Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Efek MBG, Harga Telur Ayam di Pasar Tradisional Tembus Rp31 Ribu per Kilo!

Efek MBG, Harga Telur Ayam di Pasar Tradisional Tembus Rp31 Ribu per Kilo!

  • calendar_month Sel, 21 Okt 2025

BNews—EKONOMI— Harga telur ayam ras di sejumlah wilayah Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga ini diduga kuat dipicu oleh meningkatnya permintaan telur untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah.

Samsul Muarif, seorang peternak ayam petelur di Muntilan, Magelang, membenarkan bahwa harga telur di pasar memang naik.

Namun, ia memastikan stok di tingkat peternak masih dalam kondisi aman.

“Kalau stok telur ayam biasa saja, tidak kurang. Di Muntilan, harga eceran kami lepas di angka Rp28.500 per kilogram,” ujar Samsul dikutip tribun, Senin malam (20/10/2025).

Menurutnya, lonjakan harga bukan karena pasokan menipis, melainkan akibat permintaan pasar yang melonjak tajam. Salah satu faktor pendorongnya adalah program MBG.

Di Kabupaten Klaten, harga telur ayam kini menembus Rp29.500/kg, naik dari kisaran sebelumnya Rp26.000–Rp27.000/kg.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Pedagang Pasar Gedhe Klaten, Sri Wiji Astuti, menyebut lonjakan harga mulai terasa sejak program MBG bergulir.

“Sejak ada MBG, harga semua bahan pokok melambung, termasuk telur ayam dan minyak goreng,”
ungkapnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Kota Yogyakarta. Berdasarkan data Dinas Perdagangan (Disdag), harga telur di Pasar Beringharjo stabil tinggi di angka Rp31.000/kg selama dua pekan terakhir.

Secara provinsi, DIY mencatat kenaikan rata-rata dari Rp28.667/kg pada September menjadi Rp31.333/kg pada minggu kedua Oktober.
Meski demikian, angka ini masih di bawah rata-rata harga nasional yang mencapai Rp32.400/kg.

Di Gunungkidul, harga telur ayam ras juga melonjak dari Rp27.000 menjadi Rp30.000/kg, terutama karena permintaan tinggi dari sektor pendidikan yang melaksanakan program MBG.

Sementara itu di Kabupaten Sleman, harga telur ayam berada di kisaran Rp29.643/kg, sedikit di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp30.000/kg.

Kenaikan harian tercatat sebesar Rp143 dibanding hari sebelumnya.

“Memang faktor MBG mempengaruhi tingginya permintaan telur. Secara hukum ekonomi, kalau demand naik, harga pasti ikut naik,” jelas Kurnia Astuti, Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Sleman.

Kurnia menyebut kebutuhan telur untuk MBG di Sleman belum dihitung secara pasti, karena tanggung jawab pengadaan berada di bawah Badan Gizi Nasional (BGN).

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Namun dengan puluhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif, kebutuhan telur dipastikan tinggi.

Kepala SPPG Margomulyo, Joni Prasetyo, memberikan gambaran kebutuhan harian.

“Kalau satu hari ada menu telur ayam, kami butuh sekitar 4.000 butir. Kalau dirata-rata 15 butir per kilogram, maka kami butuh sekitar 307 kilogram telur ayam,” ujarnya.

Jumlah SPPG di Sleman sendiri saat ini mencapai 62 dapur aktif, dengan kapasitas produksi rata-rata 3.000–3.500 porsi per hari.

Jika dalam satu hari seluruh SPPG serentak menggunakan telur ayam—seperti pada Jumat (17/10/2025) dengan menu nasi goreng dan telur ceplok—maka kebutuhan telur di Sleman bisa mencapai ribuan kilogram.

Dengan tren permintaan yang terus meningkat dan distribusi MBG yang semakin luas, para pelaku usaha memperkirakan harga telur ayam akan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Namun, peternak memastikan stok masih aman dan tidak ada indikasi kelangkaan di tingkat produksi. (*)

About The Author

  • Penulis: Purba Ronald

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less