Golong Gilig Borobudur Berlangsung Sakral Di Kawasan Candi

BNews–MAGELANG-– Acara Golong Gilig Borobudur berlangsung secara sakral Sabtu kemarin (3/4/2021). Acara yang digelar oleh para seniman ini berlangsung di komplek Taman Wisata Candi Borobudur Magelang.

Dilangsir dari radar, Para seniman tampak mengarak sebuah air yang diambil dari Sungai Sileng Borobudur. Air dalam cawan tersebut disiram di tanah sekeliling bangunan Candi Borobudur.

Sementara sisa air itu kembali diarak sampai menuju area Margo Utomo, TWC Borobudur. Di sini lah puncak acara berlangsung. Disebut puja bakti.

Tampak rombongan berpakaian serba putih. Melambangkan niat yang suci, dan semangat. Beberapa orang diantaranya memakai kostum prajurit kerajaan masa lalu.

Membawa sebuah gamelan gong. Di depan mahakarya para leluhur itu, doa-doa dipanjatkan dalam sebuah mantra. Berbahasa Jawa kuno.

Ketua Panitia Albertus Punomo menyebutkan kegiatan ini diikuti masyarakat saujana Borobudur. Terdiri dari pelaku wisata, seniman, dan warga sekitar. “Elemen ini menyatu untuk membangun Borobudur,” kata pria yang akrab disapa Aan Sabtu (3/4/2021).

Orang-orang inilah yang mengambil langsung air di tujuh sumber mata air, sepanjang Sungai Sileng. Tujuh titik ini melambangkan energi kehidupan. Udara, api, tanah, kayu, dan sebagainya. Selain itu, kata Aan, Sileng memiliki arti siro elingo.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Kita harus ingat Tuhan dan alam semesta ini,” ucapnya.

Sebelumnya, Golong Gilig diwarnai aksi sayembara membuat desain kaus khas Borobudur, Kabupaten Magelang.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah Sinoeng Nugroho Rochmadi mengakui bahwa acara ini sebagai perwujudan menjaga marwah kepariwisataan. Menunjukkan adanya acara dengan penerapan adaptasi kebiasaan baru.

“Sehingga orang-orang masih tahu, daya tarik seperti ini masih ada,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan budaya sanggat diperlukan untuk menggeliatkan pariwisata. Karena terbukti, tanpa ada atraksi wisata, sebuah destinasi terlihat kurang hidup. Sepi pengunjung.

“Banyak daya tarik yang nggak sustain, karena kurang event,” akunya.

Di Jawa Tengah, sekitar 50 daya tarik wisata belum buka, karena kesulitan biaya operasional. Jumlah itu sekitar 7 persen dari 690 tempat wisata yang ada.

Maka perlu sebuah kalender acara. Rangkaian kegiatannya yang beruntun, dengan jarak pelaksanaan tidak terlalu lama. “Kalau bisa, ada keberlanjutannya, acara itu nggak terputus. Misalnya acara ini Juli, acara berikutnya Oktober, ini terlalu jauh,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: