Kisah Mbah Saodah Yang Tinggal Sendirian di Rambeanak Mungkid

BNews—MAGELANG—Seorang nenek tinggal sendirian di Desa Rambeanak, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Nenek bernama Saodah atau sering dipanggil Mbah Saodah tersebut pun mengalami kesulitan perekonomian.

Mbah Saodah tinggal disebuah rumah berukuran 4×5 meter dengan dinding anyaman bambu. Sementara di dalam rumahnya, nampak tempat tidur berada di samping dapur tanpa ada sekat.

Alat masak yang digunakan pun masih berupa tungku dan bakan bakarnya menggunakan kayu bakar. Untuk makan sehari-hari, Mbah Saodah hanya mengandalkan makanan yang diantar oleh cucunya. Namun ternyata, makanan yang diantar itu tidak setiap hari. Bahkan Mbah Saodah pernah ”puasa” tiga hari.

Hal ini diungkapkan Mbah Saodah kepada Ketua Umum Persatuan Istri Tentara Kartika Chandra Kirana (Persit KCK) Hetty Andika Perkasa., Bersama rombongan dan relawan komunitas Sandal Jepitan Bareng, Budi Irawanto dalam channel Youtube Persit Pusat.

Pertemuan mereka bermula saat Hetty menegur Mbah Saodah yang duduk di kursi bambu diluar rumah tanpa menggunakan masker. “Ibu, di mana maskernya,” tegur Hetty.

Hetty khawatir Mbah Saodah terpapar Covid-19, sehingga ia langsung meminta ajudan nya untuk memakaikan masker pada Mbah Saodah. Dalam pertemuannya, Mbah Saodah sempat menceritakan keadaannya kepada istri Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa itu yang didampingi Budi.

Berdasarkan informasi dari Mbah Saodah, dulu hubungan dengan menantunya memang sempat berjalan kurang baik. Namun sekarang sudah membaik. Anak, menantu dan cucunya juga silih-berganti mengantarkan makan satu piring setiap hari kepadanya.

Loading...
Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

”Iya lah sayang, mantu kita kan kayak anak kita,” kata Hetty mengomentari cerita Mbah Saodah.

Usai bercerita, Mbah Saodah mengajak Hetty dan rombongan memasuki rumah untuk makan bersama-sama. Namun, ajakan itu ditolak oleh Hetty secara halus.

”Mbah, saya kan pakai masker (respirator CleanSpace Halo) ini susah bukanya. Kalau enggak pakai ini, ya saya jajal (makanannya),” kata dia.

Mbah Saodah tak sungkan menawarkan makanan kepada Hetty. Meski lauk yang tersedia merupakan sisa kemarin malam. Hetty pun sempat bercanda kepada Nenek Saodah, ”Aduh Mbah, apalagi ini yang mau dipamerkan ke saya? Mengajak makan, ada makanan sisa kemarin, hehehe,” ujarnya sembari tertawa.

Sebelum pamit, Hetty memberikan sembako dan amplop berisi uang tunai kepada Mbah Saodah. ”Buat si Mbah, tanda sayang saya. Jaga kesehatan ya Mbah,” kata Hetty sembari memeluk simbah.

Selain itu, ia juga memberi santunan senilai Rp10,8 juta untuk mencukupi pangan simbah selama. Uang tersebut dititipkan kepada tetangga Mbah Saodah.

”Saya kasih uangnya ya, Rp10.800.000 untuk memasakkan si mbah. Setiap hari (untuk masak) Rp30.000. Jadi selama setahun, mbah harus makan,” kata Hetty kepada tetangga tersebut. (*/mta)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: