Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Tradisi Ruwat Rawat Borobudur Diajukan Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Tradisi Ruwat Rawat Borobudur Diajukan Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

  • calendar_month Ming, 28 Sep 2025

BNews—MAGELANG— Lebih dari dua dekade konsisten melestarikan tradisi di kawasan Candi Borobudur, perhelatan Ruwat Rawat Borobudur (RRB) oleh Komunitas Brayat Panangkaran Borobudur, Kabupaten Magelang, diusulkan masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.

Kabar tersebut disampaikan Tokoh Brayat Panangkaran, Sucoro Setrodiharjo, Sabtu (27/9).

“Kabar gembira itu hasil kerja tim selama ini, 23 tahun lebih menggelar RRB,” kata budayawan berusia 74 tahun tersebut.

Menurut Sucoro, usulan RRB menjadi Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO itu bermula dari sebuah tulisan artikel hasil penelitian yang tayang di salah satu jurnal internasional.

Saat ini, lanjut Sucoro, kabar tersebut baru masuk ke proses pembahasan dan ia berharap usulan itu diterima UNESCO.

“Ini (kabar) masih di tataran kita sendiri, suatu kebanggaan karena tulisan itu direspon oleh jurnal internasional,” jelasnya.

Sementara itu, Novita Siswayanti selaku penulis utama artikel menceritakan bahwa usulan ke UNESCO itu bermula pada 2023; saat dirinya melakukan riset tentang nilai spiritualitas yang diusung Ruwat Rawat Borobudur dalam menjaga identitas nasional.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Novita menjelaskan hasil penelitian mandiri tersebut diajukan dan telah dipublikasikan di Jurnal Heritage & Society, jurnal bereputasi tinggi Q1.

Tulisan itu dibuat bersama Pak Sucoro dan penelitian sudah berlangsung lebih dari tiga tahun melalui observasi partisipan pada 12 acara ritual RRB; oleh Brayat Panangkaran.

Penelitian itu juga melibatkan wawancara dengan 12 narasumber kunci lengkap dengan dokumentasi visual mulai dari Sedekah Bumi; diskusi budaya dan situs cagar budaya, hingga pertunjukan Karmawibangga.

Kemudian, lanjut Novita, pada 30 Oktober 2024 artikel hasil riset selama tiga tahun bertajuk Revitalisasi Candi Borobudur; Mengeksplorasi Dimensi Budaya dan Spiritual Melalui Ruwat Rawat untuk Identitas Nasional tersebut dikirim ke sejumlah jurnal internasional.

Selang satu tahun, tepatnya pada 25 September 2025, Jurnal Heritage & Society yang merupakan jurnal bereputasi tinggi menerbitkannya secara online.

“Di situ kita merekomendasikan RRB bisa menjadi bagian dari penghargaan Heritage tak benda seperti tradisi Grebeg Lempeng; yang ada di Sumberarum Tempuran,” tutur Novita.

Novita menambahkan, RRB diusulkan ke UNESCO karena kegiatannya menopang ekosistem spiritual Candi Borobudur di tengah globalisasi pariwisata. Dalam kurun waktu 23 tahun, kegiatan RRB juga mengedepankan semangat Bhinneka Tunggal Ika meski kadang minim donasi dari sejumlah sumber. (bsn)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less