Badung,  Harian Bali Post, Pabrik Pei Susu dan Desa Adat Penglipuran di Kabupaten Bangli.

 

Kunjungan hari pertama mereka tiba di Komplek Pemerintahan Kabupaten Badung, dimana kabupaten ini menduduki peringkat pertama dalam Pendapatan Asli Daerah se Indonesia. Rombongan Humas dan Protokoler Kabupaten Magelang dipimpin oleh Asisten Administrasi Umum Pemkab Magelang,  Endra Wacana, didampingi Kabag Humas dan Protokol Pemkab Magelang, Purwanto.

 

Kedatangan rombongan dari Kabupaten Magelang disambut Kabag Humas Kabupaten Badung,  I Putu Ngurah Thomas Yuniarta selaku mewakili Bupati Badung. “Kami ucapkan selamat datang di Kabupaten Badung, dan terima kasih telah berkenan berkunjung di Komplek Pemda Kabupaten Badung,” katanya dalam forum pertemuan bersama.

 

Sebelumnya Endra Wacana menyampaikan maksud tujuan kedatangan rombongan untuk sharing terkait kerja sama antara Bagian Humas Pemkab Badung dengan awak media di Badung. “Kami ingin mengetahui sejauh mana kerja sama Bagian Humas Pemda Badung dengan awak media, karena sejauh ini di Magelang kami rasa belum maksimal dalam bermitra dengan awak media,” katanya.

 

Dalam pertemuan tersebut saling sharing kerja sama antara Bagian Humas Pemda dengan awak media. Dimana awak media mampu menjadi kontrol maupun media publikasi kebijakan pemerintahan daerah.

 

Selanjutnya Rombongan melanjutkan perjalanan belajarnya ke kantor media Harian Bali Post. Disana mereka disambut  oleh Pemimpin Redaksi International Bali Post, Putu Gugiek Safrida.

 

Dalam kunjungan kali ini Endra Wacana mengungkapkan, keberadaan objek wisata Candi Borobudur di Kabupaten Magelang membutuhkan berbagai referensi untuk mengembangkan potensinya melalui media. “Keberadaan media Bali Post selama 70 tahun mampu bertahan di antara dinamika sosial, budaya bisa menjadi rujukan untuk kami di bidang promosi wisata, dan potensi. Mengambil hal-hal yang bermanfaat untuk diterapkan di daerah kami bersama teman teman media,” katanya.

 

“Selama ini, pola hubungan wartawan dengan Pemerintah Kabupaten Magelang ibarat simbiosis mutualisme, yakni, kedua belah pihak sama-sama saling membutuhkan satu dengan lainnya,” lanjutnya.

 

Sementara Pemimpin Redaksi International Bali Post, Putu Gugiek Safrida menyambut baik kunjungan tersebut. Menurut Gugik, keberadaan wartawan juga menjadi sarana pemerintah daerah menyampaikan informasi program kerja pada masyarakat luas.

 

“Keberadaan wartawan juga jadi fungsi kontrol bagi pemerintah daerah, yakni lewat berita yang memuat unsur kritikan sehingga perlu mendapat perhatian. Yang pasti, hubungan kita dengan Pemerintah selama ini sangat bagus,” tandasnya.

 

Dalam kunjungan hari ketiga mereka berkunjung ke Pusat Oleh-oleh sekaligus pabrik produksi Pei Susu. Dimana makanan ini merupaka salah satu ciri khas dari pulau dewata, dan rombongan ingin belajar pola marketing brand sehingga Pei susu mereka bisa terkenal melalui cara seperti apa.

 

Untuk kunjungan terakhir mereka belajar di salah satu Desa Adat yang dijadika tempat wisata di Kabupaten Bangli. Mereka berkunjung ke Desa Adat Panglipuran.

 

Di Bale Banjar Adat (rumah pertemuan) I Wayan Supat, Tetua Adat Desa Penglipuran menyambut ramah rombongan Humas Protokol beserta wartawan Kabupaten Magelang. Kunjungan ini bukan lain untuk menimba ilmu terkait tata kelola Desa Penglipuran sehingga ramai dikunjungi wisatawan, Sehingga bisa diterapkan pengembangan potensi desa-desa wisata di kawasan Candi Borobudur, Magelang.

 

“Desa Panglipuran selalu menjaga harmoni dengan membagi dalam 3 tatanan yakni zona utama Mandala atau tempat ibadah, zona Wadya Mandala atau pemukiman dan yang terakhir adalah zona Nista Mandala atau area pemakaman,” ungkap I Wayan Supat, Tetua Adat Desa Penglipuran.

 

Meski kokoh menjaga adat budaya, kehidupan masyarakat yang dinobatkan sebagai desa terbersih peringkat ketiga dunia ini senantiasa terbuka terhadap masuknya budaya dan teknologi dari luar. “Kita menerima budaya dari luar, tapi juga melakukan konservasi budaya sendiri,” tegasnya.

 

 

Dengan menjaga tradisi leluhur itu, menurut Supat, kunjungan wisatawan terus meningkat dan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bangli minimal Rp 3,7 Milyar setiap tahunnya. “Namun pihak Desa hanya mendapat sebesar 40 %, dan kali ini masih dalam proses perjuangan kami agar mendapat bagian 80 %,” katanya.

 

 

I Wayan Supat juag menjelaskan,bahwa luas Desa Penglipuran mencapai 112 hektar. Menjadi desa wisata ditetapkan pada tahun 1993 silam dengan hak istimewa. Sedangkan kata ‘Penglipuran’ berasal dari kata ‘Pengeling Pura’ yang artinya tempat suci untuk mengenang para leluhur.

 

“Sebagai Desa adat kita memiliki hak otonomi (istimewa) dari Pemerintah Daerah Bangli. Baik itu dalam mengatur hukum adat, berkaitan dengan sosial, budaya untuk memberdayakan masyarakat demi kesejahteraan bersama dari pariwisata,” tandasnya. (bsn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here