Omset Pedagang Borobudur Turun Drastis Pasca Pengalihan Jalur Keluar Wisatawan

2
1118
NGANGGUR : Sejumlah pedagang terpaksa hanya duduk duduk dan tiduran karena sepinya pembeli pascapenerapan jalur baru wisatawan di Borobudur. (foto : Istimewa)
NGANGGUR : Sejumlah pedagang terpaksa hanya duduk duduk dan tiduran karena sepinya pembeli pascapenerapan jalur baru wisatawan di Borobudur. (foto : Istimewa)

BNews—BOROBUDUR— Pedagang asongan dan lapak di komplek Candi Borobudur mengeluh. Bagaimana tidak, belakangan omset mereka menurun 70 persen akibat kebijakan pengelola yakni PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWC) yang megalihkan jalur keluar wisatawan.

Sebagaimana diketahui, sejak setahun belakangan, jalur keluar wisatawan Candi Borobudur yang semula ada di sisi utara, kini dipindah ke sisi barat. Akibatnya, jalur keluar wisatawan semakin jauh.

“Kami mengalami penurunan omset hampir 70 persen setelah pengalihan jalur keluar wisatawan,” kata Ketua Paguyuan Aliansi Pedagang Borobudur, Basirun, kemarin.

Menurutnya, penurunan ini terjadi setelah, di pintu keluar sebelah barat dekat kandang Gajah, wisatawan kemudian disediakan fasilitas kendaraan berupa andong, VW dan Gofcar.

“Tidak hanya itu, di sekitar jalur keluar itu kini juga didirikan berbagai kios kios dan lapak baru yang diisi oleh pengusaha pengusaha. “Jelas kami semakin terhimpit,” kata dia.

Belum lagi, katanya, jalur keluar yang baru tersebut semakin membuat wisatawn harus berjalan lebih jauh. “Hampir dua kali lipat dari jalur sebelumnya. Sehingga, banyak wisatawan yang kecapean dan tidak mau mampir berbelanja,” papar dia.

“Belum lagi kami sekarang diberi zonasi 50 meter untuk 300 pedagang. Ini jelas sempit dan terkesan krodit hinggamembuat pedagang dan wisatawan tidak nyaman,” tambahnya.

Peraturan itu, kata dia, diberlakukan secara sepihak. Sehingga pihaknya tidak bisa memberikan masukan. “Kita sudah beberapa kali mengadu tapi belum ada jawaban,” papar dia.

Pihaknya mengaku sebenarnya siap untuk mentaati peraturan yang ada. Namun, tentu tidak memberatkan dan mematikan para pedagang. “Sebenarnya kami butuh regulasi dan peraturan yang jelas yang mengatur zonasi pedagang. Sehingga, setiap pergantian pimpinan tidak ada perubahan kebijakan,” harap dia. (bn1/bsn)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.