Kisah Penjual Sapu Lidi Tiap Hari Tempuh Temanggung-Semarang Demi Sesuap Nasi

BNEWS—TEMANGGUNG— Pekerja dengan upah harian menjadi salah satu korban yang paling terdampak pandemi corona. Tidak jarang golongan masyarakat kecil kemudian berusaha keras menyambung hidup demi sesuap nasi. Sekalipun harus menempuh jarak sejauh puluhan kilometer.

Perjuangan hidup ini dilakoni Suyatno. Seorang pedagang sapu lidi asal Temanggung. Pria berusia 65 tahun itu rela menempuh jarak 79 kilometer dari tempat tinggalnya hanya untuk berjualan sapu di Kota Semarang.

Suyatno mengatakan, dirinya yang sudah mulai menua agak kesulitan mengingat-ingat seberapa lama berjualan sapu. Ia hanya menyebut telah menekuni pekerjaannya bertahun-tahun lamanya.

Tidak seperti biasanya. Semenjak adanya pagebluk, penjualannya benar-benar sepi. Kini, ia hanya bisa membawa pulang keuntungan kotor Rp17 ribu perhari. Belum dipotong ongkos transportasi.

Berdagang sapu lidi merupakan satu-satunya pekerjaan yang ditelateni. Mungkin juga menjadi keterampilannya sepanjang hidup meski tidak membawa hasil pendapatan memuaskan.

Suyatno bercerita, di hari Jumat (8/5) tidak satu pun sapu yang dijajakannya terjual. Dirinya hanya bisa pasrah. Bagi dia, yang paling penting adalah ikhtiar dan berdoa agar ada pembeli.

”Yang penting sudah usaha,” katanya.

”Walaupun hasilnya tidak banyak, ya, tidak apa-apa yang penting halal,” sambung dia.

Baca juga: Perkenalkan, Youtuber Cantik Paling Sukses di Magelang

Ia mengungkapkan, sebelum Subuh Suyatno berangkat dari rumah ke Kota Semarang naik transportasi umum. Kira-kira sampai kota Semarang pukul 08.00 WIB dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki ke tiga titik.

”Diantaranya Jangli, Sampangan dan Gombel untuk jualan sapu saya,” ungkapnya.

Sekali berjualan, ia membawa sepuluh sapu lidi. Jika dalam sehari lima sapu laku terjual, dirinya sangat bersyukur. Ia berdalih, enggan membawa sapu terlalu banyak lantaran khawatir tidak akan laku.

”Apalagi, saat corona ini bagi saya sangat sulit mendapatkan pembeli,” ucap dia.

Rezeki yang tidak menentu membuat dirinya jarang makan. Artinya, perutnya bisa kenyang selama ada sapu yang dijualnya dibeli orang. Saban hari dirinya hanya bisa makan satu kali. Itupun sudah termasuk untung.

”Tetapi, saya bersyukur kadang-kadang mendapatkan bantuan bantuan pokok dari pemerintah dan tetangga. Kalau mengandalkan sapu bisa-bisa keluarga saya sudah lama tidak bisa makan. Saya bersyukur banyak ’malaikat’ yang menolong saya,” pungkasnya. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: