Tega, Pengusaha Ini Tuntut Penjual Bakmi dan Tukang Kunci Rp 1 Miliar

            BNews—YOGYAKARTA— Lima pedagang kaki lima yang biasa menjajakan dagangannya di Jalan Brigjen Katamso, Gondomanan Yogyakarta harus berurusan dengan majelis hakim PN Yogyakarta. Mereka dituntut Rp 1 miliar oleh pengusaha Eka Aryawan.
             Eka melayangkan gugatan Rp1 miliar karena merasa usahanya terganggu oleh kehadiran kelima PKL di depan lahannya. Eka adalah pemilik surat kuasa pemakai lahan keraton (Kekancingan) yang dikeluarkan oleh pihak keraton tahun 2011.
            Dalam surat Kekancingan bernomor 203/HT/KPK/2011, Achil menjelaskan, pihak keraton memberi izin kepada Eka untuk menggunakan tanah keraton seluas 73 meter. Tanah keraton itu berada di depan tanah milik Eka yang hendak dibangun ruko.
            Namun, di depan tanah seluas 73 meter itu, berdiri lapak lima orang PKL tersebut. Persoalan menjadi pelik, karena PKL juga mengaku mengantongi surat hak kuasa lahan. PKL beranggapan mereka menempati tanah di luar kekancingan yang dimiliki Eka.
Kelima PKL yang dituntut Rp 1 Milair itu adalah Budiono tukang kunci, Sutinah penjual nasi rames, Agung tukang kunci yang juga anak Budiono, dan pasangan suami istri Sugiyadi dan Suwarni penjual bakmi.
            Mereka kemudian melakukan Topo Pepe ini biasanya dilakukan oleh warga untuk meminta keadilan kepada Sultan atau memprotes sesuatu yang terjadi di masyarakat. “Kami melakukan ini supaya publik tahu, Keraton dan Sultan juga tahu jika ada rakyatnya yang ditindas,” kata Agung.

            Mereka pun meminta agar Sultan mau membantu mereka dengan mencabut surat kekancingan milik Eka Aryawan. Sebab, surat kekancingan itu justru digunakan oleh Eka Aryawan dengan semena-mena. ”Kami minta Sultan untuk mencabut gugatan, surat kekancingan karena itu digunakan dengan semena-mena dengan menggusur kami,” ungkapnya. (bn3)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: