Ini Program Perpustakaan di Lereng Merapi Kurangi Penggunaan Gedget pada Anak

0
104
BUKU : Perpusatkaan di lereng merapi ini saat dikunjungi pejabat Kabupaten diharapkan mampu mengikis penggunaan gaged oleh anak (12/3)--(Foto--bn1)
BUKU : Perpusatkaan di lereng merapi ini saat dikunjungi pejabat Kabupaten diharapkan mampu mengikis penggunaan gaged oleh anak (12/3)--(Foto--bn1)

BNews—SRUMBUNG— Pengaruh era digital dan teknolgi membuat anak-anak
kecanduan gadget. Di Lereng Merapi ini, ada sebuah perpustakaan desa
yang membuat berbagai program inovatif mengurangi dampak buruk gadget
pada anak.

Ya, Perpustakaan itu adalah Perpustakaan Desa Ngablak Kecamatan
Srumbung. Perpustakaan sederhana itu berdiri di tengah-tengah dusun.
Saban hari ramai oleh anak-anak dan orang tua yang membaca.

Kepala Desa Ngablak Ahmad Farihin mengungkapkan perpustakaan desa itu
dirintis awal tahun 2000 oleh seorang warga bernama Muhadi, guru SD di
kawasan tersebut. Karena memiliki banyak Buku, Muhadi meminjamkannya
untuk anak-anak di sekitar rumah. Rupanya banyak yang berminat,
sehingga buku-buku itu kemudian dikelola di gedung karang taruna yang
ada di Dusun Purwosari.

Dusun tersebut dipilih karena berada di tengah dan paling strategis
dari Desa Ngablak. “Lokasi ini memang sering menjadi titik kumpul
anak-anak dan remaja bermain dan beraktivitas bersama,” kata Farihin.

Gedung tersebut kemudian berkembang menjadi perpustakaan. Namun,
bangunan yang terletak 10 km dari puncak Merapi itu sempat tak terurus
selama dua tahun, usai erupsi Merapi 2010. Banyak buku yang rusak
karena abu vulkanik masuk ke ruang perpustakaan.

Salah satu inovasi yang baru dilakukan adalah menetapkan 15 Kader Baca
Keluarga yang bertugas memberikan edukasi kepada kaum ibu agar
membacakan buku untuk anak.

Pengelola Perpustakaan, Kasihan menyebutkan para Kader Baca Keluarga
kebanyakan adalah kaum ibu yang memiliki anak kecil. “Mereka bertugas
menumbuhkan semangat membacakan buku untuk anak-anak, sehingga
mengurangi kebiasaan anak bermain gadget,” kata Kasihan, Senin
(12/3/2018).

Buku yang dibacakan untuk anak tersebut dipinjam dari perpustakaan.
Guna mendekatkan diri dengan warga, pihak perpustakaan melakukan
dropping buku ke tujuh dusun yang ada. Di setiap dusun terdapat satu
titik dropping buku.

Proses pengurusan peminjaman di tujuh titik tersebut dilakukan oleh
anak-anak, sebab mereka dianggap lebih peduli terhadap pemeliharaan
buku. “Selain itu, juga untuk mendidik anak mengelola buku sejak
dini,” tambahnya.

Kegiatan perpustakaan tidak hanya seputar membaca dan meminjam buku.
Pengelola juga merancang kegiatan edukasi yakni pengenalan seni
angklung dan menonton film bersama. “Sekolah-sekolah di desa ini
sering mengadakan kunjungan bersama ke perpustakaan kemudian menggelar
nonton film anak bersama,” jelas Farihin.

Perjuangan perpustakaan desa tersebut membuahkan hasil. Setelah tahun
2004 mereka berhasil menjadi juara 1 Perpustakaan Desa Tingkat
kabupaten dan tahun 2006 Juara Harapan 2 Tingkat Provinsi Jawa Tengah,
kini, mereka kembali diajukan untuk tingkat Provinsi dan menargetkan
juara pertama.

Asisten Administrasi Umum Sekda Kabupaten Magelang Endra E Wacana
mengapresiasi semangat warga yang berupaya menumbuhkan minat baca di
tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. “Kita mengakui bahwa
minat baca di kalangan masyarakat saat ini rendah. Inovasi dari warga
seperti ini sangat kami dukung, seperti dengan menyiapkannya menjadi
perpustakaan digital,” katanya. (bn1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here