Video Viral Bapak Loper Koran Menangis di Muntilan, Ternyata Ini Faktanya

BNews—MUNTILAN—Masih ingat dengan loper koran di Muntilan, Achmad Nasichin, 47, yang menangis lantaran dagangannya tidak laku. Berkat video tujuh detik yang viral di media sosial, beberapa waktu lalu, nasib Achmad sedikit berubah.

Hampir setiap hari Achmad kedatangan tamu. Baik secara pribadi maupun komunitas sosial. Bila tidak ditemui di Muntilan tempatnya bekerja, mereka menemui di rumahnya RT4/ RW2, Desa Sucen, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.

Niat mereka sama yaitu memberikan bantuan materiil. Ada yang sengaja langsung memberikan uang tanpa membeli satu koran pun. Bahkan ada komunitas sosial yang terang-terangan bersedia melunasi seluruh hutang yang ditanggung.

Namun, semua itu ditolak Achmad. Pria dua anak itu tidak pernah berharap mendapat bantuan materi dari orang lain. Dengan catatan selama ia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Bahkan, dirinya ternyata tidak menghendaki video itu ada hingga tersebar luas di dunia maya.

”Terus terang saya tidak nyaman. Apalagi video itu dibuat tanpa ada konfirmasi hingga viral,” sesal Achmad saat ditemui ditengah menjajakan koran di kawasan Muntilan Sentral Niaga (Munsen) Muntilan, Rabu (22/5).

Dalam video berdurasi tujuh detik itu, di depan mesin ATM Bank Mandiri setempat, Achmad terlihat mengusap-usap mata lantaran menangis. Diduga, ia menangis lantaran waktu itu dagangan koran tidak laku. Ia pun tidak seratus persen membenarkan kabar tersebut.

”Kalau koran kurang laris ada benarnya. Namun saya kucek-kucek mata karena habis bangun tidur. Bukan karena menangis,” sanggahnya kepada Borobudur News.

Anak ke dua dari tiga bersaudara itu coba meluruskan, malam hari sebelum bekerja dirinya mengikuti kerja bakti di kampungnya. Bahkan hingga larut pukul 04.00 WIB. Sehingga, ia memiliki waktu sangat sedikit untuk istirahat.

Padahal, pukul 05.30 WIB dirinya harus bergegas bekerja menjual koran di Kidul Pasar Muntilan. Pukul 08.30 hingga 09.30 WIB bergeser di pasar penampungan sementara dan pukul 09-30 sampai 12.00 WIB menjual koran di kawasan Munsen. Kendati kakinya (maaf) tidak normal, dirinya cukup lincah mengendarai kendaraan motor Honda Astrea Grand seperti kebanyakan.

”Kondisi saat itu saya ngantuk berat. Tapi saya paksakan karena tanggung jawab keluarga. Saya tidak kuat dan tertidur. Bangun-bangun saya kucek mata. Tapi dikiranya menangis,” ungkap dia sesekali melayani pengendara yang membeli korannya.

Ditanya dirinya yang sempat viral, ia kali pertama diberitahu oleh kakaknya. Kakaknya sendiri tahu dari keponakan yang tengah berada di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tidak berselang lama, mertua, tetangga satu desa hingga pelanggan hariannya menjadi heboh atas video yang terlanjur menjadi konsumsi publik itu.

”Saya tidak punya telepon. Kalau viralnya baik ndak papa. Tapi ini bermasalah bagi saya. Kesannya saya ngremimih. Minta belas kasih,” ungkap pria yang sudah 25 tahun bekerja menjadi loper koran itu.

Pasca videonya viral, Achmad mengaku kerap didatangi orang-orang baru. Mulai dari personal hingga perwakilan komunitas. Niatnya sama yakni memberikan bantuan materiil. Namun dengan halus, ia selalu coba tolak. Dirinya memilih korannya barang satu eksemplar dibeli daripada menerima uang banyak namun korannya tidak laku.

”Bukan karena saya menolak rejeki, wong saya jualan koran itu cari rejeki. Hanya proses memberikan ke saya itu, saya tidak menghendaki. Saya merasa lebih dihargai ketika koran saya dibeli,” pinta Achmad. Imbuh dia, pada Senin kemarin, koran yang belum laku tiba-tiba diborong oleh orang tidak dikenal. Pengalaman yang tidak pernah dialami sebelumnya.

Tambah Achmad, kendati nasibnya sedikit berubah, namun dirinya berharap orang yang merekam dan memviralkan video yang dibuat-buat itu untuk menemui dirinya guna meminta maaf. Ia menginginkan klarifikasi maksud dan tujuan atas kesengajaan dibuatnya video yang diakuinya merugikan itu.

”Apapun videonya karena tidak konfirmasi ke saya, ya, saya anggap tetap melanggar hak asasi saya, privasi saya. Tetapi saya tidak mau menyalahkan mereka secara hukum. Kalau mereka sadar, segera minta maaf kepada saya,” pungkas Achmad. (han)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: