Bikin Gempar Dunia, Kemunculan Platform AI DeepSeek Sebagai Pesaing ChatGPT
- calendar_month Kam, 30 Jan 2025

Platform AI DeepSeek
Dikutip dari BBC hari ini, DeepSeek adalah perusahaan asal Hangzhou, China yang berdiri pada Juli 2023. Perusahaan ini menawarkan dua model AI, yaitu DeepSeek-V3 yang rilis pada Desember 2024 dan DeepSeek-R1 yang diluncurkan pada Januari 2025.
Menurut laman resminya, DeepSeek mengklaim model R1 bisa bersaing dengan model AI o1 milik OpenAI, pembuat ChatGPT.
Lantas, bagaimana perbandingan chatbot DeepSeek dengan ChatGPT? Berikut perbandingannya:
- Biaya Aplikasi dan Biaya Operasional
Dilansir dari Business Today Senin kemarin, DeepSeek maupun ChatGPT memiliki versi gratis yang menawarkan layanan yang sama. Mulai dari menanyakan pertanyaan, memberikan bantuan untuk memecahkan masalah, memberikan informasi umum, dan lainnya.
Keduanya juga memiliki versi yang berbayar. Biaya langganan ChatGPT mulai dari US$ 20 per bulan (Rp 323.000 per bulan, asumsi kurs Rp 16.150/USS$), sedangkan DeepSeek lebih terjangkau dengan harga sekitar US$ 0,50 per bulan (Rp 8.000 per bulan).
CEK BERITA UPADTE LAINNYA DISINI (KLIK)
Biaya operasional DeepSeek-R1 juga dilaporkan lebih hemat, dengan biaya dasar sekitar 27,4 kali lebih murah per token dibandingkan dengan model o1 OpenAI.
- Pemberian Respons
Bukan hanya soal tarif, DeepSeek lebih unggul pula dibanding ChatGPT dalam mengartikan kode baik Python maupun Java dan memecahkan persamaan yang kompleks.
Sayangnya, chatbot ini sensitif ketika ditanya topik-topik yang berhubungan dengan politik karena protokol sensor yang tunduk kepada Pemerintah China.
Misalnya, ketika ditanya tentang hubungan Presiden Xi Jinping dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, DeepSeek justru mengalihkan topik ke matematika, coding, dan logika sebagai gantinya.
“Maaf, saya tidak yakin bagaimana cara menjawab pertanyaan seperti ini. Mari kita bahas soal matematika, coding, dan logika sebagai gantinya,” respons DeepSeek.
“Sorry, that’s beyond my current scope. Let’s talk about something else,” tanggap chatbot DeepSeek.
Sedangkan di ChatGPT, respons pun berbeda ketika diberi pertanyaan serupa. ChatGPT menjelaskan panjang lebar soal gambaran utama hubungan antara Xi Jinping dan Vladimir Putin. ChatGPT pun lebih unggul dalam menyampaikan cerita, candaan, dan teks untuk tujuan pemasaran.
CEK BERITA UPADTE LAINNYA DISINI (KLIK)
ChatGPT juga lebih mengikuti perkembangan peristiwa global dan merespons lebih cepat ketika ditanya tentang berita terkini. Namun, chatbot ini terkadang memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan konteks dan data yang bias.
- Merencanakan Perjalanan
Ketika diminta untuk merencanakan perjalanan, ChatGPT memberikan penjelasan yang lebih detail dibandingkan DeepSeek. Sebagai contoh, saat bertanya untuk merencanakan perjalanan empat hari ke Singapura, ChatGPT memberikan saran untuk memesan kamar di beberapa hotel, lengkap dengan perkiraan biaya menginap, transportasi, makan, hingga aktivitas selama di sana.
Sementara, DeepSeek memberikan rekomendasi dan harga yang kurang terperinci. Chatbot ini tidak merekomendasikan hotel. Tetapi, poin plusnya, DeepSeek memberikan saran restoran sekaligus menu yang wajib dicoba.
- Pencarian Web Secara Real Time
Baik ChatGPT dan DeepSeek memiliki fitur pencarian web dan pencarian informasi berdasarkan data real time. Saat ditanya tentang performa Manchaster City baru-baru ini, ChatGPT memberikan data yang lebih terbaru, termasuk skor pertandingan sepak bola terakhir pada 25 Januari yang dipublikasikan oleh The Guardian dan Reuters.
Sementara, DeepSeek memberikan gambaran umum tentang performa Manchaster City dengan batas data hanya pada Juli 2024. Nah, berdasarkan pengujian tersebut, DeepSeek tampaknya lebih baik memberikan jawaban yang berkaitan dengan matematika, penalaran logis, atau pengkodean.
