MANTAP !! Penemuan Siswa MTS N 1 Magelang, Dari Langkah Kaki Jadi Sumber Energi Listrik

BNews–MAGELANG– Sungguh istimewa penemuan pelajar MTS Negeri 1 Magelang ini. Dimana dari langkah kaki para pejalan, lampu penerangan jalan bisa menyala.

Hal tersebut bukanlah khayalan atau omong kosong saja. Pasalnya, tim riset Mts Negeri 1 Magelang membuktikannya secara ilmiah dalam World Youth Invention And Innovation Award (WYIIA) 2021. Sebuah kompetisi hasil kerja sama Universitas Negeri Yogyakarta dan Indonesian Young Scientist Association.

Tim yang beranggotakan lima siswa kelas IX itu membuat purwarupa semacam pembangkit listrik menggunakan energi kinetik. Setelah proses sedemikian rupa, sensor piezoelektrik ditempelkan di atas bidang, dalam hal ini sejumlah konblok di lingkup Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB).

Sensor mendeteksi langkah-langkah kaki yang menghasilkan energi kinetik. Energi lantas tersalur ke mesin aki untuk segera dikonversi menjadi listrik. Lewat perantara inverter AC 220V, listrik menjadi tenaga bagi lampu agar bisa menyala.

Dalam riset bertitel “MAJENG, Development of the Borobudur Temple Garden Floor as An Electricity Generator for Lighting Tourism Areas Based on Footrests” (2021), mereka menyebut besarnya biaya listrik di TWCB jadi alasan teknologi itu dibuat. Terlebih, energi kinetik belum dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik secara masif.

Atas inovasi teknologi tersebut, mereka pun meraih medali emas dalam kategori teknologi khusus secondary school. Mereka berhasil mengalahkan sejumlah tim dari berbagai negara lain, seperti Turki, Jordania, Rumania, Thailand, Malaysia, Kuwait, Azerbaijan, Arab, hingga Korea Selatan.

Tak cukup sampai di situ, lembaga Malaysia Innovation Invention Creativity Association (MIICA) tak mau ketinggalan mengalungkan medali emas atas capaian yang diraih Aghna Hasbian Nur, Naila Putri Nafisa, Rasya Az Zahra, Dewi Satiti Ningrum, dan Azhalya Yumna itu.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Menurut Pembina Riset Mts Negeri 1 Magelang Latif Jauhari, tim diambil dari kelas program riset yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris nisbi bagus. Pasalnya, WYIIA mensyaratkan bahasa Inggris sebagai media komunikasi kala presentasi materi. Presentasi pun digelar secara virtual lewat sambungan Zoom.

“Yang menarik pas presentasi, juri menanyakan,’produk kalian mau dijual (harga) berapa’. Mereka menyampaikan 1000 dolar AS. Tapi kata juri, itu sangat murah,” kata Latif kepada Suara Merdeka di Mts Negeri 1 Magelang, Selasa (31/8/2021).

Latif menilai jawaban anak asuhnya lumrah lantaran uang 1000 dolar AS sangatlah besaruntuk standar anak-anak. Kendati demikian, purwarupa belum akan dikembangkan lebih lanjut. Pengembangan pendidikan anak-anak masih menjadi pijakan utama saat ini.

“Yang penting pendidikannya bagaimana mereka kreatif, berpikir ilmiah, bisa menuangkan ide dan mempresentasikan (materi),” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: