Nangka Muda di Jogja Tak Cukup untuk Gudeg, Gunungkidul Pakai Gedebok Pisang
- calendar_month Sel, 6 Okt 2026

ilustrasi Jogja Kekurangan Nangka Muda untuk Gudeg_foto AI
BNews—JOGJA— Yogyakarta atau Jogja yang dikenal sebagai Kota Gudeg ternyata menghadapi persoalan bahan baku untuk kuliner khas tersebut. Pasokan nangka muda atau gori untuk membuat gudeg disebut tidak lagi mencukupi dari wilayah Yogyakarta sendiri.
Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, mengatakan kebutuhan nangka muda sebagai bahan utama gudeg saat ini masih harus dipenuhi dari luar daerah.
“Ada permasalahan yang sedang coba ditangani oleh pemerintah daerah, itu adalah sourcing buah nangka untuk gudeg,” kata GKR Bendara seusai forum Wonderful Indonesia Gastronomy Talk di Jogja, Jumat (2/10/2026), dikutip dari detikJogja.
Menurut GKR Bendara, jumlah pohon nangka di wilayah Yogyakarta yang menghasilkan buah untuk bahan gudeg belum mencukupi kebutuhan. Kondisi tersebut membuat pedagang harus mendatangkan nangka muda dari daerah lain.
“Kebanyakan nangkanya itu dari luar Jogja, karena di Jogja itu kekurangan pohon nangka,” kata dia.
Gunungkidul Mulai Gunakan Gedebok Pisang
Keterbatasan pasokan nangka muda juga mendorong munculnya alternatif bahan pembuatan gudeg di sejumlah wilayah Yogyakarta.
GKR Bendara menyebut Gunungkidul menjadi salah satu daerah yang mulai menggunakan bagian dari pohon pisang sebagai pengganti nangka muda dalam pembuatan gudeg.

“Bahkan di Gunungkidul itu, mereka sudah tidak pakai nangka tetapi gedebok pisang, batang pohon pisang, jadi gudeg gedebok pisang,” kata GKR Bendara.
Persoalan pasokan gori ini menjadi perhatian karena nangka muda merupakan bahan yang sangat identik dengan gudeg. Sebelumnya, pedagang gori di Pasar Beringharjo juga diketahui mengambil pasokan dari luar Yogyakarta, termasuk Kebumen, karena ketersediaan nangka muda lokal tidak mencukupi.
Kuliner Tradisional Jogja yang Mulai Terlupakan
Dalam forum Wonderful Indonesia Gastronomy Talk tersebut, GKR Bendara juga menyoroti keberadaan sejumlah kuliner tradisional Yogyakarta yang mulai jarang dikenal masyarakat.
Dua di antaranya adalah nasi golong gilig dan dawet sambal. Menurutnya, makanan tradisional tersebut memiliki cerita dan nilai sejarah yang penting, tetapi mulai terpinggirkan karena semakin jarang disajikan.
“Begitu banyak sebetulnya, ada beberapa makanan yang sudah tidak populer sekarang, padahal itu adalah salah satu dari sejarah kita. Jadi ada nasi golong gilig, sajian itu hanya dikeluarkan pada saat ada acara tertentu,” kata dia.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISNI (KLIK)
GKR Bendara berharap makanan tradisional tersebut tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah, tetapi kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui industri kuliner dan restoran.
“Ini yang juga kita preserve menjadi, paling tidak narasinya apa, kita bisa reintroduce kepada industri untuk mulai memperkenalkannya ke restoran,” dia menambahkan.
Dawet Sambal Kulon Progo Butuh Regenerasi
Selain nasi golong gilig, GKR Bendara menyebut dawet sambal dari Kulon Progo sebagai salah satu kuliner tradisional yang perlu diperkenalkan kembali.
Dawet sambal disebut telah menjadi bagian dari warisan budaya Kulon Progo. Namun, keberadaannya menghadapi persoalan regenerasi dan minimnya publikasi mengenai kuliner tersebut.
“Ada juga namanya dawet sambal di Kulon Progo, ini sudah menjadi warisan budaya. Ini originalnya yang buat juga masih ada, tetapi tidak ada regenerasinya karena memang tidak banyak yang mengulasnya,” ujar GKR Bendara.
Persoalan nangka muda sekaligus pelestarian kuliner tradisional menjadi bagian dari tantangan untuk menjaga identitas gastronomi Yogyakarta. Di satu sisi, gudeg sebagai ikon kuliner Jogja membutuhkan pasokan gori yang cukup, sementara di sisi lain sejumlah kuliner tradisional lainnya perlu kembali diperkenalkan agar tidak semakin terlupakan. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar