Soal Polemik Sumbangan Masjid, Ini Kata Kemenag Magelang

BNews–MUNGKID – Kemenag Kabupaten Magelang angkat bicara terkait beredarnya di ‘Kupon Infaq bagi siswa untuk Pembangunan Fasilitas Masjid Nurussajidin Kantor Kemenag Kabupaten Magelang. Mereka menyebutnya kupon itu tidak memaksa alias sukarela.

“Kalo itu bukan Kemenag, tetapi panitia pembangunan masjid. Dan kuponnya tidak mencantumkan angka dan sifatnya sukarela saja, toh saya tidak menginstruksikannya,” ungkap Mad Sabitul Wafa, Kepala Kemenag Kabupaten Magelang.

Ia menegaskan bahwa pembangunan masjid tersebut bukan atas nama Kemenag, tetapi untuk kepentingan publik. “Pembangunan masjid itu siapapun bisa saja, masjid itu bukan milik lembaga tapi milik masyarakat. Cuman lokasinya di area komplek Kantor Kemenag Kabupaten Magelang, bekas rumah dinas Kepala Kemenag,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan masjid tersebut sudah direncanakan sejak lama tetapi baru terealisasikan tahun ini. Wafa juga mengatakan bahwa pembangunan masjid tersebut dinilai perlu, sebab keadaan mushola yang tidak memungkinkan.

“Disini itu kan kantor besar, tamunya hampir 200 orang lebih setiap hari dan membutuhkan tempat ibadah. Akhirnya ada tempat yang memungkinkan untuk dibangun, dan kita bersepakat saja karena musholanya sangat-sangat tidak memungkinkan untuk di pakai ibadah. Jadi kalo sholat itu antri gantian, dan itu setiap hari,” paparnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Untuk diketahui masjid tersebut berukuran sekitar 16×6 meter. Biaya pembangunan masjid tersebut mencapai Rp 1,5 milyar.

“Selama ini tidak ada anggaran daei APBD ataupun APBN. Pernah mengajukan dari APBD tetapi belum disetujui,” ungkapnyam

Wafa juga menyanggah tentang edaran kupon yang bersifat wajib tersebut. “Seingat saya belum pernah menandatangani edaran terkait uang pungutan itu. Saya tidak pernah menandatangani apapun. Itu sifatnya sukarela dan itu pun kalo enggak juga gak papa,” imbuhnya.

Terkait dengan adanya sumbangan atau apapun itu ia berpesan agar sifatnya transparan. “Saya pesan yang penting transparan, akuntabel, dan itu tidak diperbolehkan memaksa atau apapun,” tegasnya.

Ia beranggapan berita terkait kupon edaran tersebut akibat komunikasi berjenjang di masyarakat. “Bisa jadi karena komunikasi berjenjang itu biasanya A menjadi E, dari A menjadi F. Jadi kami menyarankan tidak, jadi sudah sambil berjalan saja karena niatnya memang membangun rumah untuk ibadah,” tambah Wafa.

Dia kembali menekankan kembali bahwa semua kewenangan berada di panitia. Dan pembangunan tersebut berjalan saja tanpa ada modal awal.

“Kita bonek saja murni dari teman-teman. Itu juga transparan, jadi siapapun yang ingin menyumbang bisa langsung ditransfer ke rekening,” ujarnya.

“Nanti akan kita lakukan rapat evaluasi terkait kupon tersebut, dan akan minta keterangan dari panitia,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: