Viral Curhatan Santri Meninggal dan Dipaksa Tanda Tangan Pernyataan Mengidap Covid-19

BNews—NASIONAL— Media sosial digegerkan dengan curhatan seoerang nitizen. Dimana, seorang santri berusia 13 tahun meninggal dan diminta menandatangani surat pernyataan meninggal karena Covid-19.

Postingan diunggah oleh pemilik akun Arya Riza Elsafi. Dia mengeluh di akun facebook. Hingga kini postingan sudah disukai 10 ribu dan komentar hingga 4000 lebih.

Dia menceritakan santri berusia 13 tahun itu meninggal dunia gara-gara terlambat dirujuk dari rumah sakit swasta di Mojokerto. Korban merupakan santri perempuan berinisial SS 13, warga Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. SS mondok di salah satu pesantren di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Keterlambatan terjadi karena pihak rumah sakit memaksa keluarga menandatangani surat pernyataan jika santri tersebut mengidap COVID-19.

Sementara pihak keluarga bersikukuh bahwa korban memang tidak kena COVID-19. Curhatan tersebut diunggah akun Arya Riza Elsafi di salah satu grup Facebook di Mojokerto. Selama dua hari terakhir, curhatan ini disukai 10.168 kali dan menuai 4.327 komentar dari warganet.

“Karena kecewa dengan pelayanan rumah sakit tersebut, pihak keluarga meminta pasien dirujuk. Namun, pihak rumah sakit mempersulit rujukan dengan dalih prosedur penanganan COVID-19,” kata dia.

“Pihak keluarga saya minta pindah rs alias rujuk, diizinkan, tp harus ttd covid… ya jelas pihak kita tdk semudah itu menandatangani surat pernyataan tersebut, karna maaf… isi surat pernyataan tersebut terkesan memaksa dan harus mengakui bahwa ponakan saya positif covid, kita ttp tdk mau, alhasil adu mulut tdk terhindarkan lagi…pihak keluarga ttp dipaksa untuk menandatangani pernyataan tersebut, ttp kita ndak mau, dan mau menandatangani yg diluar pernyataan covid.. karena yg disodorkan ke kita ada 5 poin, 3 poin diantaranya tentang covid. Mau minta rujukan saja terkesan dipersulit, atau dilama2in. Akhirnya kita rujuk paksa dan mereka izinkan, tp innalillahi wa inna ilaihi roji’un… ponakan saya meninggal ditengah perjalanan,” tulis Arya Riza Elsafi.

Curhatan tersebut ternyata dibuat dan diposting paman korban berinisial AR, 28) warga Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

“Saya tidak terima dengan pelayanan rumah sakit tersebut. Kondisi keponakan saya sudah gawat masih diperumit dengan alasan COVID-19. Harapan saya biar masyarakat lebih teliti kalau diminta menandatangani surat pernyataan apapun, terlebih lagi terkait Corona,” kata AR menjawab alasannya membuat positingan yang viral tersebut, Jumat (2/10/2020).

AR menjelaskan keponakannya sakit karena terjatuh saat menjemur pakaian di pondok. Santri berusia 13 tahun itu pulang dari pondok pada Senin (28/9). Keesokan harinya, Selasa (29/9) siang, korban mengalami kejang-kejang. Sehingga dibawa orang tuanya ke sebuah rumah sakit di Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.
Saat di IGD rumah sakit swasta tersebut, lanjut AR, tenaga medis sempat memasang selang ke hidung keponakannya untuk mengalirkan oksigen. Namun, keluarga pasien meminta selang itu dilepas karena dianggap belum dibutuhkan. Korban mengalami pendarahan ringan dari hidungnya saat selang dilepas. Sehingga pasien kembali kejang-kejang.

“Lalu dikasih suntikan sehingga kembali tenang. Sekitar Magrib, keponakan saya kejang lagi. Keluarga menilai penanganan rumah sakit kurang maksimal, sehingga minta dirujuk ke rumah sakit lain,” terangnya. (her/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: