Guru Cantik Ini Jualan Baju Bekas Untuk Biayai Operasional PAUD

     BNews–KAJORAN– Semangat Sumarni, 33, warga Dusun Kalipelus Desa Wuwuharjo Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang ini sangat menginspirasi. Bagaimana tidak, demi menghadirkan lembaga pendidikan untuk anak-anak yang layak dia rela berjualan baju bekas untuk membiayai PAUD yang dikelolanya.
    Ibu satu anak ini sudah sejak 2013 mengabdikan diri di PAUD Flamboyan di dekat rumahnya. Ada dua guru lain seperjuangan, namanya Rikanah dan Rosidah.
    Sejak bergabung di PAUD itu, dia tak digaji. Tak dapat uang operasional. “Dari SPP bulanan yang hanya Rp 10 ribu per anak itu saja tidak cukup untuk membiayai operasional sekolah,” katanya.
Saat ini, kata dia siswanya hanya 17 anak. Hanya 10 persen dari jumlah anak usia dini yang ada di dusunnya. “Kesadaran untuk bersekolah masih rendah,” papar aktivis muslimat ini.
Proses menyadarkan masyarakat untuk pendidikan usia dini memang tidak mudah. Apalagi, katanya, mayoritas masyarakat setempat berada dibawah garis kemiskinan.
“Sejak dirintis sekolah kita ini numpang dirumah warga. Baru Januari kemarin pindahan ke Gedung baru bantuan dari desa di atas tanah wakaf,” kata Marni.
 Di tengah keterbatasan ini, kata dia pendidikan untuk anak usia dini masih belum bisa diterapkan maksimal. Fasilitas bermain anak minim. “Padahal anak anak ini kan belajar dengan cara bermain,” paparnya.
 Sehingga, lanjutnya, untuk memenuhi semua kebutuhan sekolah dia harus putar otak. Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari meminta bantuan pemerintah hingga donatur. “Bantuan yang kita harapkan sebenarnya lebih pada kebijakan. Karena itu lebih penting,” katanya.
 Meski demikian, kata Marni bantuan itu tetap saja ada namun akhirnya tetap memiliki keterbatasan. “Maka saya selalu cari solusi,” jelasnya.
Bahkan, dia rela harus mengumpulkan pakaian bekas layak pakai dari kawan, saudara dan relasinya. Baju bekas itu kemudian dijual dengan harga Rp 1000-Rp 5000. “Tadi dapat Rp 200 ribuan dari hasil penjualan baju bekas dua hari,” katanya sambil menunjukkan uang yang dibungkus nya dalam plastik.
Siapa pembeli baju bekasnya? “Baju bekas ini kita jual di warga setempat yang ternyata sangat diminati karena memang masyarakat disini bisa dikategorikan menengah kebawah. Dan setiap datang baju bekas selalu habis terjual,” paparnya.
Dari hasil penjualan baju yang tak tentu itu, dia pergunakan untuk memenuhi operasional sekolah. Belum bisa untuk membeli kebutuhan lain seperti ATK dan sarana bermain anak.
Marni mengaku jika ada donasi bantuan berupa baju bekas siap menerima. “Kalau ada kita siap mengambilnya,” aku perempuan berhijab ini.
Meski demikian, dia mengaku tidak akan mengalah dengan keadaan. Karena dia selalu punya mimpi untuk memajukan pendidikan anak di lingkungannya. (bn1l

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: