Ini Sisi Lain Tentang Gereja Ayam Borobudur

0
173
WISATA MAGELANG : Orang masih banyak menyebutnya ini sebuah gereja, namun ini sekarang menjadi sebuah rumah doa segala bangsa untuk semua umat dengan keprcayaan yang berbeda-beda (21/8)--(Foto- @BukitRhema)
WISATA MAGELANG : Orang masih banyak menyebutnya ini sebuah gereja, namun ini sekarang menjadi sebuah rumah doa segala bangsa untuk semua umat dengan keprcayaan yang berbeda-beda (21/8)--(Foto- @BukitRhema)

BNews—BOROBUDUR—Siapa yang tidak tahu salah satu tempat wisata menarik ini. Bentuk bangunannya menyerupai sebuah ayam atau merpati mulai dari kepala sampai ekornya.

 

Lokasinya berada diatas Bukit Rhema yang berdiri di perbatasan dua desa yakni Kembanglimus dan Karangrejo semua di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Banyak orang menyebutnya tempat wisata Bukit Rhema atau Gereja Ayam, padahal bangunan tersebut merupakan Rumah Doa untuk semua bangsa.

 

Bangunan yang berdiri sejak tahun 1992 ini dikonsep oleh salah satu warga Jakarta yang kala itu ingin membangun sebuah gereja di atas Bukit Rhema ini. Namun artikel ini tidak ingin membahas hal tersebut, tetapi akan lebih menceritakan obey wisata Bukit Rhema atau Rumah Doa Segala Bangsa saat ini pada Agustus 2018.

 

Masih banyak yang berpikir bahwa bangunan ini adalah sebuah gereja umat nasrani. Namun kenyataan sekarang merupakan sebuah obyek wisata yang mendunia setelah terpromosikan secara tidak langsung dalam film AADC 2 (Ada Apa Dengan Cinta) yang dibintangi oleh Dian Sastro ini.

 

Banyak wisatawan mulai berkunjung, sehingga pengelola tempat ini yang sudah masuh dalam generasi kedua harus menata sedemikian rumah agar layak dikunjungi. William Wenas sapaan akrab di sosial medianya merupakan anak dari pemilik atau yang membangun tempat ini, ia mulai menata mulai dari akses jalan hingga penataan property didalamnya.

 

“Sekarang kita lebih tekankan bahwa tempat ini merupakan salah satu obyek wisata dengan bangunan berbentuk ayam dan pemandangan alam yang indah sekaligus rumah doa segala bangsa, kami mulai membangun tempat tempat peribadatan semua agama yang diakui di Indonesia didalam bangunan maupun di samping kanan kiri bangunan ini,” ungkap Willian saat diwawancarai Borobudur News (21/8).

 

Mulai dari ruangan Mushola untuk umat muslim, mini Vihara untuk umat Budha, lokasi peribatan umat Katholik seperti goa bunda maria sekaligus rute jalan salib, tempat peribadatan umat Kristiani dan rencana akan dibangun juga mini Pura untuk agaman Hindu. “Jadi para pengunjung atau masyarakat umumpun bisa sambil beribadah disini saat berwisata, ataupun datang hanya untuk beribadah saja karena memang kami konsep beberapa tempat ibadah sesuai kepercayaan mereka,” katanya.

 

Tidak hanya itu, pengunjung saat mulai masuk bangunan berbentuk ayam ini sudah disambut mulai dari ornament lukisan, foto-foto lawas, foto-foto obyek wisata dan spot belajar membatik sudah lengkap dengan tempat duduk buat istirahat dan menikmati suasana didalamnya. “Saat pengunjung ingin menuju puncak kepala ayam di bangunan ini juga akan disambut mural-mural soal seruan Jauhi Narkoba yang terlukis di dinding, dengan harapan bisa memberikan kesan positif bagi pengunjung,” papar William.

 

Ada tempat untuk bersantai juga, Café Rhema yang menjajakan makanan dan minuman di bagian ekor bangunan ini. “Nanti tiket seharga 15 ribu bisa dituket gratis camilan singkong goreng, dimana ini salah satu kerja sama dengan warga untuk pengadaanya. Selain itu di café lantai berikutnya kita juga bisa menikmati berbagai jenis kopi Nusantara,” tegas William.

 

Borobudur News sebelumnya diajak berkeliling, mulai dari pemberangkat dari area parker dengan menaiki mobil jeep walaupun sebenarnya berjalan kaki bisa namun lumayan tanjakannya. Namun yang bikin rasa nyama saat kita memasuki lantai bawah dibawa terdapat bilik-bilik kecil yang bersih, terang dengan pencahayaan lampoon, privasi cukup dengan beralaskan karpet, dimana lokasi ini disediakan untuk pengunjung saat jam kerja untuk berdoa lebih khusuk secara gratis.

 

Sambutan hangat dari seorang gadis penjaga pintu masuk bangunan ini, dimana setiap pengunjung yang masuk akan dijelaskan bahwa tempat ini merupakan rumah doa segala bangsa dimana siapapun dan beragaman apapun yang diakui di Indonesia bisa berdoa ditempat ini di bagian-bagian yang sudah disediakan. Tentunya hal ini seharusnya mampu merubah mainseat atau pola pikir pengunjung bahwa bangunan ini bukanlah sebuah gereja.

 

Bertolak dari pembahasan lokasi namun pengunjung yang datang kesini, William tidak sungkan untuk membeberkannya. Ia menjelaskan bahwa hari-hari biasa pengunjung bisa mencapai 200-300 orang tiap harinya. Jika akhir pekan pengunjung pasti meningkat 500-700 orang, hal ini dilihat dari hasil penjualan tiketnya.

 

“Itu baru week end kalau saat musim liburan atau puncak liburan namun bukan week end, Pengunjung diantara 800-1000 lebih datang ketempat ini untuk sekedar berfoto, bersantai, mempelajari tempat ini bahkan berdoa sesuai kepercayaan mereka,” pungkasnya. (bsn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here