Warga Menghendaki Gabung Kota Magelang

0
212

BNews–MERTOYUDAN– Sejumlah warga di Kabupaten Magelang menghendaki bergabung ke Kota Magelang. Beberapa diantaranya beralsan adanya faslitias pendidikan dan kesehatan gratis yang diberikan oleh Pemkot Magelang.
Salah satu Tokoh Masyarakat Desa Banjarnegoro Kecamatan Mertoyudan Sadikan, beberapa waktu lalu mengatakan tidak mempermasalahkan jika wilayahnya bergabung dengan Kota Magelang. “Administrasi kependudukan bisa lebih bagus,” katanya, kemarin.
Menurut mantan Perangkat Desa Banjarnegoro ini, kasus tapal batas itu sudah terjadi sejak lama dan tak kunjung selesai. Saat menjabat pada 1987 silam warga juga kerap dijadikan objek pembahasan.
Dia berpandangan bahwa jika sebagian wilayah bergabung dengan kota,  warga akan lebih dekat mengurusi terkait administrasi kependudukan. “Itu sebagian wilayah masuk kodya lebih bagus. Lebih dekat,” jelasnya.
Desa Banjarnegoro memiliki penduduk sekitar 11 ribu jiwa dengan jumlah sekitar 3.200 KK. Mereka tersebar di 11 dusun dan 19 RW. Dari jumlah itu,  sekitar 50 persen penduduknya miskin. Mayoritas warga bekerja sebagai buruh dan petani.
Warga Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan Bima Santi Aji menambahkan dalam beberapa obrolan warga banyak yang menyuarakan ingin bergabung dengan Kota Magelang. Meski tetap ada juga yang ingin berada di wilayah Kabupaten Magelang.
“Sebagai warga setuju desa kami tetap bergabung dengan Pemerintah Kabupaten Magelang. Ini karena konsep desa setelah bergabung dengan Pemerintah Kota Magelang juga belum jelas,” kata dia.
Beda halnya dengan Warga Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Kadus Seneng I Desa setempat Musanto menyatakan menolak gabung Kota Magelang. “Warga kami menolak pindah Kota Magelang karena sudah nyaman di wilayah Kabupaten Magelang. Masuk Pemkot akan menghilangkan status PNS perangkat desa, tanah bengkok juga nantinya bisa ditarik,” kata Musanto.
Dia Musanto mengatakan aspek sejarah Desa Banyurojo juga akan hilang jika masuk Kota Magelang. Selain itu, warga tidak ingin terpengaruh budaya kota yang cenderung pragmatis dan individualis sehingga semangat dan tradisi gotong royong masyarakat akan punah.
Untuk diketahui, polemik tapal batas antara Kota dan Kabupaten Magelang terus bergulir. masing-masing pemerintah memiliki argumen dan dasar hukum tersendiri.
Pemkot Magelang menghendaki adanya perluasan wilayah. Sementara Pemkab Magelang menghendaki penegasan batas wilayah.
  Disebutkan bahwa ada 13 desa di Kabupaten Magelang yang diwacanakan bergabung dengan Kota Magelang. Terdiri dari wilayah Kecamatan Tegalrejo yaitu Desa Girirejo, Ngasem, Banyuurip, Purwodadi, dan Glagahombo. Kemudian, Kecamatan Bandongan meliputi sebagian Desa Sidorejo, sebagian Desa Trasan, Banyuwangi, dan sebagian Desa Rejosari.
Selanjutnya, wilayah Kecamatan Mertoyudan di antaranya, sebagian Desa Bulurejo, sebagian Desa Banjarnegoro, dan sebagian Desa Banyurojo. Sementara dari wilayah utara, yakni Kecamatan Secang, dua desa yang hendak diserahterimakan saat itu adalah Desa Pancuranmas dan Jambewangi. (bsn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here