Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Sambut Waisak, Umat Buddha Doa Bersama dan Larung Pelita di Borobudur

Sambut Waisak, Umat Buddha Doa Bersama dan Larung Pelita di Borobudur

  • calendar_month 0 menit yang lalu

BNews–MAGELANG– Ratusan umat Buddha mengikuti ritual Larung Pelita Purnama Sidhi, di alur Sungai Progo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang pada Jumat (29/5/2026) malam WIB. Sebelum larung pelita, digelar doa bersama yang dipimpin tokoh agama Buddha dari Majelis Umat Nyingma Indonesia (MUNI).

Kegiatan diikuti ratusan umat Buddha dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor Medan dan kota lainnya di Indonesia. Serta diikuti oleh seniman/ tokoh masyarakat dan duta besar perwakilan sejumlah negara.

Ritual Larung ini merupakan bagian dari kegiatan Borobudur Peace and Prosperity di kawasan Candi Borobudur. Kegiatan Borobudur Peace and Prosperity merupakan sarana menggabungkan budaya, seni, dan keberagaman yang tujuan utamanya adalah untuk kesejahteraan dan perdamaian dunia.

Prosesi larung diawali dengan kirab lima gunungan dari Candi Pawon menuju bantaran sungai Progo di Brojonalan, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang. Diantara kegelapan malam alur Sungai Progo, ribuan pelita dari lima gunungan itu kemudian dilepaskan diiringi sejumlah tarian puja.

“Bukan pelitanya yang dilarung tapi pelitanya sebagai penerang jalan sedangkan larungan itu adalah tradisi Jawa membuang sesuatu yang buruk dilarung,” kata seniman penggagas Larung Pelita Purnama Sidhi, Nuryanto.

Di menjelaskan, sungai Progo dipilih sebagai tempat larung pelita karena merupakan salah satu sungai yang mengalir deras dan terhubung dengan laut selatan Pulau Jawa.

IKUTI BOROBUDUR NEWS DI GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)

Menutut Nuryanto, Larung Pelita Purnama Sidhi ini merupakan sebuah tradisi Jawa kuno yang perlu dilestarikan karena melibatkan semua unsur dari mulai pelaku seni perajin lilin (pelita).

Seperti kali ini ada puluhan seniman penari dan pemerhati spiritual terlibat dalam kegiatan ini. Sedangkan jumlah pelita yang dilarung sebanyak 1400 buah.

Sementara, bahan yang digunakan larung pelita cenderung ramah lingkungan,g mudah terurai oleh ekosistem sungai seperti tempurung kelapa untuk wadah lilin. Sedangkan lilin dibuat dari bahan limbah minyak goreng

Salah satu umat Buddha asal Medan, Sumatera Utara Berby Sahara mengungkap bahwa ini kali pertama dirinya ikut larung pelita ini.

“Baru pertamakali ikut, tapi seru dan sangat menyenangkan. Doa supaya Indonesia semakin maju dalam segala hal,” ungkapnya. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 7

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less