Gangguan Jiwa Ternyata Dapat Menular ke Sesama? Ini Penjelasan Ahli

BNews—MAGELANG— Konon gangguan jiwa bisa menular kepada antarmanusia. Bahkan, anggapan tersebut membuat kebanyakan orang merasa enggan berada dekat-dekat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Benarkah demikian?

Sebaiknya mulai sekarang Anda mulai menyingkirkan anggapan gangguan jiwa bisa menular. Penyakit bisa dikatakan menular jika berasal dari infeksi virus, bakteri atau jamur yang memiliki kemampuan berpindah-pindah antarorang melalui kontak fisik langsung.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) yang dicatat oleh Kementerian Kesehatan, sedikitnya ada sekitar 14 juta orang di Indonesia yang memiliki gangguan jiwa ringan, seperti gangguan kecemasan atau depresi. Sementara 400 ribu ODGJ berat seperti skizofrenia atau yang biasa disebut gila.

Kendati bukan merupakan penyakit menular, gangguan jiwa dapat dikategorikan sebagai penyakit keturunan. Gangguan jiwa umumnya terjadi pada orang yang keluarga sedarahnya juga memiliki gangguan jiwa

Gen tertentu mampu meningkatkan risiko Anda terkena gangguan jiwa. Situasi penuh stres atau kejadian traumatis dalam hidup Anda dapat memicu gen tersebut aktif di kemudian hari.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Jika seseorang yang punya skizofrenia menikah dengan sesama penderita skizofrenia, maka peluang anaknya tumbuh besar memiliki skizofrenia juga akan semakin besar. Meskipun belum tentu seorang pasien skizofrenia lahir dari ayah ibu yang salah satunya skizofrenia.

Situasi penuh stres atau kejadian traumatis dalam hidup Anda di masa lalu bisa memicu gen tersebut aktif di kemudian hari. Gen tertentu yang Anda wariskan dari salah satu atau kedua orangtua Anda tentunya dapat meningkatkan risiko Anda terkena gangguan jiwa.

Contohnya; menerima kekerasan atau pelecehan fisik atau seksual semasa kecil, pola asuh orang tua yang terlalu keras, stres berat jangka panjang. Termasuk asupan alkohol atau obat-obatan yang Anda dapat selama dalam rahim dari ibu yang minum alkohol terkadang dikaitkan dengan kemunculan gangguan jiwa.

Bukan itu saja, kerusakan otak yang dapat memicu gangguan jiwa juga bisa disebabkan oleh penyalahgunaan alkohol atau narkoba. Termasuk dikarenakan cedera berat pada kepala, atau kecacatan saat lahir.

Sejatinya, kesan gangguan jiwa menular bisa diartikan sebagai penularan lewat emosional. Penelitian yang dilakukan kepada 10 ribu mahasiswa tahun pertama yang tinggal di asrama kampus dengan teman sekamar menunjukkan gangguan kecemasan dapat menular.

Penelitian tersebut menemukan bahwa ternyata depresi lebih menular ketika orang yang mengalami depresi enggan menceritakan masalahnya ke orang lain. Namun selama bagaimana cara Anda menangani stres dan daya tahan Anda terhadap stres terbilang cukup baik, maka Anda mungkin lebih kebal dari ‘ketularan’ penyakit jiwa.

Banyak yang beranggapan bahwa gangguan jiwa hanyalah penyakit yang diderita oleh orang di Rumah Sakit Jiwa. Mereka enggan berobat karena tidak ingin dikatakan gila. Padahal gangguan jiwa merupakan kondisi serius yang membuat seseorang tidak bisa sepenuhnya mengendalikan perasaan, pikiran, dan perbuatannya.

Kabar baiknya, gangguan jiwa bisa diatasi dan dipulihkan sepenuhnya. Baik dengan penanganan yang tepat seperti; psikoterapi, konseling, dan obat yang diresepkan dokter, gangguan jiwa bisa disembuhkan. (hil/ifa)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: