Meskipun Sulit, Protokol Kesehatan Harus Diterapkan Pelaku Pariwisata Di Magelang

BNews– MAGELANG- Penerapan CHSE (Clean, Health, Safety and Environment) harus diterapkan oleh para pelaku pariwisata, khususnya di Magelang. Hal ini dikarenakan akan sebagai paradigma baru pariwisata di era pandemi Covid-19.

Banyak pelaku usaha pariwisata mengaku sulit menerapkan hal tersebut, namun hal tersebut harus dilakukan untuk keberlangsungan pariwisata dengan mencegah penularan Covid-19.

Salah satunya Pemilik Griya Butuh, Yenika Prabandari mengungkapkan pihaknya kesulitan dalam menerapkan protokol kesehatan di tempat usaha yang dikelolanya. Restoran yang baru buka di Gendol, Sukomakmur, Kajoran pada 25 Oktober lalu itu selalu penuh oleh pengunjung.

Ia menyampakan juga bahwa tamu selalu berjubel. Bahkan restoran yang harusnya buka dari pada 07.00-21.00 WIB, sekarang ini pukul 14.00 WIB sudah close order karena bahan sudah habis.

“Kerumunan sudah pasti terjadi di resto kami. Kami tidak bisa mengecek suhu tamu karena pintu di depan, tapi banyak tamu yang langsung masuk dari pintu atas dari tempat parkir. Protokol kesehatan sulit kami lakukan karena kami tidak bisa mengontrol tamu,” katanya, dalam kegiatan Bimbingan Teknis Program CHSE (Clean, Health, SAfety dan Environment Sustainability di Grand Artos Hotel & Convention Magelang, Selasa (24/11/2020).

Di rumah makan yang berjaral 300 meter dari objek wisata Nepal Van Java ini, ia susah membatasi tamu yang langsung datang ke lokasi. Pada tamu yang memesan terlebih dahulu, ia berusaha menerapkan protokol kesehatan dengan meminta tamu luar daerah agar membawa surat sehat.

Ia juga tidak bisa menerapkan pelayanan mengambilkan makanan pada sistem prasmanan, sebab akan membutuhkan banyak petugas yang menunggui makanan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Meski demikian, untuk di lokasi camping dan glamping (glamour camping), ia bisa menerapkan pembatasan sebab harus reservasi terlebih dahulu. Tamu glamping ia batasi maksimal delapan orang per tenda dan camping hanya 25-30 orang.

Pemilik Homestay Omah Cilik di Karangrejo Borobudur, Widodo mengatakan saat ini ia terpaksa membatasi tamu. Di homestay miliknya yang sejumlah tiga kamar dan homestay lain yang dikelolanya sejumlah 20 kamar, kini hanya bisa menerima 50% dari kapasitas demi menerapkan protokol kesehatan. Adapun untuk wedding, di tempatnya yang bisa memuat 300 orang kini dibatasi maksimal hanya 100 orang.

“Saat ini kita tidak hanya memikirkan profit, tetapi memikirkan dampak lingkungan dan keberlangsungan pariwisata agar aman untuk semua,” kata Ketua BUMDes Karangrejo tersebut.

Kasi Industri Bidang Destinasi di Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olaraga Kabupaten Magelang, M. Hariyadi mengungkapkan tren pariwisata di era pandemi ini menerapkan paradigma baru. Yakni diantaranya harus menerapkan physical distancing, sanitasi hingga durasi.

“Saat ada pandemi Covid-19, pariwisata terdampak paling awal dan pulih paling akhir. Kabupaten Magelang lebih baik daripada daerah skeitar karena kita punya Candi Borobudur yang ramai dikunjungi wisatawan. Tetapi, harus diperhatikan protokol kesehatannya,” jelasnya.

Ia mengakui di masa ini pengusaha di bidang pariwisata memang harus mengeluarkan cost lebih besar untuk protokol kesehatan. Untuk pengecekan suhu, ia menyarankan pengusaha membeli alat otomatis sehingga tak perlu menempatkan petugas.

 Adapun untuk kerumunan, ia menyarankan pemilik usaha mengingatkan melalui pengeras suara setengah jam sekali atau saat ada kerumunan. Pemilik usaha juga diminta menyediakan masker.

Akademisi dari STIEPARI Semarang, Aletta Dewi Maria mengungkapkan saat ini pengelola usaha wisata harus menerapkan CHSE. “Sebab peningkatan kesadaran masyarakat terhadap CHSE saat ini besar karena adanya pandemi Covid-19. Ini sudah menjadi permintaan dan perilaku wisata di era saat ini,” tandasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: