Ritual Pengantin Melepas Ayam Kerap Dilakukan di Jembatan Mertoyudan

BNews—MERTOYUDAN— Selain dikenal angker, Jembatan Gending di Kecamatan Mertoyudan menjadi lokasi favorit masyarakat melakukan ritual Jawa. Salah satunya adalah ritual melepas ayam, nasi berkat hingga menebar uang di atas jembatan yang dilakukan para pengantin muda.

Sore itu, iring-iringan mobil pribadi hingga angkot berhenti. Tepat sebelum memasuki jembatan yang menghubungankan Desa Pasuruhan dan Kalinegoro. Satu orang keluar dari mobil sembari sepasang tangannya menenteng sepasang ayam Jawa. Jantan dan betina.

Tidak hanya rombongan pengantin. Ternyata beberapa warga disekitar jembatan sudah menanti pria baruh baya tersebut melepas sepasang ayam. Usai dilepas, Fauzi berhasil menangkap ayam betina.

”Aku oleh pitike (Aku dapat ayamnya),” teriak riang Fauzi Bowo, 24, warga Dusun Daren, Desa Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan saat berebut ayam dengan warga lainnya, kemarin sore (3/1).

Disaat Fauzi bersama temannya Rukin, 29, sibuk menangkap sepasang ayam, seorang pengantin laki-laki keluar dari mobil angkot sewaan. Ia dibopong oleh empat orang dan berjalan menyeberangi jembatan lalu kembali lagi sebelum naik ke mobil. Melanjutkan perjalanan ke rumah mempelai perempuan.

”Jembatan ini sering sekali dijadikan tempat ritual, mas. Jadi mereka (rombongan pengantin) melepas ayam saat melewati jembatan menuju rumah besan. Katanya untuk keselamatan,” kata Fauzi sambil berusaha menanagkap ayam jago sebelum akhirnya lari menghilang menuju semak-semak di bawah jembatan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Fauzi mengaku sudah empat kali mendapat ayam sesajen. Beberapa ayam yang diperolehnya selalu dirawat baik-baik. Tidak pernah disembelih ataupun dijual. Ia menjelaskan, ayam yang didapat dari ritual tersebut jarang terserang penyakit seperti ayam kebanyakan.

”Biasanya selain ayam ada juga nasi berkat besekan dan uang. Tapi ini kok hanya ayam saja,” katanya sambal terkekeh.

Pria bertubuh kekar itu terlihat tidak mengenakan pakaian. Hanya celana pendek saja. Maklum, saat melihat rombongan melintas, dirinya buru-buru memacu kendaraannya mengikuti iring-iringan pengantin. Alasannya agar tidak kedahuluan orang lain atau ayam tersebut keburu kabur ke semak-semak.

”Soalnya kalau sudah turun ke bantaran sungai, mustahil ditangkap. Saya pernah turun dan melihat banyak ayam hidup liar, hasil beranak-pinak, tapi satu pun tidak ada yang tertangkap,” pungkas dia. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: