Pelaku Bacok Adik Ipar Hingga Tewas di Magelang, Ini Motifnya

BNews—MAGELANG— Polres Magelang berhasil mengamankan pelaku tindak penganiayaan berujung kematian, yang terjadi di Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman. Diketahui, pelaku berinisial BN, 24, warga Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.

Kapolres Magelang, AKBP Ronald A Purba mengungkapkan bahwa korban yang berinisial MS, 18, warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, merupakan adik ipar pelaku. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (18/3) sekitar pukul 08.00 WIB di Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman.

”Peristiwa ini bermula ketika ada percecokan antara korban dengan istri tersangka sekaligus kakak korban yang berinisal E,” ungkapnya, saat konferensi pers di Mako Polres Magelang, Jumat (19/3).

Usai percecokan itu, kata Ronald, korban keluar rumah dengan memanggil ibunya dan om nya. Sekitar lima menit kemudian, korban kembali masuk ke rumah. Tak berselang lama, pelaku mendengar teriakan istrinya meminta tolong dan suara pukulan.

Saat menghampiri asal suara tersebut, pelaku melihat istrinya sedang dipukuli oleh korban. Kemudian pelaku emosi dan melakukan tindak penganiayaan menggunakan bendo.

DPD PKS Magelang Ramadhan

Dia menjelaskan, akibat peristiwa itu, korban mengalami luka di bagian kepala, leher dan tangan. Korban meninggal ketika perjalanan menuju ke rumah sakit.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

”Untuk motifnya sendiri, ini soal penempatan rumah warisan dan mungkin ada cara-cara yang tidak pas sehingga terjadi percecokan. Hingga terjadi tindak penganiayaan yang berujung kematian tersebut,” jelas dia.

Lebih lanjut, Ronald mengatakan bahwa pelaku berhasil diamankan tim Resmob Polres Magelang pada Kamis (18/3) sekira pukul 13.00 WIB. Ketika itu, pelaku sedang berada di rumah orang tuanya di daerah Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.

”Untuk barang bukti yang diamankan yakni satu senjata tajam jenis bendo, satu buah baju korban dan satu buah baju tersangka,” imbuhnya.

Tambah Ronald, tersangka disangkakan melakukan penganiayaan yang mengakibatkan kematian. Sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.

”Dengan ancaman hukuman penjara tujuh tahun,” paparnya.

Sementara itu, tersangka mengakui dirinya khilaf ketika melakukan tindak penganiayaan yang berujung maut tersebut. ”Saya khilaf,” ujarnya kepada awak media. (mta)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: