Kisah Wabah Penyakit di Relief Candi Borobudur

BNews—BOROBUDUR— Relief di Candi Borobudur Kabupaten Magelang menceritkaan banyak hal di masa lampau. Beberapa diantaranya terkait penyakit atau wabah.

Seperti di bagian dari relief Lalitawistara di Candi Borobudur bertutur tentang penderitaan manusia karena sakit. Mereka dijumpai Sidharta Gautama dalam perjalanan keluar istana dengan kemegahan dan kehidupan yang serba berkecukupan.


Kisah di panel 57 relief itu diketahui umum menjadi bagian yang menggugah Sidharta melakukan pencarian pemaknaan jalan hidup. Kemudian mengantarnya menjadi petapa, dan kemudian beroleh pencapaian kesempurnaan tertinggi sebagai Sang Buddha Gautama.

Salah satunya ada wdi antara 120 panel Lalitawistara di lorong pertama tingkat tiga di bagian barat Candi Borobudur tersebut. Dimana menceritakan tentang seseorang berbadan kurus berposisi duduk.


Tentu saja tidak ada narasi tertulis di panel tersebut. Namun beberapa sumber menyebut laki-laki berbadan kurus dalam panel itu menderita suatu penyakit.


Dia dikisahkan sebagai salah satu di antara sejumlah wajah penderitaan manusia yang dijumpai Sidharta.


Petugas Balai Konservasi Borobudur Mura Aristina menyebut sosok penderitaan manusia lainnya dalam Lalitawisatara. Yakni orang buta membawa tongkat dipandu anak kecil dan orang terbaring meninggal dunia.

Loading...

“Dalam berbagai buku budhis, belum pernah saya menemukan penjelasan spesifik sakit apakah orang yang digambarkan di relief tersebut,” kata Mura kepada Antara.


Kisah tentang orang sakit dan upaya pengobatan kepada orang sakit juga bisa ditemui di relief Karmawibhangga Candi Borobudur.


Sejuah relief di Candi Borobudur, terutama level terbawah bagian Karmawibhangga, menggambarkan bagaimana adegan-adegan terkait penyakit pada masa kuno.


“Ada relief menggambarkan hama tikus yang menyerang tanaman padi. Apakah tikus-tikus itu menyebarkan penyakit, pes misalnya, belum kita ketahui,” kata Sofyan lulusan Arkeolof UGM.


Relief lain, kata Sofwan, menggambarkan bagaimana teknik pembuatan obat. Pengobatan, dan menangani persalinan berujung kematian.


“Ada ahli obat, mungkin tabib, dukun, sedang meracik obat yang dipanaskan. Ada tukang yang menjaga api, lalu membalurkan ramuan ke bahu dan lain-lain,” jelasnya. (her/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: