Mewujudkan (Ke)Bahagia(An) Dalam Berkeluarga, “Iman dan Taqwa Jadi Pijakannya”

BNews–OPINI-– Setiap pasangan di dunia ini pasti ingin memperjuangkan untuk meraih (ke)bahagia(an). Kelelahan maupun masalah, baik fisik maupun hati tak dirasakan. Selingan muncul pula menghampiri, sesekali pertengkaran, atau bahkan badai amarah tak pernah hilang.

Acapkali muncul salah persepsi atau komunikasi yang kurang pas diantara keduanya. Misal, sikap Istri yang kurang hormat atau kurang menghargai suami; diajak berbicara baik namun kadang menjawab seenaknya; dinasehati namun tak atau enggan mendengarkan atau malah langsung menjawab dan marah-marah. Padahal dinasehati suami adalah keharusan dan yang paling harus didengarkan adalah nasehat suami setelah menikah.

Atau suami yang kadang agak emosi dan sedikit meletup amarahnya, karena merasa tak didengarkan nasehatnya atau menganggap diremehkan keberadaannya karena hal itu. Atau suami yang memang bertipikal cukup emosional; sehingga sikap enggan dan tak mau dinasehati dari Istrinya tersebut menjadi bumbu pemicu dari munculnya sikap emosional.

Banyak pasangan yang pada akhirnya menyerah kalah mengibarkan bendera putih pada keadaan yang dirasa sulit. Padahal jika keduanya menurunkan egonya, keadaan akan berangsur membaik dan tentu akan tercipta kondisi yang lebih kondusif.

Ketika saling memperbaiki sikap dan juga memahami posisi dan peran masing-masing dengan baik. Saling bantu dan melengkapi adalah salah satu cara memperbaiki. Bahkan tak sedikit juga lho, disekitar kita ada mereka yang kandas dalam mengarungi bahtera pernikahan.

Akhirnya, (ke)bahagia(an) tak mampu digapai sehingga berpisah adalah pilihan dan tak ingin melanjutkan mengembangkan layar menuju haluan yang dituju seperti kala awal bertemu dalam mengarungi bahtera pernikahan.

Hidup memang selayaknya sebuah PERJALANAN, ingat bukan “jalan-jalan.” Mesti harus tahu dan paham dengan benar siapakah kita? (who am I), dimana kita sekarang (posisi kita/standing point), dan kemana arah menuju (tujuan dan perlu peta tujuan yang jelas).

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Awalnya, biasanya akan sangat lancar, mudah, dan fine-fine saja. Seperti sebuah perjalanan diatas jalan yang baru saja diaspal. Seperti dipinggir pantai, duduk dibawah sepoi-sepoi nyiur melambai, dan desiran ombak dihadapan.

Namun, itu adalah keadaan dipinggir, itu diawalnya. Di tengah perjalanan atau ditengah mengarungi bahtera (ke)hidup(an) muncul perbincangan atau bahkan perdebatan diantara keduanya saat dihadapkan pada pilihan harus memilih jalan atau cara menuju dan mencapai tujuan. Kemudian melajulah kendaraan itu, berlayarlah bahtera tersebut itu. Dari pilihan jalan yang ada, pilihan arus yang dilewati mungkin sekali dapat saja ditemui jalan atau arus yang tak nyaman dan bergelombang besar. Kadang sangat terjal, berbatu, kasar dan rusak yang membuat suasana tak nyaman.

Kadang badai menghantam dan merusak buritan bahtera kita. Pada kondisi ini, sikap bijak dan kedewasaan perlu ada, juga ketenangan dan kesabaran perlu untuk diutamakan.

Walau mesti ada suasana keadaan dan relung hati yang sebaliknya, yakni saling menyalahkan, saling merasa benar atas pilihan sebelumnya, dan mengapa memilih arah tersebut. Hingga pada akhirnya pertengkaran tak terhindarkan dan memilih untuk mengambil jalan sendiri-sendiri serta mengabaikan tujuan awal bersama dahulu kala, yang satu menjadi Imam dan yang satu menjadi makmum bersama anak-anaknya.

Kiranya, itulah sekelumit atau bahkan potret nyata yang acapkali muncul dalam sebuah rumah tangga. Sangat tak gampang memang. Namun menghindar adalah sikap pecundang dan tak percaya keberadaan Allah Tuhan YME disisi kita.

Adalah sebuah sunatullah dan garis hidup mutlak dalam langkah setiap manusia, akan dipertemukan dengan ujian sesuai takaran dan kemampuannya. Saat inilah Allah mengukur skala keimanan dan bukti kongkrit penghambaan kita kepadaNya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

 Seperti dalam firman Allah: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-Ankabut: 2). Firman Allah: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?

Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah: 214).

Sikap kita adalah berusaha untuk senantiasa siap, dengan melakukan ikhtiar (dibaluti doa menyertai), tawakal, dan mau belajar ketika harus berjumpa dengan masalah atau ujian. Jangan sekadar menyerah kalah dan pasrah dengan keadaan.

Apalagi nafsu, keinginan menggebu dan godaan hati akan dunia semakin menarik diri kita untuk terjerumus. Perselingkuhan, menyukai “yang lain”, mengidolakan yang lain –minimal pasti- akan merusak dan menggerogoti pernikahan kita.

Semenjak awal, kita harus memiliki kesadaran diri bahwa berbagai masalah dan ujian yang dihadapi akan menjadi timbangan dari skala kualitas hidup dan keimanan kita. Bisa ujian yang berhubungan dengan harta, atau godaan “yang lain” berupa Pria dan Wanita lain, juga jabatan atau kedudukan, karir dan sikap kita yang lebih mengutamakan hal-hal tersebut dibanding mengutamakan pasangan kita atau keluarga kita.

Maka menyelesaikan masalah dengan cara bijaksana, yakni dengan tidak mengorbankan “harga diri” salah satu dari pasangan kita, misalnya dengan tidak mengorbankan “marwah” suami dan tidak menindas “derajat” suami adalah menjadi suatu keharusan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Tidak mengeyampingkan Istri kita adalah keniscayaan. Menjaga urusan atau masalah berdua, adalah semata-mata hanya untuk konsumsi berdua dan tak perlu mengajak pihak ketiga (apalagi jika itu adalah Pria atau Wanita lain) atau bahkan sampai mengorbankan dan menghancurkan marwah dan martabat pasangan di tengah pihak ketiga, adalah wajib untuk dihindari. Kita masih punya Gusti Allah tempat mengadu, tidak mengadu kepada selainNya, dan pasti bisa mengutamakan pasangan kita, dan anak-anak kita.

Ada dialog antara Rasulullah dengan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Yaa Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya dalam hidup?” Rasulullah saw menjawab: “Para Nabi dan Rasul, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang setelah mereka secara berurutan berdasarkan tingkat kesholehannya.

Seseorang akan diberikan ujian dan cobaan sesuai dengan kemampuan agamanya. Bila ia kuat, ditambah cobaan baginya. JIkalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikit pun.” (HR Bukhari).

Dalam membangun keluarga hingga menemukan (ke)bahagia(an) butuh dipersiapkan sedari awal mula, bahkan sebelum masuk ke dalam jenjang pernikahan. Bila masih sendiri, sudah saatnya memulai belajar mempersiapkan secara optimal bagaimana hidup berkeluarga kelak.

