Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Omah Kuluk Mendut Magelang Produksi Aksesoris Tari Topeng Ireng

Omah Kuluk Mendut Magelang Produksi Aksesoris Tari Topeng Ireng

  • calendar_month Jum, 17 Nov 2023

BNews—MAGELANG— Kesenian, budaya dan masyarakat adalah tiga aspek berbeda namun saling terkait satu dengan yang lainnya. Dayakan, Topeng Ireng, hingga Jathilan beberapa nama yang tidak asing bagi warga di kabupaten Magelang dan sekitarnya.

Antusias masyarakat akan seni pertunjukan beberapa nama tadi, tidak lekang oleh waktu bahkan di era modern ini. Topeng Ireng dan Dayakan, dua seni tari yang mempunyai kostum khas yaitu penutup kepala yang disebut Kuluk, berukuran tinggi dan kaku.

Untuk bahan Kuluk sendiri biasa menggunakan bulu unggas khususnya entok. Siapa sangka, limbah bulu unggas, ternyata dapat dimanfaatkan menjadi karya seni. Hal inilah yang membuat semangat Wachid Hasyim (28) warga Bojong, Kelurahan Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, akhirnya memberanikan diri untuk membuka usaha Kuluk pada Januari 2022.

Ketenaran Topeng Ireng dan Dayakan, juga mendorong Wahid untuk berinovasi ke produk lainnya, seperti kostum pendukung Kuluk. Berawal dari keikutsertaan ia di kegiatan remaja Topeng Ireng Bojong Mendut, membuat dirinya termotivasi untuk melakukan industri ini.

“Awalnya saya mengikuti kegiatan tari Topeng Ireng di kampung. Akan tetapi pada suatu hari terjadi kendala, sudah siap pentas ternyata ada beberapa Kuluk mulai rusak. Terpaksa ada penari yang tidak pakai Kuluk, padahal itu kan khasnya, dari situ kepikiran untuk produksi sendiri,” imbuhnya.

Dulu, Kuluk ini memang pernah ada yang memproduksi, warga desa tempat Wachid juga, namun seiring perkembangan zaman, pengrajinnya beralih ke pekerjaan lainnya. Berbekal beberapa kali pernah melihat cara pembuatannya, dan diawali dengan keisengan memperbaiki Kuluk milik komunitasnya. Berkat dukungan teman-teman sekelilingnya, kini Wahid juga telah mampu memproduksi Kuluk sendiri.

IKUTI BOROBUDUR NEWS di GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)

Dari keisengan Wachid, dan modal nekat untuk reparasi Kuluk milik komunitas serta teman-teman, ternyata produksinya berjalan hingga saat ini. Berbekal modal seadanya, dan karena ia juga masih aktif bekerja, jadi Wachid tidak ngoyo untuk setiap pengerjaan Kuluk miliknya.

“Iseng-iseng penuhi permintaan teman dan warga di sini untuk dibuatkan Kuluk, itu juga masih sekedar by request saja. Eh dari situ ternyata, teman mulai getok tular istilahnya banyak yang promosikan buatan saya gitu”, jelasnya.

(foto: istimewa)

Wachid menyebutkan, di awal usahanya berdiri modal pertama yang ia keluarkan sekitar Rp 1juta, itupun modal berjalan. Modal tersebut digunakannya untuk mencari bahan-bahan, seperti bulu unggas, dan aksesoris pemanis lainnya. Sejauh ini, bulu unggas yang dipakai adalah dari bulu Entok, ia dapatkan dari wilayah sekitaran Muntilan, Godean, Kebumen dan juga warga sekitarnya.

Ketekunan Wachid membuahkan hasil, berkat usahanya Wachid dapat mengembangkan rumah perlengkapan tari tradisional Omah Kuluk. Jadi kini tidak hanya Kuluk, ada juga set kostum tari juga ada di sini.

Kini usahanya cukup dikenal nasional, meski produknya dikhususkan aksesoris tari, namun siapa sangka pembelinya tak hanya wilayah sekitar Magelang saja, melainkan telah menjangkau hingga Kalimantan, Sumbawa, dan Bali.

Produk yang Wahid hasilkan, sejauh ini memang tidak jauh dari pakaian tari, harga yang dibanderolnya-pun beda-beda, mulai dari Kuluk ukuran anak kecil mulai dari Rp300-400 ribu, ukuran orang dewasa mulai dari Rp400-700 ribu.

Sedangkan satu setel seragam Topeng Ireng atau Dayakan mulai dari Rp700 ribu hingga Rp1 juta. Semua harga ditentukan olehnya tergantung dari detail, rumitnya model dan juga pilihan bahan para konsumen.

“Tidak menentu omzetnya, kalau lagi sepi orderan masuk sebulan saya bisa dapat Rp3 juta, ya kalau pas ramai orderan, bisa lebih dari itu. Saya kerjakan santai sih ini, karena memang masih aktif kerja juga kan,” jawab Wachid.

IKUTI BOROBUDUR NEWS di GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)

Ditambahkan oleh Wachid, usahanya ini semakin dikenal luas berkat ia ikut program UMKM, selain itu efek dari Kampung Wisata Mendut ternyata juga secara langsung ia rasakan.

“Alhamdulilah semenjak mengikuti program UMKM, orderan meningkat baik di dalam kota ataupun luar daerah. Selain itu berkat program Kampung Wisata Mendut, studio workshop jadi sering jadi kunjungan wisatawan. Nah, para wisatawan ini bisa lihat langsung bagaimana pembuatan Kuluk,” jelasnya.

Untuk alamat workshop berada di Lingkungan Bojong 2, RT 06 RW 13, Kelurahan Mendut, Kecamatan Mungkid, Kab. Magelang. Tak hanya di Magelang, produk bulu unggas atau Kuluk juga sudah dipasarkan lewat sosial media instagram @omah_kuluk, tiktok omah_kuluk.

Dari usaha ini, Wachid pun berharap semoga apa yang ia lakukan ini menjadi upayanya untuk melestarikan seni dan budaya di sekitarnya. Ia juga berharap, agar generasi muda selalu bangga  akan budaya negeri mereka. Serta jangan takut untuk memulai sesuatu, jika itu memang baik untuk sekitar, mulailah dari dirimu.

Waluyo Pangestu

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta

About The Author

  • Penulis: BNews 7

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less