Warga Salaman Terpaksa Bongkar Rumah Akibat Tanah Retak

0
356
Warga Siang tadi bergotong royong membongkar rumah Tugiran yang terancam longsor akibat tanah retak (31/1)--(Foto--istimewa)
Warga Siang tadi bergotong royong membongkar rumah Tugiran yang terancam longsor akibat tanah retak (31/1)--(Foto--istimewa)

BNews—SALAMAN— Akibat pergeseran tanah di Desa Nragoretno Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang, satu rumah warga terpaksa dibongkar. Pasalnya rumah tersebut diposisi dekat dengan lokasi pergeseran tanah dan mengalami amblas sedalam 40 cm.

Dari hasil pemantauan manual alat BPBD Kabupaten Magelang yakni Early Warning System (EWS) dengan menggunakan kayu dan bamboo diketahui retakan semakin jelas. Dari kurun waktu beberapa hari terakhir pergerakan tanah dari 1-2 cm, kini mencapai sekitar 10 cm dan hal ini tidak hanya mengancam rumah warga, tanah retak juga menyasar jalan alternatif Salaman – Borobudur via jalur Ngargoretno.

Rumah yang dibongkar adalag milik Tugiran, 48, harus di bongkar. Hal ini dikarenakan lokasi rumah tersebut berada di retakan yang memanjang sekitar 100 meter. Tanah bergeser sekitar 15 cm, dan amblas 17 cm.

“Retakan yang lainnya muncul di ruas jalan alternatif membentuk huruf U, memanjang sekitar 40 meter, hal ini juga berpengaruh terhadap rumah saya, termasuk samping rumah saya ada kandang kayu kondisinya semakin miring, akhirnya saya bongkar,” katanya (31/1).

Rumah tersebut dihuni oleh Tugiran berserta istrinya Winarsih dan kedua anaknya Dwi Setiawan dan Yoga Nihayatu.”Saat hujan lebat saya ungsikan mereka ke lokasi aman,” imbuhnya.

Selain membongkar kandang kayu, ia juga menurunkan genteng dapur rumahnya bersama dengan warga lain. “Pembongkaran sengaja dilakukan untuk mengamankan barang – barang yang masih bisa diselamatkan karena saya khawatir, jika tiba-tiba retakan semakin melebar, akan merobohkan dapur rumahnya,” paparnya.

“Tiang dapur selama sebulan terakhir sudah amblas sekitar 7 kali. Saya angkat lagi dan saya ganjal tiangnya sampai 7 kali. Terasa banget retakan tanahnya,” ungkapnya.

Dibagian rumah Tugiran sendiri retakan terlihat sepanjang 5 meter dengan lebar 7 meter.”Hal ini membuat saya mengungsikan keluarga saya ketempat aman ,dan saya menunggu rumah sambil membuka pintu rumah saat hujan karena jika terjadi hujan dan ada pergerakan tanah bisa langsung menyelamatkan diri,” tandasnya.

Sementara Kadus Selorejo, Desa Ngargoretno Samsudin, 51, mengungkapkan bahwa warga merasa khawatir jika terjadi longsor. “Warga tidak mengungsi karena memang tempat tinggal yang dimiliki hanya disitu, Selain rumah Tugiran, tanah retak juga mengancam ruas jalan Salaman – Borobudur,” katanya.

“Harapannya nanti bisa mengantisipasi bencana dengan bantuan dari pemerintah, agar tidak terjadi jalan terputus,” jelas Samsudin.

“Retakan tanah mengancam sebanyak 18 rumah dengan 75 jiwa. Diantara mereka ada anak-anak dan para lansia,” jelas dia.

“Saya sudah koordinasi dengan pihak terkait agar segera ada solusi salah satunya dengan pemasangan alat EWS sebenarnya di daerah sini,” pungkasnya. (bsn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here