Kawanan Monyet Lari dari Puncak Merapi, Warganet Singgung 26 Agustus 2021

BNews—MAGELANG— Kawanan monyet ekor panjang diduga turun gunung di Desa Ngori, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Primata penghuni Gunung Merapi ini terlihat berlarian dari puncak pada Selasa (24/8).

Rekaman video 22 detik ini dibagikan Instagram @merapi_uncover. Tampak sekelompok kera turun menerjang pasir dan bebatuan Merapi.

”Siang ini kera, kethek, munyuk entah apa Namanya.. turun di Ngori Srumbung Magelang,” tulisnya seperti dikutip Borobudur News, Rabu (25/8).

Video berdurasi pendek ini lantas direspons warganet. Ratusan netizen berspekulasi turunnya para monyet menjadi alarm atau pertanda ada sesuatu yang terjadi pada Gunung Merapi.

”Sampun ada alarm dari alam. Kita harus stay siaga selalu 24 jam semoga mandali,” kata @marcellinusrivan.

”Sudah pada turun, ya.. Di atas syumuk berarti. Stay safe semua,” ujar @dqueenta

”26 Agustus 2021 semoga semua diberi keselamatan. Dijauhkan dari bencana, Amin,” jelas @djoeraganmbako.

”Sudah biasa, ya, kera turun gunung di daerah penambangan Ngori. Itu karena mau ngambil sisa makanan dan juga karena kera-kera sudah terbiasa dengan manusia,” terang @aryo_umandullll, meluruskan.

”Bukan karena tanda erupsi atau kaitannya denga aktivitas Merapi, bukan. Erupsi Merapi secara efusif sudah terjadi sejak Januari. Dan masih berlangsung sampai kini. Jadi bukan tanda-tanda lagi,” sambungnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Terpisah, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menanggapi video monyet ekor panjang turun gunung yang beredar di media sosial.  Kasubbag Tata Usaha (TU) TNGM, Akhmadi, mengakui adanya peristiwa itu.

Namun demikian, pihaknya belum memastikan penyebab sekelompok monyet turun hingga ke Desa Ngori. Termasuk dugaan akibat adanya aktivitas kegempaan yang tinggi di puncak Merapi.

”Karena kami juga perlu menganalisis terkait kegempaan Gunung Merapi ini. Dan yang Kami jadikan patokan, ya, dari BPPTKG,” ungkapnya.

Ia menuturkan, aktivitas Gunung Merapi yang tinggi akhir-akhir ini tidak dapat dijadikan kesimpulan turunnya kelompok kera itu ke lereng Merapi. Pasalnya, dirinya mengklaim dalam tiga bulan terakhir tidak ada perubahan signifikan terkait aktivitas Merapi.

”Artinya masih dianggap Level Siaga. Meskipun kemarin ada beberapa durasi letusan awan panas,” ucapnya.

”Kalau bukan karena aktivitas kegempaan Merapi, bisa jadi mereka turun karena ini kan kemarau, ketersediaan pangan untuk Makaka di puncak berkurang,” sambungnya.

”Hal kedua, bisa jadi karena aktivitas manusia di puncak berkurang jadi kera-kera itu merasa aman-aman saja kalau turun,” tambahnya.

Dua prediksi ini sangat logis, sebab beberapa waktu lalu, pihaknya menerima kabar jika monyet sejenis juga turun gunung hingga ke kawasan wisata di Kaliurang. ”Kemarin kan sama, objek wisata ditutup kera-kera itu jadi turun,” paparnya.

Masih kata Akhmadi, dibandingkan wilayah lain, kondisi vegetasi bagi para satwa di kawasan Srumbung dikatakan olehnya lebih sedikit dibandingkan dengan lereng Merapi bagian timur.

Imbuh dia, jenis vegetasi di kawasan Srumbung termasuk kedalam golongan sekunder. Sehingga ketersediaan pangan bagi para satwa lebih sedikit.

”Srumbung itu sekunder, jadi dimungkinkan ketersediaan pangan di sana lebih sedikit dibanding wilayah Timur. Jadi semua ini analisa awal kami dan kami juga belum bisa observasi karena adanya radius merapi itu,” pungkasnya. (ifa/han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: