Alat Evakuasi Basarnas Borobudur Terbatas, Anggota DPR RI Soroti Anggaran
- calendar_month 4 menit yang lalu

Alat Evakuasi Basarnas Borobudur Terbatas, Anggota DPR RI Soroti Anggaran
BNews-MAGELANG – Keterbatasan peralatan evakuasi masih menjadi kendala Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur dalam menangani kecelakaan maupun operasi pencarian dan pertolongan di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Ketersediaan peralatan yang dimiliki saat ini dinilai belum sebanding dengan kebutuhan penanganan di lapangan. Kondisi tersebut menjadi perhatian Anggota Komisi V DPR RI Sofwan Ady Ardyanto saat melakukan kunjungan, Minggu (1/11/2026).
Sofwan menilai, keterbatasan sarana dan prasarana tersebut tidak lepas dari minimnya dukungan anggaran untuk Basarnas. Padahal, Indonesia yang berada di kawasan cincin api memiliki risiko tinggi terhadap berbagai bencana alam maupun kecelakaan.
“Jadi, antara tugas yang harus diemban oleh korps Basarnas se-Indonesia dengan dukungan anggaran ini sangat timpang,” ujarnya usai kunjungan, Minggu (1/11).
Menurut Sofwan, dukungan anggaran untuk Basarnas seharusnya mendapatkan porsi lebih besar. Sebab, potensi bencana dan kecelakaan merupakan ancaman nyata yang dapat terjadi sewaktu-waktu dan berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat.
Terlebih, Kabupaten Magelang termasuk salah satu wilayah yang memiliki potensi kerawanan bencana. Keberadaan Gunung Merapi serta sejumlah kawasan rawan longsor membutuhkan dukungan sarana evakuasi dan perlengkapan penyelamatan yang memadai.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Ia bahkan menilai kondisi peralatan yang tersedia saat ini masih jauh dari kebutuhan ideal untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan.
“(Alatnya) memprihatinkan. Mestinya, menurut saya, peralatannya itu kualifikasinya 10 kali lipat dari yang ada sekarang,” lontarnya.
Untuk mengatasi keterbatasan anggaran tersebut, Sofwan membuka peluang mencari sumber pembiayaan alternatif di luar anggaran pemerintah. Beberapa di antaranya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), donatur, hingga sumbangan masyarakat.
“Kalau bisa anggaran dari lembaga lain digeser ke Basarnas. Kalau tidak, kita cari sumber-sumber pembiayaan lain, mungkin dari CSR, donatur, atau hamba Allah,” sambungnya.
Ia berharap, dukungan terhadap Basarnas tidak hanya diwujudkan melalui penambahan jumlah personel. Pemenuhan kendaraan operasional dan peralatan penyelamatan juga perlu menjadi perhatian, menyesuaikan kebutuhan serta karakteristik wilayah kerja masing-masing unit.
Dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, petugas Basarnas diharapkan dapat menjalankan tugas pencarian, pertolongan, dan evakuasi secara lebih optimal.
Sementara itu, Rescuer Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur Ryan Aris Pratama membenarkan bahwa keterbatasan peralatan masih menjadi kendala dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
Salah satu kebutuhan yang belum terpenuhi berkaitan dengan perlengkapan penanganan korban kecelakaan, khususnya kecelakaan lalu lintas yang membutuhkan peralatan khusus dalam proses evakuasi.
Ryan menjelaskan, penambahan peralatan operasional selama ini masih bergantung pada pengadaan dan keputusan pemerintah pusat. Unit Siaga SAR di daerah belum memiliki kewenangan untuk secara mandiri menentukan penambahan sarana tersebut.
“Kalau untuk menambah alat, sementara kita menunggu dari pusat,” terangnya.
Keterbatasan peralatan tersebut menjadi perhatian penting mengingat wilayah Magelang memiliki potensi bencana alam dan risiko kecelakaan yang membutuhkan kesiapan personel serta perlengkapan SAR yang memadai. (bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar