Tradisi Bajong Banyu Ala Warga Mertoyudan Sambut Ramadhan

0
264
TRADISI : Padusan ala Masyarakat Mertoyudan Kabupaten Magelang yang disebut Bajong Banyu ini menyedot perhatian banyak masayarakat (13/5)--(Foto--Istimewa)
TRADISI : Padusan ala Masyarakat Mertoyudan Kabupaten Magelang yang disebut Bajong Banyu ini menyedot perhatian banyak masayarakat (13/5)--(Foto--Istimewa)

BNews—MERTOYUDAN— Tradisi unik menyambut Bulan Suci Ramadhan oleh Warga Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang ini. Tradisi unik rutin tahunan ini dinamakan Bajong Banyu.

 

Ketua Karangtaruna Dusun Dawung, Gepeng Nugroho mengatakan bahwa tradisi ini ditujukan untuk mensucikan diri menyambut bulan puasa. “Tradisi yang sudah lima tahun dilaksanakan tersebut diawali dengan upacara diiringi pertunjukan tarian tradisional dari mulai Topeng Ireng hingga Jathilan, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pengambilan air di sumber air Sendang Kedawung oleh puluhan warga serta para tokoh dan perangkat desa setempat,” katanya disela-sela prosesi tadi siang (13/5).

TRADISI : Para penari ini melakukan ritual sebelum pengambilan air di mata air warga yang tidak pernah surut dalam tradisi Bajong Banyu (13/5)--(Foto--Istimewa)
TRADISI : Para penari ini melakukan ritual sebelum pengambilan air di mata air warga yang tidak pernah surut dalam tradisi Bajong Banyu (13/5)–(Foto–Istimewa)

Para tokoh masyarakat dengan membawa kendi mengambil air yang ada di Sendang Kedawung dikawal dan dijaga oleh pasukan Bregada berjalan sejauh 100 meter menuju sumber air. “Mereka sambil membunyikan bonang dan kenong, dialnjutkan dengan ritual mengambil air dimulai dimana terlebih dahulu para penari melakukan tarian diikuti pengambilan air dari sendang,” imbuhnya.

 

Air dari sendang tersebut dibawa lagi ke tengah-tengah dusun. Selanjutnya sesepuh desa menuangkan air yang dianggap suci tersebut ke dalam gentong. Lalu menyiramkan dan melemparkannya kepada masyarakat. Terjadilah perang air atau Bajong Banyu yang merupakan inti dari tradisi tersebut.

 

“Sebenarnya banyak makna filosofis yang terkandung dalam Tradisi Bajong Banyu tersebut, antara lain adalah arti pentingnya air di Sendang Kedawung yang memberikan penghidupan untuk masyarakat Dawung dan sekitarnya,” paparnya.

TRADISI : Pemuda Pemudi Mertoyudan juga turut dalam mengkirab air dalam acara Bajong banyu ini (13/5)--(Foto--Istimewa)
TRADISI : Pemuda Pemudi Mertoyudan juga turut dalam mengkirab air dalam acara Bajong banyu ini (13/5)–(Foto–Istimewa)

Gepeng juga menambahkan, bahwa sumber air tersebut tidak pernah kering bahkan di saat musim kemarau. Oleh karena itu, mata air tersebut harus terus dijaga untuk keberlangsungan hidup masyarakat desa. “Sejak dulu sampai sekarang mata air di Sendang Kedawung ini unik karena tak pernah kering, meskipun kemarau. Ritual ini adalah untuk mengingatkan kita akan pentingnya sumber mata air, yang harus terus dijaga, karena sumber air itu yang memberikan penghidupan untuk masyarakat,” tambahnya.

 

Sebenarnya dalam bahasa umum tradisi ini disebut padusan oleh masyarakat Magelang, namun biasanya sehari sebelum puasa dimulai. “Namun tradisi Bajong Banyu ini dikemas dengan menggunakan tradisi yang memadukan atraksi seni dan budaya yang juga menarik wisatawan untuk berkunjung dan menyaksikannya,” pungkasnya. (bsn)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here