Jagongan Lembah Jawa Dwipa Metamorfosis Seniman Magelang

0
96
JLJD : Salah satu pertunjukan tari gedrug di acara Jagongan Lembag Jawa Dwipa (29/12)--(Foto--Istimewa)
JLJD : Salah satu pertunjukan tari gedrug di acara Jagongan Lembag Jawa Dwipa (29/12)--(Foto--Istimewa)

BNews—SALAM—Pagelaran pertunjukan Jagongan Lembah Jawa Dwipa (JLJD) berlangsung meriah di Joglo Lawas Dusun Bendosari Kecamatan Salam Kabupaten Magelang kemarin (29/12). Kegiatan ini merupakan metamorfossis kegiatan rutin Sanggar Dua Atap Ngluwar yakni jagongan sentir lampu yang sudah berjalan beberap kali sebelumnya.

 

Ketua Sanggar Dua Atap, Dharma Wijaya, 32 mangatakan bahwa awalnya jagongan sentir lampu bisa dikatakan hanya kegiatan para seniman dan budayawan Magelang Selatan saja. Namun kali ini kita metamorfosis bersama komunitas seniman dan budayawan dari berbagai daerah di Indonesia khususnya dari Magelang segala penjuru.

 

“Kali ini yang ikut terlibat merupakan komunitas seniman dari Sumatera, Situbondo, Komunitas Lima Gunun Komunitas Seniman Magelang serta seniman dari Sanggar Dua Atap,” katanya.

 

Terkait nama Jawa Dwipa ini dijelaskan bahwa artinya adalah suatu gugusan pulau sangat luar biasa waktu itu, dan diambil spirit akan itu menjadi sebuah acara ini. “Dalam spirit ini mengandung keharmonisan, kerukunan, kedamaian dan yang paling penting mengandung makna unggah-unggah (Tata Krama) dan kebersamaan,” jelasnya.

 

Oleh sebab itu JLJD ini mengangkat kebersamaan dan sinergi antar komunitas seni yang ingin bersama-sama kita angkat melalui pertunjukan dan akomodir. “Banyak komunitas seni yang selama ini saya rasa belum terakomodir secara bersama seperti karawitas, tari, sastra, lukis dan tidak ketinggalan kita juga berupaya angkat komunitas UMKM sekitar. Oleh sebab itu komunitas siapapun yang ingin berpartisipasi kita buka selebar-lebarnya dengan niatan kebersamaan,” paparnya.

 

Rangkaian acara mulai dari ritual di gunung kelir siangnya, dan sore hingga malam dipertunjukan beberapa kesenian dan budaya di Joglo Lawas tersebut. “Berbagai pemetasan mulai dari sastra, macam-macam jenis tarian, music dan refleksi bersama,” ungkap Dharma.

 

Acara yang akan dilaksanakan secara swadaya ini di rencanakan akan rutin dilaksanakan. “Kita akan gelar tiap bulan januari dan akhir Agustus, namun saat ini kita ajukan bulan Desember karena Januari besok banyak acara berbarengan terkait seni dan budaya,” tegasnya.

 

Terkait dunia pariwisata, Dharma berharap mampu mendongkrak Pariwisata di Kabupaten Magelang. “Kita dongkrak pariwisata di Magelang tidak melalui destinasi namun kita melalui atraksi pementasan seni dan budaya secara rutin. Untuk tempat sementara di Joglo lawas ini dan Sanggar Dua Atap Ngluwar, kedepan bisa berpindah di sanggar-sanggar milik komunitas seniman yang tergabung,” tandasnya.

 

JLJD " Tarian dari anak-anak Sanggar Dua Atap meramaikan Jagongan Lembah Jawa Dwipa (29/12)--(Foto--bsn)
JLJD ” Tarian dari anak-anak Sanggar Dua Atap meramaikan Jagongan Lembah Jawa Dwipa (29/12)–(Foto–bsn)

 

Sementara turut hadir Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olah Raga, Iwan Sutiarso yang memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini. “Tentunya hal ini menunjukan bahwa pariwisata di Magelang memiliki berdaya saing tinggi, seperti hal ini melalui seni dan budaya yang menumbuhkan jati diri masyarakat Kabupaten Magelang,” katanya.

 

“Melalui seni dan budaya tentunya menumbuhkan rasa kebersamaan, social dan empati tinggi seperti saat-saat ini. Selain melalui seni budaya mereka juga berupaya menggandeng UMKM sekitar dimana itu sangat bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

 

“Dan tentunya event ini yang direncanakan digelar rutin tentunya akan memancing wisawatawan luar Magelang untuk datang kesini. Dan menunjukan bahwa di Magelang tidak hanya tempat atau destinasi wisata saja namun atrksi seni dan budaya juga menjadi satu pilihan tersendiri untuk berwisata,” pungkasnya. (bsn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here