Bahan Baku Naik, Kerajinan Batu Merapi Sepi Pembeli Akibat Pandemi

BNews—MUNTILAN—Masa pandemi sangat mempengaruhi kegiatan produksi para Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satunya pada UMKM  pahat batu di Desa Tamagung, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.

Joko Wiyatno, salah satu pemilik kerajinan batu di Desa tersebut mengaku omzet penjualannya turun semenjak pandemi Covd-19. Ia menyebut harga bahan baku untuk pembuatan kerajinan naik selama pandemi.

”Sebelum pandemi dan sekarang harga bahan naiknya dua kali lipat, dulu harganya hanya Rp 600 ribu sekarang bisa Rp 1-1,2 juta. Itu baru bahannya, belum pengerjaannya,” katanya, hari ini (18/9/2020).

Kendati harga bahan baku naik, ia mengakui tetap menjual karnyanya itu dengan harga yang sama dengan harga sebelumnya. Namun ia memangkas biaya lainnya. ”Pelanggan tahunya kan harga sebelum pandemi, jadi kita menekan biaya ongkos dan menekan waktunya,” terang Joko.

Dia menjelaskan, ada tiga macam batu yang dipakai yaitu batu andesit dari pegunungan Merapi, batu putih dari Wonogiri, dan breksi dari Prambanan. Dirinya mendirikan usaha tersebut sejak tahun 2014. Barang yang dijualnya beraneka ragam, mulai dari patung, hiasan rumah, pot bunga, dan lain sebagainya.

”Saya sendiri mendirikan ini tahun 2014, namun sebenarnya ini adalah usaha turun temurun sejak tahun 1984 silam,” jelas dia.

Sementara untuk harga, Joko menyebut tergantung pesanan namun rata-rata mencapai jutaan rupiah. ”Kalau harga relatif, contohnya patung gupala satu meter, dua pasang, pakai batu asli warna hitam harganya Rp 25 juta, ” ungkap Joko.

Loading...
Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Lebih lanjut, Joko mengungkapkan bahwa untuk pemasarannya dilakukan dengan menyediakan galeri di depan rumah dan melalui media sosial. Dirinya juga sudah memiliki pelanggan tetap.

”Kita ada konsumen tetap, entah itu dari dalam atau luar negeri. Kalau yang luar, selama ini ada dari Singapura, Malaysia, Belgia, Korea, macam-macam lah,” terang Joko.

Tambah Joko, ia dan beberapa warga desa yang berprofesi serupa memiiliki paguyuban untuk saling memberikan pembinaan. Paguyuban tersebut bernama Kluster Batu.

”Kita sebisa mungkin membina baik dari produksi atau harga. Bisa disamakan kisaran berapa sampai berapa, yang pasti tidak terlalu mahal tapi tidak murah juga, karena ini sentra batu. Kegiatan paguyuban ini lebih sering ke pembinaan pengkatan produksi dan sering mengadakan pameran juga,” pungkasnya. (magang/mta)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: