Muntah dan Diare Dominasi Gejala Dugaan Keracunan Es Buah di Kajoran Magelang
- calendar_month 9 menit yang lalu

Bupati Magelang saat meninjau korban Keracunan ES Buah di RS Merah Putih
BNews-MAGELANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang masih melakukan penyelidikan epidemiologi terkait dugaan keracunan massal setelah warga mengalami gejala muntah dan diare usai mengonsumsi es buah di wilayah Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Lies Pramudiyanti, mengatakan pihaknya telah mengambil sampel muntahan pasien dan produk es buah yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut. Sampel rencananya dikirim ke laboratorium khusus pemeriksaan keracunan di Yogyakarta pada Kamis (15/10/2026).
Hal itu disampaikan Lies saat ditemui di Rumah Sakit Merah Putih Magelang, Rabu malam (14/10/2026).
“Jadi tadi kami langsung ke lapangan untuk melakukan penyelidikan epidemiologi, termasuk pengambilan sampel baik dari muntahan maupun dari produk yang dicurigai sebagai penyebab keracunan,” kata Lies.
Ia menjelaskan, sampel yang dikumpulkan meliputi muntahan pasien dan produk es yang dicurigai berkaitan dengan munculnya gejala keracunan.
“Ini karena kami selesainya agak siang, besok pagi kami mengirim ke Jogja. Ke lab Jogja yang khusus keracunan,” ujarnya.
Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat membantu petugas mengidentifikasi penyebab kejadian tersebut. Hingga Rabu malam, penyebab pasti dugaan keracunan massal itu masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Sebanyak 98 Pasien Tercatat di Tiga Rumah Sakit
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Magelang yang dihimpun hingga selepas Magrib pada Rabu (14/10/2026), terdapat 167 orang yang tercatat mendapatkan penanganan melalui puskesmas.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 34 orang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun, ada pula pasien yang datang langsung ke rumah sakit tanpa melalui puskesmas.
Lies menyebut, berdasarkan pendataan sementara, total pasien yang tercatat di tiga rumah sakit mencapai 98 orang.
“Jadi ada yang melalui puskesmas, ada yang langsung ke rumah sakit. Sehingga yang total di tiga rumah sakit itu ada 98,” jelasnya.
Ketiga rumah sakit tersebut adalah RSUD Merah Putih, RSUD Bukit Menoreh, dan RSUD Muntilan.
Meski demikian, Lies mengatakan pihaknya belum memperoleh informasi mengenai jumlah pasien yang ditangani di RSU Tidar. Dengan demikian, angka 98 pasien tersebut merupakan data sementara dari tiga rumah sakit yang telah terdata.
Ia juga menjelaskan bahwa tidak seluruh warga yang mendapatkan penanganan di puskesmas harus menjalani perawatan di rumah sakit. Sebagian pasien telah diperbolehkan pulang setelah memperoleh penanganan medis.
“Jadi banyak yang sudah pulang juga,” katanya.
Pasien Didominasi Gejala Muntah dan Diare
Lies mengungkapkan, gejala yang paling banyak dialami warga yang diduga mengalami keracunan adalah muntah dan diare. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pasien mengalami dehidrasi sehingga membutuhkan penanganan medis.
Menurutnya, pasien yang datang ke rumah sakit umumnya mengeluhkan kondisi tubuh lemas akibat kehilangan cairan.
“Terbanyak itu muntah diare, sehingga pertolongan pertama yang diberikan yang terbanyak itu adalah mengatasi dehidrasinya,” ungkap Lies.
Penanganan awal difokuskan pada kondisi pasien, terutama untuk mengatasi dehidrasi dan memantau perkembangan gejala yang dialami.
Dinkes bersama tenaga medis terus melakukan observasi terhadap pasien guna menentukan apakah mereka membutuhkan perawatan lanjutan atau sudah dapat diperbolehkan pulang.