Misal, bagaimana sikap kita pada suami kita, mendahulukan kepentingannya, mendengarkan dan melaksanakan nasehatnya, tidak melakukan apa yang dilarangnya. Dan juga, bagaimana pula sikap kita pada istri kita dengan selalu menyayangi, mengasihinya dan berusaha sekuat mungkin guna menafkahinya serta menyayangi dan melindungi anak-anak kita.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Jika seorang Istri mampu membantu keuangan dan ekonomi keluarga, itu adalah amal ibadah dan suatu hal yang luar biasa, akan mendapatkan balasan dan pahal setimal dari Allah. Dapat kita garis bawahi, banyak ilmu yang harus kita gali, terutama pemahaman agama yang benar, sehingga memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga kedepannya.

Bila sudah telanjur menikah, harus secepat mungkin membuka diri untuk mau dan terus menerus belajar. Terutama belajar nilai-nilai dan ajaran agama. Jika suami adalah guru yang baik, pemahaman agamanya cukup atau bahkan memadai, Istri harus mau belajar dan mau dibimbing serta dinasehati oleh suami. Pun juga sebaliknya, jika malah Istri yang lebih dahulu memiliki pemahaman agama yang baik, suami tak perlu malu untuk belajar dari Istrinya atau ditemani untuk belajar agama bersama-sama kepada Guru agama yang telah disepakati.

Dibawah ini ada beberapa faktor yang dapat menghambat kehidupan berkeluarga kita.

1. Kendala atau hambatan dalam konteks Komunikasi, hambatan komunikasi bermula dari ketidakterbukaan dalam mengungkapkan sesuatu, atau bahkan memang salah satu dari pasangan memang menutupi sesuatu pada pasangannya alias tidak jujur. Misal salah satu pasangan tak jujur pada pasangannya. Tak pernah minta izin atau bahkan tidak mau aktivitasnya diketahui atau ada yang disembunyikan. Apalagi sekarang ada akun medsos dan sebagainya, misal salah satu memfollow pasangannya, tapi akunnya si pasangan ditutupi atau tidak dapat diakses pasangan. Bila tidak kita mulai dari awal untuk membuka diri dan mau mengalah, kendala itu akan semakin membesar, sedangkan disisi lain masalah yang dihadapi lebih berat. Maka mengurai dari yang sederhana hingga akhirnya mampu menyelesaikan hal yang rumit adalah suatu proses yang harus dilalui. Mulai jujur dan tak menutupi sesuatu dari pasangan wajib untuk dilakukan.

2. Adanya Ego yang tinggi. Hal ini akan menjadikan seseorang mengukur dari “aku” bukan “kita”. Jika sudah demikian, maka perselisihan akan semakin menajam dan ketegangan menjadi tidak dapat dihindari. Kita perlu memahami bahwa masing-masing kita memiliki latar belakang yang menyebabkan terbentuknya karakter. Namun, karakter ini maskih dapat berubah seiring waktu berjalan dengan semakin meningkatnya pemahaman kita dalam beragama dan pengalaman yang kita alami. Kita tentu sudah belajar tentang toleransi dan saling menghargai maka Alquran yang berisi firman Allah seoptimal mungkin harus kita jalankan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

3. Problematika ekonomi terkadang juga dapat menjadi kendala. Kita tidak dapat pungkiri bahwa ekonomi adalah salah satu penopang utama dalam (ke)hidup(an) bersama pasangan. Namun, hal ini bisa dibicarakan sembari mencari solusi secara bersama. Kita harus memiliki keyakinan kuat bahwasanya Allah tak akan membiarkan hamba-Nya jika masih mau berusaha dan berubah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS. Ar-Ra’d: ayat 11). Memiliki pekerjaan tetap adalah faktor penting sekali, tapi yang lebih utama adalah tetap bekerja maksimal apa pu selama halal dan thoyyib karena dengan bekerja penuh semangat ada penghasilan yang didapat. Tapi jangan sampai pekerjaan atau bisnis dan usaha kita, menelantarkan hak-hak suami, hak-hak istri, atau hak-hak anak. Misal, sebelum kita mengurusi bisnis kita atau pekerjaan kita, sebelumnya kita harus inventariasi dulu, apa saja hak-hak pasangan dan anak-anak kita yang harus dipenuhi. Dahulukan itu, jadikan sebagai ibadah. Inysa Allah usaha dan bisnis serta pekerjaan lancar, hidup pun berkah fiddien, waddunya hattal aakhirooh. Amiin.

4. Munculnya rasa bosan pada pasangan “halal” kita. Pernikahan itu merupakan ibadah yang paling lama. Maka kita harus menjadi pasangan hidup yang siap untuk selalu belajar terus-menerus. Mau mendengarkan nasehat dan menyayangi pasangan. Berpuluh-puluh tahun sekiranya usia kita panjang, Amiin. Tiap hari kita akan bertemu orang yang sama dengan gaya yang mungkin sama pula. Maka harus ada variasi dalam sikap dan juga cara bicara bahkan butuh romantisme ketika sedang berdua dengan pasangan. Jangan sampai misal, Istri kehilangan sikap romantis pada Suami, dan sebaliknya pula.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

5. Adanya perbedaan kepentingan. Ada beberapa target atau cita-cita dalam membangun (ke)hidup(an), masing-masing tentu tak sama. Ada masalah pekerjaan, langkah meraih sukses, bahkan pendapatan yang dimiliki untuk apa, harus dibicarakan secara baik, jujur pada pasangan sehingga setiap kepentingan saling mem-back up bahkan membantu solusi untuk meraih yang terbaik. Tapi cita-cita dan keinginan perlu untuk memperhitungkan realitas dan juga kedirian pasangan yang ada disisinya. Jangan sampai karena terlalu concern dan terlalu keras mengejar cita-cita, malah jadi mengorbankan pasangan yang ada disisinya. Atau karena keinginan keras dan kaku kita saja, tapi sang pasangan tak didengarkan pendapat serta sudut pandangnya terkait keadaan yang bisa saja buruk kedepannya atau manfaat dan mafsadatnya jika itu terus dikejar dan bisa saja malah jadi kontraproduktif untuk keluarga.

Tak mudah menjalani kehidupan keluarga setelah kita benar-benar mengalami berposisi sebagai subyek dari keluarga itu sendiri. Ada saja hal yang kadang menjadi sandungan dalam hidup dan ternyata kita pun memerlukan keterampilan dalam menyelesaikan setiap fase dan langkah yang dilalui.

Berikut ini, terdapat beberapa persiapan penting sebelum atau saat kita berkeluarga.

1. Menjadikan Allah, Tuhan kita, sebagai tempat berserah diri dan sebagai sandaran hidup utama atas segala permasalahan. Berumah tangga tak melulu perihal sesuatu yang indah-indah dan romantis belaka. Mesti akan bertemu sesuatu yang tak terduga. Seperti rasa kecewa terhadap pasangan, misal  dalam urusan ekonomi, urusan seksualitas atau perselisihan lainnya kala masalah datang tak kunjung terselesaikan. Ketika kita menyadari hal itu bagian dari takdir dan jalan hidup maka sebagai orang beriman segera menyandarkan segala urusan pada Allah. Sambil melakukan ikhtiar (dibaluti dengan doa) dan tawakal setelahnya.

Sambil mendukung setiap langkah penyelesaian yang dilakukan oleh pasangan kita. Bukan malah, kemudian sampai berucap pada pasangan “halal” kita: “Mas atau Dik “aku gak bahagia” sama kamu. Hati-hati berucap dan mengucapkan suatu hal. Mengapa demikian, karena Allah pasti tak akan pernah menjadikan suatu peristiwa dengan sia-sia. Dalam keadaan itulah manusia yang memiliki ketangguhan dan keteguhan hati akan menjadikan setiap masalah yang ada menjadi sarana atau alat untuk menempa diri guna menjadi lebih baik dan berkeyakinan hal tersebut akan semakin meningkatkan derajat taqwa. Ingat ketaqwaan adalah diatas segalanya. Dan selalu ada jalan untuk menyelesaikan masalah. Allah selalu menyertakan jalan keluar dibalik setiap masalah yang kita hadapi. Setelah badai berlalu, mesti akan disertai munculnya pelangi.

2. Memiliki Visi Ukhrowi atau mengedepankan dimensi akhirat, sambil tak melupakan duniawi. Ingmal liidunyaka kaannaka tai’isuu abadaa, wangmal li aakhirotika kaannaka tamuutu ghoda (Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari. Bahwa dalam keluarga yang dibangun ada target jangka panjang yakni bersama hingga surga. Tak mudah menjaga keluarga dari banyak godaan yang seolah akan menjerumuskan mereka menuju neraka. Maka bersama-sama harus saling mengingatkan tentang kesholehan dan ketaqwaan. Dengan menikah, ibadah dan amaliyah kita harus semakin berkualitas. Begitulah bila keberkahan sebuah pernikahan didapatkan. Tugas terberat suami adalah menjaga istri dan anaknya dari api neraka. Yaa Ayyuhal Ladziina Aamanuu Quu Anfusakum wa Ahliikum Naaraa.

3. Menjaga intensitas komunikasi dengan pasangan dan romantisme dalam keseharian. Maka memulai dari komunikasi yang baik dan menjalin romantisme selalu menjadi keniscayaan sehingga keharmonisan pun tercipta.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

4. Memiliki sikap sabar dan syukur karena itu adalah sebenar-benarnya makna iman. Rumah tangga itu selayaknya jalanan umum yang terkadang ramai oleh pengendara motor atau mobil, sehingga kita pun harus mengontrol jalur dan lintasan, memahami mesti akan badai menerjang tiba-tiba agar tak terjadi kecelakaan yang fatal namun adakalanya sepi sehingga perjalanan nyaman adanya. Menyikapi setiap keadaan yang tak selalu sama harus dengan sabar dan syukur. Bila berjumpa kebahagiaan, kita seharusnya lebih banyak bersyukur dan bila ada ujian atau beratnya kehidupan, butuh banyak menyediakan tempat untuk kesabaran dalam menjalaninya hingga menemukan hikmah setelahnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

5. Pemenuhan atas hak dan kewajiban antarpasangan. Menjalani kehidupan keluarga bukan bagaimana sekadar terpenuhi hak tetapi juga melakukan kewajiban dengan sebaiknya. Mungkin akan kita dapati pasangan pernikahan yang akan mengeluhkan sikap pasangan yang tak bisa membahagiakan dirinya tetapi bagaimana sebaiknya kita berusaha lebih dahulu untuk memberikan kebahagiaan tersebut kepada pasangan. Bila semua berjalan dengan semestinya maka keutuhan keluarga akan terwujud hingga pada akhirnya akan berkumpul di surgaNya kelas. Mencintai dahulu adalah selalu menjadi satu kebaikan utama, baru meminta dicintai.

Doa agar pasangan terjaga dan dapat bertemu serta berkumpul kembali di Surga. Rasulullah Muhammad SAW memberikan seperti ini: 

“Ya Allah, satukan hati kami, perbaiki hubungan kami, tunjukkan kami jalan keselamatan, selamatkan kami dari kegelapan kepada cahaya, jauhkan kami dari perbuatan tak baik, yang tampak maupun tersembunyi…” (Hadits Riwayat Imam Hakim dan Thabrani) Menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera atau sering kita kenal dengan konsep sakinah mawaddah wa rahmah sangat perlu diperjuangkan dan memang sudah pasti merupakan perjuangan yang sangat berat sekali, terlebih saat ini godaan zaman semakin banyak di hadapan dan siap menggerus kita. Semoga kita dapat mewujudkannya. Amiin. (Ustadz Alif Lukmanul Hakim, S.Fil., M.Phil : Instagram: alif_lukmanul_hakim. Youtube: Alif Lukmanul Hakim, M. Phil)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: