Menatap Gagahnya Elang Jawa Terbang Rendah Di Atas Pasar Temon Pinggir Sawah

BNews–MAGELANG-– Desa Sambak yang berada di sisi barat Kabupaten Magelang, secara resmi memang belum menyandang status sebagai desa wisata. Tetapi kreatifitas warganya dalam mengundang orang luar untuk berkunjung ke desa tersebut patut diapresiasi. Misalnya yang sedang viral adalah Kedai Kaliwot, sebuah tempat makan yang menawarkan pengalaman unik makan di atas aliran sungai.

Tapi Kaliwot ternyata hanya satu hal, masih ada keunikan serupa yang sangat sayang untuk dilewatkan, ialah Pasar Temon Pinggir Sawah.

Sesuai namanya, pasar berkonsep wisata kuliner jaman dulu ini digelar persis di tepian sawah. Nuansa pedesaan benar-benar terasa di acara ini. Bukan semata karena produk yang dijual adalah makanan tradisional, namun juga kostum ibu-ibu pedagangnya. Semua mengenakan kebaya lengkap dengan caping sebagai penutup kepalanya.

Pasar yang dikelola oleh BUMDES Kartadesa ini hanya digelar dua kali dalam sebulan, yakni pada hari Minggu Pond an Minggu Wage saja. Setiap hari pasaran setidaknya ada seratusan macam makanan khas desa Sambak yang dijajakan. Mulai dari geblek, sinapun, klemet, gethuk, sate gedang, klepon, pepes ikan asin sampai es dawet.

Lumayan lengkap dan kalau ke sini disarankan jangan terlalu siang nanti kehabisan. Di hari pasaran, sekitar pukul 9 pagi pengunjung biasanya sudah sangat ramai.

“Kalau jam bukanya dari jam 7 pagi sampai sekitar jam 12 siang. Tapi biasanya jam 11 gitu sudah banyak yang habis dagangannya,” kata Tutik Purwaningsih, kepala unit Pasar Temon Pinggir Sawah.

Ia menjelaskan bahwa untuk masuk ke area pasar, pengunjung tidak dikenakan biaya apa-apa. Hanya bayar parkir kalau bawa kendaraan. Lokasi Pasar Temon Pinggir Sawah ini memang tidak di tepi jalan utama Desa Sambak. Dari jalan utama masih masuk sekitar 700 meter, tapi jalannya sudah bagus, bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Yang juga cukup memanjakan mata pengunjung adalah karena pasar ini memiliki latar belakang hutan Potorono yang rimbun dan lebat pohonnya. Hutan Potorono ini cukup spesial, karena merupakan tempat tinggal dari satwa langka yang dilindungi yakni elang jawa. Konon elang jawa ini sebenarnya adalah burung garuda yang menjadi lambang negara Republik Indonesia. Burung ini cukup sering terlihat terbang rendah di atas area pasar Temon Pinggir Sawah lho.

Dikatakan Tutik, dulu sebelum pandemi, setiap pasaran selalu digelar kesenian tradisional untuk memeriahkan suasana pasar. “Kalau sekarang karena masih pandemi ya tidak ada pertunjukan kesenian. Tapi meski begitu suasana pasar tetap lumayan ramai. Tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” kata dia.

Ketua BUMDES Kartadesa, Amron Muhzawawi menambahkan, adanya pasar Temon ini diharapkan bisa menggerakkan ekonomi warga desa.

“Mereka yang berjualan di sini semuanya adalah ibu-ibu yang merupakan perwakilan dari masing-masing RW yang ada di Desa Sambak. Sengaja kita atur demikian agar dampak ekonomi dari adanya pasar ini bisa dirasakan oleh semua dusun. Tidak hanya dusun yang ketempatan lokasi pasar saja,” kata Amron.

Dikatakan Amron, pasar Temon ini sudah berjalan sekitar dua tahun dan dengan konsep yang masih terjaga secara konsisten yakni hanya menjual makanan dan kerajinan khas desa Sambak.

“Jadi semua yang dijual di pasar ini 100 persen asli bikinan warga Sambak,” kata dia.

Amron berharap pasar ini bisa terus ada ke depannya. Dan bisa memberikan dampak ekonomi yang lebih besar lagi bagi seluruh warga Desa Sambak. (*/fiq)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: