Biker Magelang Ini Taklukkan Himalaya dengan Motor CB Tahun 1972!
- calendar_month Rab, 29 Okt 2025

BNews—MAGELANG— Nama Priyo Handoko, warga Tempuran, Kabupaten Magelang, mendadak viral di media sosial. Pria berusia 40 tahun itu sukses menunggangi motor lawas Honda CB125 buatan tahun 1972 miliknya.
Bukan sekedar menaiki kota kota saja, ia bahkan hingga mencapai Khardung La, India, salah satu jalan tertinggi di dunia yang berada di Pegunungan Himalaya.
Video aksi Priyo diunggah oleh akun Instagram @Borobudur_News. Dalam unggahan yang menjadi viral tersebut, terlihat Priyo bersama motor kesayangannya dengan latar belakang salju tebal di kawasan Khardung La.
Ia tampak memamerkan motor CB berpelat nomor AA—Magelang miliknya sambil berjalan menuju tugu penanda lokasi tertinggi tersebut.
“🏍️ Motor CB Plat AA Asal Magelang Ini Bikin Bangga! 🇮🇩✨ Siapa sangka, motor lawas Honda CB berplat AA (Kabupaten Magelang) ini pernah menapaki Pegunungan Himalaya! 😱 Aksi luar biasa ini terekam dalam video viral, memperlihatkan bagaimana sang rider membawa motor klasik tersebut menembus jalur ekstrem dan medan berat di ketinggian dunia. Dari Magelang ke Himalaya — perjalanan ini bukan sekadar touring, tapi pembuktian semangat petualang sejati! 🌍🔥,” tulis keterangan unggahan tersebut.
Khardung La sendiri dikenal sebagai salah satu jalan tertinggi di dunia yang bisa dilalui kendaraan bermotor, dengan ketinggian mencapai 5.610 meter di atas permukaan laut.
Jalur ini berada di kawasan pegunungan Himalaya dan hampir sepanjang tahun diselimuti salju tebal.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Dikutip dari Detik c0m, Priyo membenarkan pencapaiannya itu.
“Yang terkenal sebagai salah satu jalur darat tertinggi di dunia yang dapat dilalui kendaraan bermotor,” ujar Priyo, Selasa (28/10/2025).
Priyo mengaku video yang kini viral itu awalnya hanya ia kirimkan untuk istrinya di Magelang. Ia baru mengetahui videonya ramai diperbincangkan setelah diberitahu oleh perangkat desa.
Dalam perbincangan tersebut, Priyo menceritakan misi pribadinya bertajuk “Riding Anything Can Go Anywhere”, yang kini memasuki etape ketiga.
Ia tetap menggunakan motor kesayangannya, Honda CB125 berwarna merah, dalam setiap perjalanan.
“Intinya saya punya program Riding Anything Can Go Anywhere. Sekarang ini etape ketiga. Untuk etape ketiga dari Nepal, eksplor India terus Pakistan. Tapi sepertinya perbatasan tutup (Pakistan), makanya terakhir di jalan tertinggi di dunia,” jelas Priyo.
Pria yang dikenal sebagai petualang ini memulai perjalanan ke India pada Jumat (3/10/2025). Motor CB125 miliknya tidak pernah dibawa pulang ke Indonesia sejak etape pertama, melainkan dititipkan kepada teman-temannya di luar negeri.
Priyo menegaskan bahwa perjalanannya murni misi pribadi tanpa dukungan sponsor maupun lembaga mana pun.
“Nggak ada misi dari pemerintah, sponsor. Ini misi dari pribadi,” ungkapnya.
Hingga memasuki etape ketiga, Priyo telah melintasi delapan negara. Ia mengaku tidak sekadar melintas, namun juga mengeksplorasi setiap negara yang disinggahinya.
“Kalau etape tiga baru dua, tapi saya tidak hanya melintas. Kalau saya eksplor per negara sehingga nyantai,” ujarnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Priyo mengungkapkan bahwa sebelum melakukan ekspedisi, ia sudah memiliki pengalaman mendaki gunung es sehingga lebih siap menghadapi suhu ekstrem di Himalaya.
“Terus kenapa pakai CB karena saya sudah memahami. Saya 20 tahun pakai CB. Jadi persiapan saya benar-benar matang. Saya tidak mau memberikan informasi bahwa saya nekat, bekal saya sudah cukup,” tegasnya.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Ia sempat terjebak di ketinggian 3.400 meter di atas permukaan laut karena jalanan tertutup salju.
“Di ketinggian 3.000 sama 5.000 tertutup salju. Saya harus menunggu beberapa hari agar es mencair dan tidak turun salju. Setelah 2 hari menunggu, akhirnya hari ketiga saya putuskan naik dengan keberhasilan 60 persen,” ceritanya.
Di ketinggian 4.000-an mdpl, Priyo sempat diterpa badai es dengan suhu ekstrem minus 17 derajat Celsius. Meski kondisi udara tipis membuatnya goyah, ia tetap melanjutkan perjalanan hingga mencapai ketinggian 5.200 mdpl di kawasan Tanglang La.
“Setelah riding di ketinggian 4.000-an mdpl kena badai es jam 7 malam. Saya mulai goyah, udara tipis, minus 17 derajat, tapi saya harus lanjut. Setelah lolos, saya harus ke ketinggian 5.200 untuk mencapainya di Tanglang La kena badai, es, dan jalan tertutup salju,” lanjutnya.
Ia sempat beristirahat tiga hari di rumah warga karena kondisi tanpa sinyal dan cuaca ekstrem. Setelah menunggu dua hari tambahan di Ladakh, akhirnya Priyo berhasil mencapai puncak tertinggi dunia di Khardung La, dengan bantuan mobil pendamping lokal.
“Sampai puncak tertinggi kedua dunia di Khardung La. Di situ foto-foto. Sekitar 10 harian (mencapai jalan tertinggi). Itu hanya satu lokasi,” pungkas Priyo. (bsn)
About The Author
- Penulis: Pemela


Saat ini belum ada komentar