Polres Magelang Dilaporkan Kompolnas Karena Dugaan Rekayasa Kasus

BNews–MAGELANG– Kasus dugaan rekayasa kasus perkelahian antar pemuda di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang Juni lalu berbuntut panjang. Terdakwa yang tidak terima dipenjarakan melaporkan kasus tersebut ke Komisi Polisi Nasional (Kompolnas).
      Kuasa hukum terdakwa Halimah Ginting, menilai ada kecacatan dalam proses hukum kliennya. Untuk itu, dia akan melaporkan kasu ini ke kompolnas.
        “Surat laporan tengah disusun, dan akan dikirim awal pekan ini,” ujar Halimah.
         Untuk diketahui, kasus tersebut bermula dari aksi bentrokan yang dilakukan dua kelompok pemuda dari Sengi Kecamatan Dukun dan warga Muntilan, 25 Juni 2015 lalu. Peristiwa berawal dari rencana balapan antara kedua kelompok tersebut.
        Saat itu, tersangka Angga H, 23 warga Banyudono datang ke sebuah warung makan di dekat Pasar Talun Dukun sambil berbuka puasa pada 25 Juni petang.
         Kelompok lain dari Dusun/Desa Sengi kemudian datang menyusul dan menanyakan kesediaan rencana balapan sembari membawa uang taruhan. Namun, Angga menolak dan terjadilah keributan. Saat itu, Angga yang sendirian kalah.
         Kemudian, datang rekannya yakni Fery Dwi Antoro, warga Talun Dukun, Puput Handoko, Rizky Agung, keduanya warga Banyudono Dukun,  dan Kristian Danis warga Pucungrejo Kecamatan Muntilan. Disana, kedua kelompok pemuda terlibat saling pukul.
          Kelima pemuda itu kemudian justru dijadikan tersangka oleh polisi. Berkas penyidikan beberapa kali ditolak kejaksaan hingga akhirnya diantar langsung oleh Kapolres Magelang AKBP Dwi Zain di hari terakhir pelimpahan berkas tahap kedua 24 Agustus pukul 23.30 malam.
                   Dia menilai, Polres Magelang, dalam hal ini petugas yang menyidik kasus yang menimpa kliennya, tidak profesional. “Kami berpikir, sebenarnya ada apa dengan kasus ini karena sejak awal sudah dipaksakan,” katanya.
        Kesan rekayasa penyidik dalam kasus ini bisa dilihat di beberapa hal. Salah satunya keterangan dua orang saksi yang tidak pernah merasa menyebut nama terdakwa, namun dalam BAP dikatakan bahwa saksi menyebut nama padahal tak saling kenal.
        Selain itu, penyidik juga menyatakan bahwa antara terdakwa dan korban sudah pernah dipertemukan saat pemeriksaan. Namun demikian, terdakwa mengaku hanya dipertemukan saat rekonstruksi kejadian. “Atas perbedaan keterangan tersebut, dua orang saksi mencabut keterangan yang tertera dalam BAP,” imbuh Halimah.
         Kejanggalan lain, menurutnya juga ditemukan saat sidang dengan agenda mendengarkan keterangan dari penyidik. Tiga orang penyidik yang dihadirkan, yakni Iptu Trihadi Utaya, Bripka Anwar, Brigadir Budi Dwiantaka menyatakan bahwa BAP dibuat berdasarkan keterangan dari korban.
        “Padahal pihak korban sendiri menolak dan mencabut keterangan mereka dalam BAP,” katanya.
       Penyidik, lanjutny pernah mengumpulkan para saksi di sebuah rumah untuk menyamakan kesaksian. Padahal, saat dipersidangan para saksi ini tak bis berkelit menjawab pertanyaan hakim.
          Dalam sidang yang berlangsung, sejumlah saksi mencabut keterangan mereka yang tercantum dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP). Bahkan, beberapa juga mengaku hanya diminta tanda tangan oleh penyidik tanpa mengetahui isinya. (nrl)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: