Kontroversi Adanya Bilik Asmara Di Pengungsian Merapi Sleman, Ini Alasannya

BNews–SLEMAN– Kontroversi terjadi dengan adanya bilik asmara di barak pengungsian Merapi di kawasan Sleman, DIY. Hal ini membuat sejumlah pihak menilai tenda khusus yang diberi nama bilik ayah bunda itu tidak diperlukan.

Pasalnya kebanyakan pengungsi yang tinggal di pengungsian Merapi adalah manula. Hal tersebut disampaikan Ketua Komunitas Siaga Merapi (KSM) Rambat Wahyudi ditemui di barak pengungsian Balai Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Senin (30/11/2020).

“Yang mengungsi kan mayoritas lansia. Jadi ini masih terlalu dini dibuat karena tidak mungkin lansia akan menggunakannya,” kata Rambat Wahyudi. dikutip dari Detik (1/12/2020).

Dia menambahkan, bilik asmara itu sudah dibangun beberapa hari lalu oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Sleman. Tetapi sampai saat ini dia belum tahu pasti bagaimana mekanisme penggunaannya.

“Itu sejak kemarin sudah ada, yang bangun Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Kalau mekanisme penggunaannya seperti apa saya sendiri kurang paham karena belum ada koordinasi,” sebutnya.

Bilik asmara atau bilik ayah bunda itu juga disoroti Ketua Komisi A DPRD Sleman, Ani Martanti. Menurutnya saat ini belum ada urgensi pembangunan tempat tersebut. Apalagi fakta di lapangan menyebut kebanyakan pengungsi adalah manula dan anak-anak.

“Itu (bilik ayah bunda) sebaiknya jangan dulu karena saat ini yang evakuasi itu lansia dan anak-anak,” kata Ani saat melakukan monitoring di barak pengungsian Kalurahan Glagaharjo.

DOWLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Ani justru khawatir keberadaan bilik asmara itu nantinya dipertanyakan oleh anak-anak pengungsi. Apalagi lokasinya berada persis di sebelah gedung yang dipakai sebagai barak pengungsian.

“Saya kira itu dipindah (ke tempat lain) sehingga anak-anak tidak berfikir ini (bilik ayah bunda) digunakan untuk apa,” pintanya.

Menanggapi kontroversi tersebut, Kepala Dinas P3AP2KB Sleman, Mafilindati Nuraini, mengatakan pembangunan bilik asamara atau ayah bunda itu merupakan langkah persiapan.

“Waktu kunjungan Gubernur mengatakan perlu menyiapkan bilik untuk pasangan suami istri. Jadi ini antisipasi saja untuk menyiapkan sarana untuk pasangan suami istri,” kata Mafilinda.

Dia menambahkan bilik tersebut belum sempurna. Nantinya akan dibuat aturan khusus tentang yang berhak menggunakan ruangan tersebut.

“Jadi kita sudah membuat juknis harus dipastikan itu pasangan suami istri sah, jadi lapor ke pos keamanan mau menggunakan itu, dan penggunaannya dibatasi, ada buku juga untuk mendata.  Kita bukan serta-merta digunakan sekarang, kita menyiapkan. Kan kita tidak tahu akan berakhir kapan, mau bagaimana statusnya (Merapi). Ini untuk sisi kemanusiaan kita bangunkan yang aman, safety untuk yang membutuhkan,” tandasnya. (*/islh)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: