Waspada! Cuaca Ekstrem di Magelang Bikin Penyakit Meningkat, Dinkes Ungkap Jenis yang Paling Banyak
- calendar_month Jum, 21 Nov 2025

Cuaca Ekstrem, Waspadai DBD dan Malaria
BNEWS—MAGELANG— Perubahan cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu terakhir mulai berdampak pada meningkatnya; gangguan kesehatan masyarakat.
Lonjakan suhu panas, curah hujan tinggi, hingga pergantian musim yang tidak teratur membuat kelompok rentan seperti anak-anak; lansia, dan penderita penyakit kronis lebih mudah terserang penyakit.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dr. Oktora Kunto Edhy mengatakan kondisi cuaca ekstrem ini berpengaruh langsung; terhadap kesehatan masyarakat.
Menurutnya, sejumlah penyakit di saluran pernapasan menjadi keluhan yang paling banyak muncul saat cuaca berubah drastis.
“Seperti flu, kemudian infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Bisa juga penyakit di saluran pencernaan seperti diare maupun tipes,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Selain gangguan pernapasan dan pencernaan, penyakit yang kerap muncul pada kondisi cuaca saat ini adalah demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.
Kunto menambahkan, perubahan suhu dan paparan matahari juga memicu berbagai masalah kulit.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Ketika cuaca berubah drastis, daya tahan tubuh masyarakat menurun,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat melakukan penanganan awal saat gejala penyakit mulai terasa.
Kunto juga membagikan sejumlah tips menjaga kesehatan di tengah cuaca ekstrem, antara lain dengan memperbanyak minum air minimal dua liter per hari; mengonsumsi makanan bergizi terutama sayur dan buah, minum vitamin, serta istirahat yang cukup.
Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan, menghindari genangan air, dan memantau informasi cuaca melalui BMKG atau kanal resmi.
“Banyak orang meremehkan efek cuaca terhadap tubuh. Padahal, sistem imun kita butuh waktu beradaptasi. Ketika tubuh tidak siap, penyakit lebih mudah menyerang,” terang Kunto.
Sementara itu, Staf Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang Radita Mustikawati menyampaikan bahwa berdasarkan data yang ada; tren kasus DBD pada tahun ini justru cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sedangkan untuk tahun ini, sebenarnya trennya cukup melandai. Terutama dari awal tahun sampai dengan pertengahan saat ini, mengingat musim penghujan sendiri baru muncul di pertengahan menjelang akhir tahun,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya tetap menggencarkan edukasi dan imbauan agar masyarakat rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan masing-masing untuk mencegah lonjakan kasus DBD.
“Jangan sampai di akhir tahun atau awal tahun depan, malah muncul ledakan kasus DBD. Sehingga hal ini yang kita antisipasi,” ujarnya. (*)
About The Author
- Penulis: Pemela


Saat ini belum ada komentar