Sekitar Sepertiga Pasien Berpotensi Menjalani Rawat Inap
Dari total 98 pasien yang tercatat di tiga rumah sakit, Lies menyebut sekitar sepertiganya terindikasi membutuhkan rawat inap.
Namun, keputusan tersebut belum bersifat final karena pasien masih menjalani observasi di instalasi gawat darurat (IGD).
“Terindikasi rawat inap ini masih terindikasi, ya. Tapi untuk masuk rawat inapnya belum. Jadi ini masih diobservasi semuanya di IGD,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi pasien selama observasi akan menjadi salah satu pertimbangan tenaga medis untuk menentukan kebutuhan perawatan berikutnya.
“Seandainya perkembangannya cukup diobservasi, mungkin tidak sampai ke rawat inap,” lanjutnya.
Dengan demikian, jumlah pasien yang benar-benar menjalani rawat inap masih dapat berubah sesuai perkembangan kondisi masing-masing.
Rumah Sakit Tetap Utamakan Pertolongan Darurat
Di tengah bertambahnya pasien yang membutuhkan penanganan, Dinkes Kabupaten Magelang memastikan fasilitas kesehatan tetap mengutamakan pertolongan pertama bagi pasien dengan kondisi darurat.
Lies mengatakan rumah sakit berupaya agar pasien yang datang tetap mendapatkan penanganan medis. Namun, dalam kondisi darurat dengan kebutuhan tempat tidur yang meningkat, masyarakat diminta memahami kemungkinan adanya penyesuaian kapasitas ruang perawatan.
“Prinsipnya pertolongan pertama kegawatdaruratan, harapannya tidak menolak pasien,” kata Lies.
Ia menjelaskan, penyesuaian tempat tidur mungkin diperlukan untuk mengakomodasi pasien yang membutuhkan perawatan. Kondisi tersebut dapat membuat pengaturan ruang perawatan berbeda dari situasi normal.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Menurutnya, prioritas utama petugas adalah memberikan pertolongan kepada warga yang diduga mengalami keracunan.
“Pada prinsipnya adalah upaya kami adalah memberi pertolongan pertama dulu kepada pasien-pasien terduga keracunan tadi,” ujarnya.
Dinkes juga terus berkoordinasi dengan rumah sakit dan puskesmas untuk memantau perkembangan jumlah pasien serta memastikan pelayanan medis tetap berjalan.
Keluhan Muncul Sejak Minggu, Puncak Pasien pada Rabu
Lies mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterima petugas, keluhan pada warga diduga mulai muncul sejak Minggu (11/10/2026). Sebagian warga mengalami gejala pada hari Minggu, sedangkan lainnya baru merasakan keluhan pada Senin (12/10/2026) atau Selasa (13/10/2026).
Artinya, munculnya keluhan tidak terjadi secara bersamaan pada seluruh warga.
“Betul, informasinya memang dari hari Minggu itu sudah mulai ada. Sebagian ke puskesmas, sebagian ada yang sudah berobat,” kata Lies.
Ia menyebut puncak kedatangan pasien dan keluhan yang dilaporkan terjadi pada Rabu (14/10/2026).
Terkait perbedaan waktu munculnya gejala, Lies menjelaskan bahwa kondisi setiap orang dapat berbeda. Daya tahan tubuh dan rentang waktu sejak mengonsumsi produk yang dicurigai menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.
“Semuanya ini tergantung pasti dari daya tahan tubuh. Terus waktu lamanya konsumsi bisa jadi, ada yang baru saja mulai konsumsi, ada juga yang mulai dari hari Minggu atau hari Senin itu konsumsinya,” jelasnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
Dinkes Kabupaten Magelang masih melakukan penyelidikan epidemiologi dan mengumpulkan informasi untuk mengetahui faktor yang berkaitan dengan munculnya kasus tersebut.
Masyarakat yang mengalami muntah, diare, tubuh lemas, atau gejala lain setelah mengonsumsi produk yang dicurigai sebaiknya segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. (bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar