Embun Es Kembali Muncul di Dieng, Lebih Awal Dari Biasanya

BNews—BANJARNEGARA— Fenomena embun es atau biasa disebut bun upas oleh masyarakat lokal di Dieng, Banjarnegara kembali muncul pada Senin (10/5/2021) pagi. Fenomena ini merupakan kejadian pertama di tahun 2021.

Embun es itu tampak di area Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, dan lahan pertanian di sekitarnya.

“Masih tipis-tipis. Lebih awal tahun ini. Munculnya biasa di area candi itu,” kata Kepala Desa Dieng Kulon, Slamet Budiono, Senin malam. Dilansir dari Liputan6.com.

Menurut dia, kemunculan embun es pada Mei tak lazim, meski juga pernah terjadi. Pada 2019 lalu, fenomena di luar kebiasaan itu juga terjadi.

Kemunculan embun es yang lebih awal membuat membuat petani di Dieng ketar-ketir karena belum menyiapkan antisipasi. Pasalnya, embun es bisa membuat tanaman kentang dan sayuran lainnya mati. Namun, untuk kemunculan kali ini belum begitu berdampak karena embun es masih tipis.

Slamet juga mengungkapkan, jika sudah muncul sekali, biasanya embun es akan kembali muncul dengan waktu dan ketebalan es yang sulit diprediksi. Yang harus diwaspadai adalah embun es tebal yang dapat mematikan tanaman.

“Itu sebenarnya antisipasinya itu kan di bulan Juni sampai Agustus. Eh ternyata Mei ini saja sudah muncul,” ungkapnya.

Petani biasa mengantisipasi dampak embun es dengan memasang paranet, plastik, atau kelambu di atas lahan pertanian untuk mengurangi ketebalan embun yang menempel dan membeku di tanaman.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Soal fenomena tersebut, Kepala Stasiun Geofisika Badan Mateorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banjarnegara, Setyoajie Prayodhie mengatakan berdasarkan analisa citra satelit himawari tanggal 8 – 10 Mei 2021, pertumbuhan awan konvektif aktif pada pagi hari tanggal 8 Mei dan berangsur berkurang secara signifikan pada siang hingga sore hari.

Menjelang dini hari tanggal 9 Mei perawanan cenderung cerah dan tipis hingga tanggal 10 Mei dini hari. Energi panas matahari yang terpantul dari bumi langsung hilang ke atmosfer, sehingga tidak ada pantulan balik ke bumi.

“Kondisi ini jika terjadi terus menerus menyebabkan udara semakin dingin. perlu diketahui bahwa tanah lebih mudah menyerap panas dan lebih mudah melepaskan panas, ditambah lagi dengan topografi Dieng yang berupa dataran tinggi,” kata Ajie.

Hasil observasi suhu pada AWS Batur menunjukkan bahwa pada tanggal 9 Mei pukul 18.50 WIB terukur suhu sudah mulai dibawah 10 derajat Celsius. Mulai pukul 22.30 WIB hingga 10 Mei pukul 06.30 WIB suhu terukur dibawah 5 derajat Celsius dengan variasi 3, derajat Celsius hingga 5 derajat Celsius.

“Berdasarkan data pengukuran suhu menunjukkan penurunan suhu yang cukup signifikan. Hingga mendekati nol derajat yang berpotensi terbentuknya mbun upas di permukaan tanah,” jelasnya.

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah Dieng untuk lebih mengenal tanda-tanda alam yang berpotensi terjadi bun upas. Kemudian para petani aktif berkonsultasi dengan PPL Pertanian, bagaimana memperlakukan tanaman sehingga dapat meminimalisir dampak kerugian akibat bun upas. (mta)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: