Pria Asal Magelang Ini Angkat Derajat Sesama Penderita Cacat

0
163
 MEMORI, 19 tahun silam tak akan pernah dilupakannya Fauzan. Sebuah kejadian yang mengubah hidupnya menjadi berbeda dengan orang pada umumnya.
            Saat itu, dia berusia tujuh tahun. Warga Dusun Ledok Desa Pirikan Kecamatan Secang itu terjatuh dari ayunan. Tulang pinggulnya rusak. Sarafnya terganggu. Pertumbuhannya jadi tak wajar.
            Kini, dengan usia yang menginjak 26 tahun, badannya kecil. Kakinya pincang. Bicaranya terbata-bata.
            Memiliki keterbelakangan fisik, Fauzan jadi sasaran empuk ejekan teman-temannya. Tentu hanya karena dia berbeda. ”Kalau di ejek sudah biasa,” kata dia saat ditemui di Gedung DPRD Kabupaten Magelang, kemarin.
            Sempat dia mengalami kegalauan luar biasa. Menangis sejadinya. Dan berprasangka buruk pada Tuhan atas nasibnya.
            Fauzan muda mencoba menjalani hidup seperti orang umumnya. Dia sekolah, juga bekerja. ”Terakhir saya kerja di pabrik tekstil di Ungaran,” kata dia.
            Namun, dia akhrinya memilih harus resign karena tak kuat dengan tuntutan kerja. ”Meski saya cacat beban kerja yang diberikan harus sama dengan yang normal, kalau suruh lari terus saya jelas tidak bisa,” ungkapnya.
            Sejak itu, mulailah dia belajar untuk mandiri. Dia membuka lembaga kursus pendidikan untuk anak SD sampai SMP. ”Khusus matematika,” tutur Fauzan.
            Muridnya lumayan banyak. Sekarang sudah ada 40 anak yang belajar dengannya. ”Itung-itung buat biaya kuliah,” kata mahasiswa Universitas Terbuka ini.
            Di tengah-tengah perjalanan hidupnya, Fauzan ditemukan dengan orang-orang yang senasib. Sama-sama cacat fisik. Juga sama sering diejek dan terasing.
            Tahun 2014 lalu, dia bersama rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas akhirnya membentuk sebuah paguyuban. Namanya Kubis. ”Kelompok usaha bersama disabilitas,” katanya membeberkan nama organisasinya itu.
            Sementara ini, Kubis hanya bisa mewadahi kaum disabilitas se Kecamatan Secang. Tapi dia punya mimpi bisa membantu rekan-rekan lainnya senasib. ”Ada lima belas anggota yang aktif,” kata dia.
            Fauzan kemudian merintis sebuah usaha yang dijalankan bersama. ”Saya buka usaha sablon di Secang. Sablon kaos, spanduk dan mug,” kata dia.
            Modal usaha ini dirogoh dari kocek pribadinya, hasil memberi tambahan pelajaran. Modal awalnya lima juta.
            Kini usahanya terus berkembang. ”Sebulan omsetnya ya rata-rata tiga juta. Lumayan bisa buat kesibukan teman-teman,” terangnya.
            Sebenarnya usahanya bisa bertambah besar. Sayang, keterbatasan modal membuat hal itu urung tercapai.
            Tidak hanya itu, Fauzan juga aktif di lingkungan sosialnya. Ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya diberdayakan dengan membuat usaha keripik talas. ”Kemarin sudah dipesan banyak dari Semarang, dan sudah berjalan usahanya,” tutur Fauzan.
            Kini, dengan bakat dan kemampuannya, Fauzan diminta mewakili Provinsi Jawa Tengah untuk dalam Expo Disabilitas di Jakarta mulai tanggal 3-5 September 2015 mendatang.
            Dari ajang itu, dia ingin membuktikan jika disabilitas tetap bisa berkarya. (ie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here