Kisah Parmin, Seorang Guru Datangi Muridnya di Kaki Gunung Merapi Merbabu

BNews–BOYOLALI– Terkendala akses internet di lereng gunung Merbabu ini membuat seorang guru harus terjun lapanga. Ia adalah Parmin, 58, yang harus menepuh jarak 20 km untuk mendatangi murid-muridnya di kaki gunung Merapi dan Merbabu.

Parmin adalah salah satu Gutu dari SDN Nenden Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Dirinya turun langsung mendatangi rumah-rumah anak didiknya untuk memberikan pengajaran di masa pandemi COVID-19.

Namun perjuangan Parmin untuk memberikan pengajaran kepada anak-anak didiknya itu tidaklah mudah. Parmin harus menempuh jarak sekitar 20 km setiap harinya. Melewati tanjakan, turunan, serta jalanan sempit yang terletak di kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, Selo, Boyolali.

“SDN Senden itu ditutup pada bulan Maret. Hari kamis masuk terakhir, lalu hari Jumat ditutup. Kemudian hari Sabtu, saya mencari murid saya. Saya cari rumahnya di mana, kemudian langsung saya buat kelompok belajar,” jelasnya, dikutip Kumparan(27/10).

Parmin menerangkan bahwa alasan dirinya mau menempuh jarak sekitar 20 km dari rumah setiap harinya adalah karena sejalan dengan arah mengantar istrinya yang berjualan di Pasar Cepogo.

Selain itu, pembelajaran lewat tatap muka dirasanya dapat mendidik karakter anak menjadi lebih menurut dibandingkan dengan pembelajaran lewat daring.  

“Kenapa saya memilih mengajar di sini, karena istri saya jualan di Cepogo. Jadi kalau tiap pagi kan bareng sama saya berangkatnya, lalu pulang nanti saya jemput. Kemudian kalau tatap muka seperti ini kan saya bisa langsung mengamati pekerjaan anak. Saya bisa mendidik karakter anak itu menjadi anak yang menurut dan tambah dewasa. Kepandaian emang nomor satu, tetapi karakter juga diutamakan biar nurut sama orang tua,” terangnya.

Loading...
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Sudah selama kurang lebih 7 bulan mengajar dengan mendatangi para anak didiknya ke rumah-rumah. Parmin mengungkapkan bahwa selama adanya pandemi COVID-19 belum pernah ada bantuan uang, handphone maupun wifi dari pemerintah.  

“Saya mengajar sudah selama 7 bulan itu ya tidak mendapatkan anggaran dari sekolah. Dari mana-mana juga tidak dapat, ya itu inisiatif saya sendiri, bensin saya juga beli sendiri,” ungkapnya.

Parmin saat mengajar anak didiknya di salah satu rumah warga di kaki gunung merapi merbabu
Parmin saat mengajar anak didiknya di salah satu rumah warga di kaki gunung merapi merbabu

Setiap harinya Parmin harus memberikan pengajaran kepada anak didiknya selama setengah jam dengan berpindah-pindah ke-7 dukuh yang ada di Kabupaten Boyolali dengan menggunakan sepeda motor.

“Berhubung dukuhnya ada 7, setiap hari saya  mulai dari jam 07.30 sampai jam 12.00 WIB. Kemudian setiap pertemuan setengah jam pindah-pindah. Untuk mengajarnya sendiri saya sebenarnya mengajar untuk kelas 4. Namun kalau ada dari kelas lain mau gabung saya persilakan,” imbuhnya.

Di akhir kesempatan, Parmin berharap agar pandemi di Indonesia ini segera cepat berakhir dan anak-anak dapat bertatap muka secara langsung dengan gurunya.  

“Harapan saya supaya pandemi di Indonesia ini cepat berakhir. Anak-anak semuanya di seluruh Indonesia bisa bertatap muka. Seperti saya ini dengan langsung sehingga anak itu dapat belajar dengan tekun, dengan semangat, dan guru bisa mendidik karakter anak,” pungkasnya. (*/Lubis)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: