Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Alkisah Raksasa, Sosok Raja Kera Menoreh yang Dipercaya Penuh Misteri

Alkisah Raksasa, Sosok Raja Kera Menoreh yang Dipercaya Penuh Misteri

  • calendar_month Jum, 10 Mar 2023

BNews–MAGELANG– —Lereng perbukitan menorah yang membentang di Kabupaten Magelang hingga Jogjakarta menyimpan banyak misteri. Bahkan, konon ada seekor kera raksasa yang menjadi raja di Kawasan menoreh.

Cerita ini diungkapkan oleh kepala Suku badui yang diundang oleh masyarakat Kawasan Ngargogondo Kecamatan Borobudur untuk membasmi hama kera pada 2009 silam. Petani resah, kera-kera memakan semua hasil bumi siap panen di ladang.

Dalil, tokoh masyarakat Dusun Kemalang, Desa Ngargogondo mengatakan pada tahun 2009 warga dibantu perhutani bermaksud memusnahkan hama kera yang menganggu. Mereka kemudian mendatangkan tokoh dari suku badui yang dikenal lihai menaklukkan kera.

Percaya tidak percaya namun kenyataannya fenomena mistis ini terjadi dan membuktikan kera-kera di Kawasan Bukit Menoreh bukan kera biasa. Sekitar awal tahun 2009 warga, aparat desa dan Perhutani secara massal berupaya untuk membasmi kera dengan mendatangkan beberapa orang suku Badui untuk memburu kera di Bukit Menoreh.

Secara khusus, pihak Perhutani yang kami kirimi proposal bantuan penanggulangan gangguan kera. Mereka kemudian secara khusus juga mengundang suku Badui yang terkenal dengan ketrampilan dan keahliannya sebagai pawang kera. Sebanyak 9 orang datang. Naik ke kawasan bukit Menoreh dan berkemah di sana,” kenang Dalil.

Sembilan orang suku Badui ini, setelah membangun tenda dan berkemah mengawali perburuan ratusan kera di kawasan Bukit Menoreh dengan ritual yang dipimpin oleh sang kepala suku Badui. Sebanyak tiga tenda mereka dirikan tiga titik yang dikenal warga sebagai sarang dan tempat beranaknya sang kera beranak pinak.

Ketiga titik sarang yang menjadi sasaran itu adalah di lereng Bukit Menoreh yang dikenal warga sebagai Kawasan Watu Putih, di lereng Menoreh di Desa Ngargogondo dan lereng Bukit Menoreh di Desa Majak singi.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Ritual mereka cukup unik. Sambil memanjatkan doa-doa dan pujian, kepala suku dan delapan para anggota suku badui meminum kelapa muda dicampur dengan cabe digunakan untuk membasuh muka mereka. Kemudian perburuan kera-kera pun dimulai,” jelasnya.

Awalnya, warga merasa lega karena setiap harinya kesembilan orang dari suku Badui itu berhasil menangkap paling tidak sebanyak kurang lebih antara 60 sampai 75 ekor kera. Kera-kera mulai dari yang masih kecil, dewasa hingga tua serta baik yang berjenis kelamin jantan maupun betina berhasil ditangkap dengan alat jaring dimasukan ke dalam kotak besi kecil.

Ratusan kera yang ada di dalam kotak besi kecil itu kemudian ditata lalu dimasukan ke truk dan dikirim ke hutan tempat suku Badui tinggal. Kegiatan itu berlangsung selama satu bulan dan awalnya tidak menemui satu kendala apapun.

Mitos kera-kera yang ada di Perbukitan Menoreh bukan kera biasa bisa juga dipercaya. Suku badui yang pernah memburu dan menangkapi kera-kera di Lereng Menoreh pun angkat tangan.

Sebanyak 9 orang suku badui pada 2009 lalu khusus didatagkan ke Borobudur untuk membasmi hama kera di Perbukitan Menoreh. “Sebulan di Menoreh sudah ratusan ekor kera ditangkap,” kata Dali, sespuh Desa Ngargogondo Kecamatan Borobudur.

Sampai akhirnya, ada kejadian mistis aneh yang menggegerkan warga. Kejadian aneh muncul ketika sang kepala suku Badui berhasil menangkap seekor kera yang diyakini sebagai dedengkot atau kepala suku dari kawanan kera yang ada di Bukit Menoreh itu.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Saat berhasil dijaring, kera yang memiliki jenggot panjang itu wajahnya tiba-tiba berubah menjadi wajah manusia.

“Wajahnya berubah jadi manusia yang menangis. Yang mengherankan wajah manusianya adalah wajah ayah dari sang pawang kepala suku Badui itu. Merasa teringat ayahnya yang di rumah, sang kepala suku langsung ikut menangis dan melepaskan kera yang dianggap para warga sebagai Mbah Jenggot itu,” jelasnya

Usai kejadian itu, warga merasa was-was dan di selimuti rasa ketakutan yang berkepanjangan. Hingga akhirnya kesembilan orang, termasuk kepala suku Badui memutuskan diri untuk pulang ke tempat asalnya. Warga, pihak pengelola hotel, homestay dan losmenpun karena takut akhirnya melepas kera-kera yang sempat mereka pelihara dan mengembalikan kera ke Kawasan Bukit Menoreh, Kabupaten Magelang. (tim)

About The Author

  • Penulis: Marisa Oktavani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less