Kisah Bos Samsung Indonesia Yang Jadi Mualaf Sangat Menginspirasi

BNews–NASIONAL– Produk dengan brand Samsung siapa yang tidak kenal saat ini. Dan kini, Samsung jadi penguasa produk smartphone di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Diketahui bersama, padahal mereka baru mulai, saat Nokia masih menjadi raksasa smartphone di dunia. Di sini, ada peran KH Lee, warga Korea Selatan yang merintis bisnis Samsung di Indonesia.

Tak hanya smartphone, di Indonesia Samsung juga punya beberapa produk elektronik yang dominan di pasar.

Kali ini kita akan mengupas penggede atau Bos Samsung di Indonesia KH Lee. Dilangsir KompasTekno yang mewawancarainya tahun 2019 silam.

Ia adalah Kang-Hyun Lee, atau kerap disapa Mr.Lee oleh para pegawai Samsung.

Pria berkacamata asal Negeri Ginseng ini bisa dibilang merupakan tapi pionir kesuksesan Samsung yang hingga sekarang masih bercokol sebagai vendor ponsel nomor satu tanah air.

“Saya datang ke Indonesia tahun 1988”, ucapnya memulai kisah.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Ketika itu Lee datang bukan sebagai pimpinan Samsung, tapi untuk mengunjungi sahabat penanya yang berada di Aceh Indonesia. Dia bertandang ke rumah sahabatnya dan menginap sekitar satu bulan.

Bisa dibilang, kecintaan Lee akan Indonesia sudah tertanam sejak masa ini, sebelum menduduki jabatan sebagai perwakilan Samsung. Hal ini dikarenakan suasana keramahan sahabat penanya beserta keluarga dan lingkungannya.

Kemudian Lee memutuskan untuk menekuni belajar Bahasa Indonesia. “Waktu itu saya belajar bahasa Indnesia di UI (Universitas Indonesia) Fakultas Sastra selama 23 hari. Zaman itu Bahasa Indonesia saya lebih bagus dibanding sekarang,” kelakarnya.

Sebelum di UI, Lee mengaku telah lebih dulu belajar Bahasa Indonesia dengan sahabat penanya dengan saling berikirim surat.

Bahkan di tengah kesibukannya mengendalikan laju bisnis Samsung di tanah air, Lee beberapa kali terlibat dalam penulisan buku dan menerbitkannya.

“Saya sekarang ketua perkumpulan penulis Korea di Indonesia. Saya bikin buku tiap tahun dengan anggota-anggota perkumpulan,” ujar Lee.

Bukunya bisa dari genre apa saja, kadang esai, kadang pula puisi. Menariknya, inspirasi menulis datang dari mana saja, termasuk hal-hal kecil.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Pernah sekali waktu, ia merasa kesal dengan putra bungsunya karena tidak bergegas dalam mengerjakan beberapa hal. “Lalu anak saya bilang, ‘Bapak makanya sabar, belajar sabar, Pak’,” ceritanya sambil tertawa.

Kisah ini pun ia tuliskan menjadi buku berjudul “Sabar” yang tertulis dalam bahasa Korea.

Tak cuma anaknya, sopir pribadi Lee bernama Sukimin yang telah bekerja dengannya selama 20 tahun pun pernah menjadi subjek karyanya. “Setiap hari, setiap pagi di dalam mobil sambil menunggu sekitar 20 menit, saya tulis tentang apa saja,” katanya.

Jadi mualaf dan dipanggil Pak Haji

Di kalangan pewarta senior, Lee kerap disapa “Pak Haji”. Tapi sebenarnya, ia belum benar-benar pernah berangkat menuaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

“Nama saya KH Lee, mungkin orang-orang memanggil ‘Kiai Haji’ Lee, jadi sekalian didoakan,” kelakarnya lagi.

Sejak tahun 1994, Lee telah menjadi mualaf dengan memeluk agama Islam. Ia pertama kali mengenal Islam dari salah satu temannya asal Aceh.

Di rumah temannya itu, ia melihat ayah temannya mengajarkan agama Islam ke anak-anak. “Ada sekitar 20 anak yang dia sekolahkan dan biayai,” ujarnya.

Sementara, ibu teman Lee juga mendirikan sebuah panti asuhan. “Jadi saya benar-benar lihat sendiri bagaimana umat muslim berperilaku, kemudian saya diajari salat,” kisahnya.

Ayah teman Lee yang kemudian dianggapnya sebagai ayah angkat, lalu mengajaknya ke masjid Agung Sunda Kelapa untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Menjadi muslim baru dikatakannya cukup berat bagi Lee. Terutama saat melalui puasa di bulan Ramadan. Namun akhirnya ia bisa menjalaninya hingga saat ini. Meski belum menunaikan rukun Islam kelima, Lee pernah melaksanakan umroh.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Lee mengaku saat ini belum memungkinkan untuk berangkat haji, karena jadwal pekerjaan yang sangat padat. “Tapi saya sudah berjanji kepada istri saya akan berangkat haji,” ujarnya.

Tahun 1996, Lee mempersunting wanita berdarah Sunda. Perempuan itu seorang pramugari, dan kini mereka dikaruniai tiga orang putra.

Pelopor Samsung di Indonesia

Perkenalannya dengan sahabat pena asal Indonesia membuatnya tertarik berkarir si negeri ini. Ia pun meminta ke kantornya, markas pusat Samsung di Suwon, Korea Selatan, supaya diizinkan bekerja di Indonesia.

Keinginannya dikabulkan meski penuh tantangan. Lee harus memulai dari nol, karena Samsung baru saja mengawali bisnis di Indonesia.

Lee mulai bertugas di Samsung Indonesia tahun 1993, setelah pabrik Cikarang di Bekasi, Jawa Barat dibangun dua tahun sebelumnya.

Sebagai pimpinan, dia bertanggung jawab atas banyak hal dalam kegiatan operasional Samsung, mulai dari ekspor-impor, ketenagakerjaan, keuangan, hingga urusan logistik.

Pada 2006, Lee dipindah kembali ke kantor pusat Samsung di Korsel sebagai Head of Digital Air Solution.

Setelahnya, Lee sempat didapuk sebagai Managing Director Samsung Bangladesh.

Tahun 2012, “Pak Haji” sudah balik lagi ke Indonesia sebagai Corporate Business Vice President.

Setahun setelahnya, ia menjabat sebagai Corporate Business and Corporate Affair Vice President, PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN). Tugasnya adalah bertanggung jawab atas hubungan sosial perusahaan dan hubungan dengan pemerintah.

Lee lah yang pertama kali berjasa memperkenalkan ponsel genggam asal Korea Selatan di Indonesia yang ketika itu masih dikuasai merek legendaris asal Finlandia, Nokia.

Sejarah awal Samsung di Indonesia berasal dari tangan Lee.

“Mungkin sampai pohon-pohon di pabrik itu kenal saya kali ya,” candanya.

Sepanjang wawancara, Lee merupakan pribadi yang cair dan kerap melontarkan lelucon jenaka. (*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: