Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Kradenan Srumbung Catat Sejarah, Paserean KRT Djayaningrat II Jadi Cagar Budaya

Kradenan Srumbung Catat Sejarah, Paserean KRT Djayaningrat II Jadi Cagar Budaya

  • calendar_month Sen, 2 Feb 2026

BNews-MAGELANG – Tradisi Ruwahan yang digelar setiap bulan Ruwah kembali dilaksanakan oleh Trah KRT Djayaningrat II bersama masyarakat Desa Kradenan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, 13 Ruwah atau bertepatan dengan 1 Februari 2026 ini sekaligus menjadi momentum penting dengan diresmikannya Paserean KRT Djayaningrat II sebagai Struktur Cagar Budaya.

Sekitar 1.000 orang dari berbagai elemen masyarakat hadir dan berkumpul di halaman makam serta Joglo Pendopo Paserean KRT Djayaningrat II.

Rangkaian acara diawali dengan ziarah dan tahlil model Mataraman yang diikuti seluruh peserta, dilanjutkan dengan prosesi seremonial penyadranan (ruwahan) serta pembacaan Manaqib KRT Djayaningrat II.

Ketua Panitia Penyadranan, R. Amirudin Zuhri, menyampaikan bahwa tradisi ruwahan ini merupakan rutinitas turun-temurun yang sarat nilai spiritual sekaligus menjadi media silaturahmi.

“Acara rutinitas tradisi ini memiliki nilai spiritual yang tinggi dan telah berjalan turun-temurun. Penyadranan menjadi media silaturahim warga Desa Kradenan dan Trah KRT Djayaningrat II yang kini telah tersebar lintas kabupaten, provinsi, bahkan lintas negara,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut terselenggara berkat semangat gotong royong antara Trah Djayaningrat II dan masyarakat Desa Kradenan sebagai wujud kecintaan terhadap sosok KRT Djayaningrat II.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

“Ini merupakan wujud rasa kecintaan masyarakat terhadap KRT Djayaningrat II, yang diyakini sebagai sosok spiritual keagamaan sekaligus kenegarawanan. Beliau dikenal sebagai Bupati pertama Remame yang wilayahnya mencakup Kedu Selatan dan wafat pada tahun 1787,” imbuhnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut unsur Muspika Kecamatan Srumbung, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang; para kiai dan ulama, tokoh masyarakat, akademisi, serta Bupati Kepala Daerah Kabupaten Magelang, Grengseng Pamuji.

Dalam sambutannya, Bupati Grengseng Pamuji menegaskan bahwa Kadipaten Remame merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Kabupaten Magelang dan sejarah bangsa Indonesia.

“Kadipaten Remame adalah perjalanan sejarah Kabupaten Magelang yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa; baik dalam peran kenegaraan maupun spiritual keagamaan yang bersinergi membentuk karakter bangsa,” tegasnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada warga Desa Kradenan, pemerintah desa, dan Trah Djayaningrat II atas konsistensinya dalam melestarikan tradisi.

“Pelestarian tradisi penyadranan gung yang memadukan nilai spiritual dan budaya lokal ini merupakan warisan penting; sekaligus pengingat perjalanan panjang para pendahulu kita,” katanya.

Menurut Bupati, Paserean KRT Djayaningrat II memiliki nilai arsitektur tinggi, simbol spiritual yang kuat, usia yang panjang; serta latar belakang sejarah yang jelas.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

“Dengan mempertimbangkan nilai arsitektur, spiritual, dan sejarahnya, Paserean KRT Djayaningrat II memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai Struktur Cagar Budaya,” jelasnya.

Penetapan tersebut dituangkan dalam Keputusan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Magelang Nomor 180.182/71/Kep/04/2026; yang secara resmi menetapkan Paserean KRT Djayaningrat II sebagai Struktur Cagar Budaya.

Manaqib KRT Djayaningrat II: Potret Menyatunya Satriya dan Pandita

Manaqib KRT Djayaningrat II merupakan hasil penelitian M. Yasir Arafat, dosen UIN Sunan Kalijaga dan peneliti makam-makam tua Nusantara.

Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa KRT Djayaningrat II merupakan menantu Sultan Hamengkubuwono I serta memiliki nasab; yang kuat dari jalur bangsawan, ulama, dan raja-raja Islam Nusantara.

Dipandang dari sisi nasab dan kiprah sejarahnya di Keraton Ngayogyakarta, KRT Djayaningrat II menjadi representasi; menyatunya darah Satriya (Umaro) dan Pandita (Ulama).

Kombinasi tersebut mencerminkan konsep pandita-satriya, yakni keselarasan antara kekuasaan, spiritualitas; dan kebijaksanaan yang menjadi fondasi penting dalam perjalanan sejarah Jawa dan kesultanan Islam di Nusantara. (bsn)

About The Author

Embed HTML not available.
  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less