CEK BERITA UPADTE LAINNYA DISINI (KLIK)
Jawabannya juga lebih ringkas dan teknis Sementara, ChatGPT memberikan pengalaman obrolan yang lebih luas dan kreatif berdasarkan informasi terkini.
Sejarah DeepSeek dan Profil Pendiri
Pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng sejatinya bukan pelopor dibidang AI yang umum dalam imajinasi populer. Tidak seperti CEO OpenAI Sam Altman, misalnya. Liang bukanlah pengusaha Silicon Valley.
Sebaliknya, Liang berasal dari dunia keuangan. Setelah lulus dari Universitas Zhejiang, ia mendirikan dana lindung nilai (hedge fund) kuantitatif High-Flyer pada 2015 dan memasukkan AI dalam strategi perdagangannya untuk memprediksi tren pasar dan membantu membuat keputusan investasi.
Menurut Financial Times, ia mulai membeli ribuan prosesor grafis dari Nvidia pada 2021, sebelum pemerintahan Biden mulai membatasi ekspor chip AI dari AS ke China sebagai proyek sampingan AI.
Saat itu, kenalan-kenalannya menganggapnya sebagai hobi unik yang tampaknya tidak akan berkembang.
“Saat pertama kali bertemu dengannya, dia adalah pria kutu buku dengan gaya rambut jelek yang berbicara tentang membangun kluster 10.000 chip untuk melatih modelnya sendiri. Kami tidak menganggapnya serius,” ujar salah satu mitra bisnis Liang, seperti yang dikutip dari Financial Times.
“Dia tidak dapat mengutarakan visinya selain mengatakan: ‘Saya ingin membangun ini, dan ini akan mengubah permainan.’ Kami pikir ini hanya mungkin dilakukan oleh perusahaan raksasa seperti ByteDance dan Alibaba,” tambah mitra bisnis Liang.
Kemudian, Liang memulai DeepSeek pada 2023, yang bertujuan mengembangkan kecerdasan umum buatan, atau tingkat AI yang menyamai kecerdasan manusia.
CEK BERITA UPADTE LAINNYA DISINI (KLIK)
DeepSeek pada awalnya dipandang sebagai proyek sampingan Liang 40, yang secara pribadi terlibat dalam perusahaan dan penelitiannya.
Dia juga berdedikasi untuk menjadikan DeepSeek sebagai pemimpin lokal dalam bidang AI, merekrut talenta dari berbagai universitas terkemuka di China dan membayar dengan mahal, setara dengan perusahaan teknologi lokal ternama seperti induk perusahaan TikTok, ByteDance.
Dalam wawancaranya oleh Waves pada Juli 2024 yang diterbitkan ulang di China Academy, Liang memaparkan beberapa ambisinya untuk DeepSeek dan strategi AI China secara keseluruhan.
“Selama bertahun-tahun, perusahaan-perusahaan China terbiasa memanfaatkan inovasi teknologi yang dikembangkan di tempat lain dan memonetisasinya melalui aplikasi. Namun, ini tidak berkelanjutan. Kali ini, tujuan kami bukanlah keuntungan cepat, tetapi memajukan batas teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekosistem di China,” ujar Liang.
Liang mengakui bahwa inovasi membutuhkan banyak uang dan mengatakan China sebelumnya mengadopsi teknologi yang ada karena ekonominya masih dalam tahap awal pembangunan.
Namun sekarang hal itu tidak lagi terjadi, karena ByteDance dan Tencent telah menjadi pemain global dan menghasilkan laba besar.
“Yang kami kurangi bukanlah modal, melainkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk mengorganisasikan bakat-bakat unggul demi inovasi yang efektif,” kata Liang.
Model sumber terbuka DeepSeek berbeda dengan OpenAI, tetapi ia tidak menganggap berbagi terobosan perusahaannya sebagai suatu kerugian.
Mengadopsi model sumber tertutup tidak akan menghalangi pesaing untuk mengejar ketinggalan, Liang menambahkan, dan menjadi sumber terbuka sebenarnya memberikan keunggulan.
“Oleh karena itu, parit kami yang sesungguhnya terletak pada pertumbuhan tim kami-mengumpulkan pengetahuan, menumbuhkan budaya inovatif,” jelasnya.
“Membuka sumber dan menerbitkan makalah tidak mengakibatkan kerugian yang signifikan. Bagi para teknolog, diikuti adalah hal yang menguntungkan. Membuka sumber bersifat kultural, bukan sekadar komersial. Memberi kembali adalah suatu kehormatan, dan itu menarik bakat,” tambahnya. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar