Viral Petugas Ber-APD Bawa Peti Jenazah Seberangi Sungai di Kalibawang

BNews—JOGJAKARTA— Sebuah video yang menunjukkan sekelompok orang berpakaian hazmat menyeberangi sungai viral di mesia sosial. Bagaimana tidak, sembilan orang berpakaian APD bersusah payah menyeberangi sungai yang memiliki arus cukup deras sambil  menggotong peti jenazah.

Video berdurasi 30 detik ini diunggah akun Twitter @TRCBPDBDIY, Rabu (13/1) sekitar pukul 19.50WIB. Hingga Kamis (14/1) siang, video itu sudah ditonton lebih dari 21 ribu kali serta disukai 358 pengguna.

TRCBPBDDIY menerangkan, video ini diambil di wilayah Kalurahan Banjaroya, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Orang-orang berpakaian hazmat dalam video tersebut merupakan relawan Satgas Penanganan Covid-19 Banjaroya.

Mereka sedang mengantarkan jenazah pasien covid ke pemakaman yang terletak di Dusun Pantog Kulon, kalurahan setempat. ”Laporan pendampingan rekan TRC BPBD Kulonprogo Rabu (13/1) pukul 13.00WIB giat dukungan pemakaman prosedur covid oleh Satgas Penanggulangan Covid-19 Kalurahan Banjaroya. Dari RS Sarjito menuju pemakaman Padukuhan Pantog Kidul, Kapanewon Kalibawang, Kulonprogo,” tulis akun TRCBPDBDIY.

Koordinator Relawan Pemakaman Covid-19 Banjaroya, Azhari Hidayat, membenarkan orang-orang dalam video viral itu merupakan tim sukarelawan satgas covid-19 Banjaroya. Ia mengatakan, saat itu tim sedang mengantar jenazah warga setempat menuju permakaman di wilayah Dusun Pantog Wetan, Banjaroya.

”Iya, itu tim relawan dari satgas desa, waktu itu kami sedang mengantarkan jenazah covid. Dan sesuai permintaan pihak keluarga, jenazah dimakamkan di lokasi yang memang rutenya lewat sungai,” kata Azhari saat dikonfirmasi wartawan, Kamis siang (14/1).

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)
Loading...

Warga yang meninggal itu sebelumnya menjalani perawatan di RSUP dr Sardjito karena terkait Covid-19, sehingga pemakaman menyesuaikan prosedur pemakaman Covid-19. Kabar duka itu diterima Azhari pada Selasa (12/1) sekitar pukul 22.00WIB. Pemakaman waktu itu direncanakan pada Rabu pagi, tetapi mundur siang hari.

”Berhubung lokasi makam sulit dan kontur tanah di sana juga keras jadi pembuatan liang lahat baru selesai sekitar pukul 12.00WIB, sehingga proses pemakaman mundur dari jadwal,” ujar Azhari.

Sebelum memulai pemakaman, Azhari terlebih dulu mengumpulkan warga sekitar untuk membentuk tim pemakaman pada Rabu pagi. Tim ini berisikan sepuluh warga setempat dan satu orang dari satgas desa. Tim juga berkoordinasi dengan BPBD Kulonprogo dan sukarelawan dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) untuk melakukan pendampingan.

”Setelah koordinasi, kami memulai pemakaman itu dengan melewati jalur yang sulit, terjal dan licin,” ucapnya.

Azhari mengatakan jalur yang melewati sungai dipilih karena berbagai pertimbangan. Pertama jaraknya jauh lebih dekat dibandingkan dua jalur lain. Ia menyebut jika melewati jalur itu tim hanya akan menempuh jarak paling jauh 300 meter. Dua jalur lain, bisa mencapai setidaknya tiga kilometer.

Kedua persoalan medan. Menurut Azhari dibandingkan dua jalur lain, jalur yang melintasi sungai jauh lebih sedikit rintangan.

”Kalau dua jalur lain itu selain karena jaraknya jauh medannya juga sulit, bahkan harus lewat tebing, dan itu belum tentu bisa langsung sampai malam, perlu muter lagi cukup jauh. Nah, kalau yang jalur sungai selain dekat, rintangannya juga sedikit dan itu juga biasa dijadikan warga sekitar sebagai akses untuk mencari rumput,” kata dia.

Pertimbangan ketiga karena setiap ada warga sekitar yang meninggal dan hendak dimakamkan di makam itu, warga biasa mengantarkan jenazahnya melintasi jalur tersebut.

”Jadi ini bukan kali pertama aja, ya. Sebelumnya sudah sering kok,” pungkasnya. (ala/han)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: