Melihat Batu Raksasa di Kali Progo Bekas Petilasan Diponegoro yang Tak Bisa Dipindahkan

SEJARAH : Ini penampakan Batu Raksasa di Pinggir Kali Progo yang tak bisa di pindahkan (15/5)--(Foto--Internet)

SEJARAH : Ini penampakan Batu Raksasa di Pinggir Kali Progo yang tak bisa di pindahkan (15/5)--(Foto--Internet)

BNews-MAGELANG- Kota Magelang menjadi salah satu daerah tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Salah satu pahlawan yang dikenal berjuang di Magelang adalah Pangeran Diponegoro.

Keberadaan Pangeran DIponegoro di Magelang tentu meninggalkan sejumlah alat bukti. Beberapa berupa bangunan, ada juga yang berupa bebatuan. Salah satunya adalah batu cukup besar yang ada di Kali Progo, kawasan Kampung Meteseh. Batu ini diyakini menjadi tempat ibadah Sang Pangeran selama bulan Puasa.

Dikisahkan secara turun temurun, batu yang memiliki panjang 1,5 meter dan lebar 1meter ini pernah jadi petilasan Pangeran Diponegoro. Batu itu ada di Pinggir Kali Progo tepatnya di Kampung Meteseh Kota Magelang.


“Saya yakin batunya masih di Kali Progo. Ukuran yang besar dan rata ini cukup untuk bersujud. Kata sesepuh-sesepuh dulu, memang batu ini digunakan Pangeran Diponegoro untuk tempat salat,” ujar Alpandi, 63, sesepuh Kampung Meteseh.

Dia menuturkan, posisi batu itu sekarang diperkirakan terendam air sungai yang sedang dalam kondisi banjir. Saat air sungai surut, batu dapat terlihat dengan jelas. Hanya saja, posisi batu sekarang tidak lagi menghadap lurus ke arah kiblat.

“Posisi sekarang kemungkinan bergeser agak miring, karena tergeser oleh aliran air sungai yang pernah mengalami banjir bandang. Tadinya batu ini ada di sebelah utara sekitar 50 meter dari posisi sekarang,” katanya.

Bapak lima anak ini mengaku, banyak pihak yang menyadari kalau batu ini sangat bernilai sejarah, terutama terkait perjuangan Pangeran Diponegoro dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia. Maka, sekitar tahun 2000 ada upaya dari Pemprov Jateng untuk memindahkan batu ini.

“Saat itu Gubernurnya, Pak Bibit (Bibit Waluyo, red) ingin mengangkat batu ini ke daratan yang lebih tinggi untuk dirawat. Tapi, alat berat saat itu tidak mampu mengangkatnya hingga akhirnya tetap dibiarkan begitu saja di dasar kali,” jelasnya.


Keberadaan batu ini sendiri, katanya, memang menarik perhatian banyak pihak. Tanpa terkecuali para pertapa yang bisa bersemedi atau bertapa hingga berminggu-minggu di sekitar batu ini. Juga para pecinta sejarah yang tidak jarang mengulas batu ini.

Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang (KTM), Bagus Priyana menyebutkan, keberadaan batu yang istimewa ini memang menjadi bagian penting dalam sejarah Pangeran Diponegoro. Kisah batu ini pun ditulis oleh seorang sejarawan berkebangsaan Inggris, Peter Carey.

“Peter Carey pernah menulis bahwa, pada 21 Februari 1830 atau empat hari menjelang bulan puasa, Pangeran Diponegoro tiba di Menoreh. Kedatangannya ini berdasarkan kesepakatan yang dibuatnya bersama Jan Baptist Cleerens pada 16 Februari 1830,” paparnya.


Ketika itu, tulis Peter, Diponegoro tinggal di sebuah rumah besar, berdinding bambu, dan beratapkan daun kelapa. Rumah singgahnya ini terletak di sebuah kawasan tanjung, di tepian Kali Progo, yang oleh masyarakat disebut daerah Metesih. (bn1)

error: Content is protected !!