Bripka Kukuh, Polisi Ramah yang Aktif Tularkan Virus Membatik

SIANG hari di Pondok Tingal Wanurejo Borobudur.  Seorang polisi nampak sedang menjadi pembicara. Suaranya lantang, bicaranya lugas. Sesekali juga tersenyum.
Layaknya polisi pada umumnya, pakaian dinasnya rapi. Tapi agak berbeda kali ini, dia menyilangkan sebuah kain batik di pinggangnya.
Seperti sudah terbiasa, dia nampak tidak canggung. Sesekali dia membuka ruang untuk diskusi. Kebetulan peserta kali ini adalah mahasiswa. Mahasiswa dari Institu Kesenian Jakarta (IKJ). Hari itu dia mengajarkan cara membantik. Ya, membatik.
Polisi itu adalah Bripka Kukuh Tirto Satria. Tugas di Satlantas Polres Magelang. Selain berprofesi sebagai polisi seperti kebanyakan, dia punya pengabdian lain. Pengabdian yang dia dedikasikan untuk warga sekitar tempat tinggalnya di Tingal Desa Wanurejo Kecamatan Borobudur.
Sejak dua tahun belakangan, pria kelahiran 24 Mei 1983 ini memang aktif menggerakkan anak-anak muda sekitar tempat tinggalnya. Diberdayakan. Diajak berkegiatan. “Sejak awal tinggal di sini, pendekatan awal memang ke anak-anak muda,” katanya.
Berbagai keahilannya di luar kepolisian ditularkan. Mulai kegiatan fotografi hingga videografi. Nah, yang paling menarik, suami dari Lydia Puspita ini memiliki keterampilan membantik. Bukan batik biasa. Batik yang dirintisnya adalah batik tarum borobudur.
Batik karyanya ini memiliki ciri khas berbeda. Juga ada nilai ekslusifnya. Batik yang dia buat menggunakan pewarna alami.  Sesuai namanya batik ini diwarnai dari pewarna alami dari pohon tarum.
Menurut Kukuh untuk menghasilkan sehelai kain batik tarum, dibutuhkan proses yang panjang. Mulai merancang desain motif, kemudian membuat pola (sket gambar), canting, pewarnaan sampai lorot.
“Saya membuat batik Tarum Borobudur dengan motif daun kalpataru dan dipadu motif relief Candi Borobudur. Setiap batik Tarum Borobudur adalah spesial edition karena kami hanya membuat satu motif satu batik,” kata Kukuh.
Alhasil, dengan ciri khas dan keunikannya itu, batik tarum borobudur ciptaannya banyak diminati. Tidak hanya dari dalam negeri. Batiknya sudah terbang ke berbagai negara. Amerika, Inggris dan lain sebagainya.
Namun, Kukuh tak ingin kesuksesannya dibangun sendiri. Dia mengajak anak-anak muda di sekitar tempat tinggalnya untuk berkreasi bersama.
Tidak hanya diajarkan membantik, mereka juga diajak bertukar pikiran tentang ide dan motif batik yang bisa dikembangkan. Kini, dia tak hanya membina pembatik di sekitar Borobudur saja. Bahkan, dia juga aktif mengajarkan batik hingga ke Desa Ngargoretno Salaman.
“Ini juga bagian proses pengabdian kepada masyarakat. Juga saya ingin polisi dikenal lebih dekat dengan masyarakat. Begitu sudah dekat maka program kepolisian bisa tersampaikan dengan mudah,” pungkas polisi yang pernah menerima Satya Lencana Pengabdian VIII ini. (bn1)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: