Berbagi dan Tetap Lestari, Idul Adha Di Ringinputih Borobudur Berjalan Unik

BNews–MAGELANG– Idul Adha pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”. Dimana kaum muslim yang sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah.

Selain itu, Idul Adha juga dinamakan sebagai “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka diberi kesempatan untuk berkurban; yaitu dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Ada yang unik  saat perayaan Idul Adha di Padukuhan Ringinputih, Dusun Kanggan, Desa Wringinputih.

Untuk prosesi relatif sama, sholat Ied di pagi hari diteruskan penyembelihan hewan kurban dan kerja bakti dalam pemotongan daging sapi dan kambing.

Yang paling unik di sini adalah kemasan daging yang digunakan. Masyarakat di Padukuhan Ringinputih menggunakan kemasan besek dari bambu.

Bekerja sama dengan Bank Sampah Rumat Jagat Ringinputih dan PAMOR (Paguyuban Muda-Mudi Ringinputih) berinisiatif untuk menggunakan kemasan yang ramah lingkungan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Menurut koordinator Bank Sampah Ringinputih, Wasisto dan Dwias Panghegar, tujuan dari penggunaan besek bambu ini adalah; pertama, kemasan besek sangat ramah lingkungan, kemasan ini bisa terurai 5 sampai 7 bulan di tanah.

“Sedangkan kemasan plastik membutuhkan ratusan tahun untuk terurai di tanah. Kedua, kemasan besek ini bisa digunakan kembali untuk berbagai fungsi, seperti ; tempat bumbu dapur, tempat alat masak maupun sebagai tempat semai tanaman. Ketiga, kemasan daging lebih bersih dan terjamin,” katanya.

Kalu besek bambu ini, lanjutnya bebas dari timbal yang biasa ada di kemasan plastik. Ke empat, menyejahterakan pengrajin besek bambu di sekitar desa.

“Bayangkan, apabila semua menggunakan kemasan besek bambu, tentu pengrajin sekitar Desa Wringinputih akan kebanjiran order dan mampu membantu ekonomi kaum rentan marjinal,” imbuhnya.

Memang dari segi biaya, menurutnta akan lebih mahal jika dibandingkan menggunakan kemasan plastik. Namun sebanding dengan upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar Desa.

“Alhamdulillah masyarakat sangat mendukung dengan penggunaan kemasan Besek Bambu dan berinisiatif akan menggunakan di tahun berikutnya,” terangnya.

Bank Sampah Rumat Jagat yang mempunyai motto “Ubah Sampah Menjadi Berkah”; berharap program ini sebagai upaya serius untuk edukasi pengurangan sampah kepada masyarakat sekitar dan bisa sebagai inspirasi daerah lain untuk bisa mengurangi dan mengelola sampah mulai dari lingkungannya sendiri. (bsn)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!