Tugu Cokro Grabag : Sejarah Pembantaian Pejuang oleh Belanda

BNews—GRABAG— Jika anda melintas di daerah Grabag tepatnya di Desa Cokro, di tengah desa terdapat sebuah tugu. Tugu itu ternyata dibangun untuk mengenang pahlawan yang gugur di sana.

Informasi yang dihimpun borobudurnews dari berbagai sumber, Tugu Cokro dibangun sekitar 1949. Oleh Pemerintah Militer Kabupaten Magelang di bawah pimpinan Kapten Marsidik l. Dimana, lokasi dibangun tugu berada di tengah perempatan tempat para pejuang dibunuh. 

Penggiat Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana menjelaskan peristiwa penting itu tercatat dalam Naskah Sekitar Perjuangan Rakyat Kabupaten Daerah Tingkat II Magelang. Edisi terbit 1974. 

Dimana, kata dia sejarah kelam itu bermula pada 1 Februai 1949. Dimana Belanda yang datang ke Grabag disana Belanda langsung membunuh dua tentara Harjoetomo dan Djoedi.

Pascakejadian itu, katanya, para pejuang kemudian melakukan serangan balik ke Markas Belanda di Secang. Kemudian ditindaklanjuti pembongkaran Jembatan Brangkal untuk pertahanan namun gagal karena Belanda sudah dilokaai. 

Belanda yang merasa terancam melakukan pengepungan. Mereka menangkap delapan orang tentara. Yakni Soewarto, Soetriman, Andreas, Slamet, Ramelan, Darsono, dan Maraoedi.

Di perempatan Desa Cokro mereka diikat bersama-sama disuruh jongkok. Kemudian diberondong dengan tembakan. Enam orang meninggal seketika dan dua orang selamat. Salah satunya Soewarto yang kemudian menjadi  pensiunan Inspektur Polisi klas II dan bertempat tinggal di Dukuh Ponggol Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang.

Loading...

Sesudah selesai mengobrak-abrik dan mengambili barang-barang milik rakyat Desa Cokro, Belanda menuju ke selatan jurusan Pucang. Di jembatan Ngipik (Pucang) sudah pasukan Republik sudah siap menghadang. 

Dari hasil penghadangan, pejuang berhasil membunuh beberapa pasukan belanda. Termasuk Komandan Pletonnya.

SAKSI : Tugu Cokro saksi bisu pembantaian pejuang melawan Belanda. (repro)

Kemudian, Tanggal 1 Mei 1949 Belanda menyerbu Desa Cokro. Selain membakar rumah, disana Belanda membunuh dan menambaki 13 warga dan tentara. Di tahun yang sama tugu di Cokro dibangun.

Kemudian, diperbaiki kembali secara permanen pada tanggal 17 Agustus 1965. (her/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: